Bedil di ArtJog 8, 2015

From Lifepatch - citizen initiative in art, science and technology
Jump to: navigation, search
Poster Publikasi ArtJog 8

Pada bulan Juni 2015, Lifepatch berpartisipasi sebagai seniman undangan di ArtJog edisi ke 8. Berikut informasi lengkap mengenai ArtJog 8 dan partisipasi Lifepatch didalamnya.

Tentang Art Jog

Berbeda dari artfair pada umumnya, ART|JOG (Art Jogja) dikenal sebagai artfair-nya para seniman di mana mereka bisa terlibat secara aktif memamerkan karya seni rupa yang dimilikinya. Lebih dari itu, ART|JOG juga berupaya memfasilitasi perkembangan potensi seni rupa yang ada, mulai dari seniman muda berbakat hingga perupa papan atas. ART|JOG sekaligus menjadi semacam lokomotif pergerakan seni rupa, baik itu nasional hingga internasional. Tahun 2015 merupakan kali kedelapan penyelenggaraan ART|JOG, setelah sebelumnya ART|JOG berlangsung sukses dan mendapat atensi tinggi dari publik. Akulturasi antara tradisi budaya Jawa yang kental, multikulturalisme, gerak seni rupa yang dinamis serta destinasi pariwisata beragam kalangan menjadikan Yogyakarta sebagai tempat yang tepat bagi perhelatan ART|JOG. Selain itu, Yogyakarta dikenal sebagai dapurnya produksi seni rupa kontemporer di kawasan Asia Tenggara.

Art Jog 8

Kuratorial

Tahun ini adalah pagelaran ART|JOG yang kedelapan.

Angka ‘8’ adalah bilangan bulat berupa garis tak terputus dalam sebuah rangkaian tak terhingga, sebuah refleksi aliran dan keabadian yang menjadi inspirasi ART|JOG tahun ini.

Figur ini mewakili jalinan abadi tak terputus yang membawa kita kepada Fluxus, gerakan artistik yang berawal pada 1960-an. Dari bahasa Latin yang berarti “alir, fluks” (kata benda); “mengalir, likuid” (kata sifat) - Fluxus adalah jaringan internasional yang terdiri dari seniman, komposer dan desainer yang menggabungkan beragam media dan disiplin artistik. Sebuah gerakan anti-seni yang menghilangkan batas antara penonton dan karya. Beberapa seniman ternama Fluxus diantaranya Yoko Ono, George Maciunas, John Cage, Christo dan George Brecht.

Fenomena Fluxus tetap menginspirasi karya kontemporer, menjadikannya relevan hingga kini seperti saat ia pertama kali mengguncang dunia seni 50 tahun lalu. Kami memilih “Infinity in Flux” sebagai tema untuk ART|JOG|8 dan mengundang seniman untuk menghasilkan dan menampilkan karya-karya interaktif yang melibatkan berbagai bahan, tema dan indra; demi interaksi yang tak terbatas hanya pada visual melainkan juga gerak, suara, aroma, rasa, dll yang meluncurkan ekspresi multi-indra dan meniadakan batasan antara seniman dan penonton.

Lebih dari semata merayakan Fluxus, “Infinity in Flux” menyadarkan pentingnya keberadaan karya seni yang “tak terbatas” di tengah dunia yang semakin tak berjarak; karya seni yang tidak lagi dibatasi oleh singularitas media – karya yang melibatkan dan memprovokasi semua indra, serta membawa penonton larut dalam seni.

Penyelenggara

  • CEO: Heri Pemad
  • Direktur: Satriagama Rakantaseta
  • Keuangan: Putragama Hiangsena, Ririk Safitri, Septi Wulandari
  • Kurator: Bambang ‘Toko’ Witjaksono
  • Ko. Kurator: Ignatia Nilu
  • Direktur Artistik: Heri Pemad
  • Manajer Produksi: Sari Handayani
  • Editor & Penerjemah: Donna Miranti
  • Manajer Publikasi: Hamada Adzani
  • Publikasi dan Komunikasi: Dian Puspita, Tiyassari Basara, Septi Setyawati
  • Desainer Grafis: Gema Yugi
  • Database: Trien ‘iien’ Afriza, Dhona Shintaningrum, Woro Kemuning Maurensi, Arif Budiman, Savytri Ika Dewi Puspitasari
  • Exhibition Venue, Artwork, Installation: Riki Zulkarnaen
  • Venue Engineering, Warehousing & Transportation: Gunawan, Gunadi
  • Supporting Events & Side Programs: Erfianto Wardhana
  • Dokumentasi: NoMaden Studio
  • Teknologi Informasi: Ferryanto Hadi
  • Dokumentasi: Studio NoMaden

Program dan Partisipan

ART|JOG (Art Jogja) selama ini selalu identik dan dikenal sebagai bursa seni para seniman. Tempat para seniman baik lokal maupun internasional bisa terlibat secara aktif dalam memamerkan karya yang dimiliki. Tak hanya seniman papan atas, ART|JOG juga selalu berupaya memberi ruang pada para seniman muda Indonesia agar bisa menunjukkan potensi yang dimiliki. Tahun 2015 menjadi kali kedelapan ART|JOG digelar. Mengangkat tema ‘Infinity in Flux: The Unending Loop that Bonds the Artist and the Audience’, ART|JOG|8 akan diselenggarakan dari tanggal 6-28 Juni 2015 di Taman Budaya Yogyakarta.

Selama masa penyelenggaraan, ART|JOG|8 akan membawakan empat program utama, yakni Special Presentation; Commission Works; Art Fair; dan Young Artist Award. Melalui program pertama, Special Presentation, ART|JOG akan menyuguhkan karya seniman internasional yang biasanya hanya dapat dilihat melalui media informasi di dalam ruang pamer. Program ini diharapkan bisa menjadi sarana publik untuk mengetahui perkembangan seni rupa internasional sekaligus menumbuhkan partisipasi terhadap wacana seni rupa.

Kali ini Yoko Ono, seniman intermedia; penyanyi; serta aktivis perdamaian asal Jepang akan mengisi Special Presentation ART|JOG. Ia dipilih karena turut berpartisipasi dalam gerakan Fluxus di tahun 1960-an, relevan dengan tema yang diangkat ART|JOG|8. Sebab meski tidak resmi bergabung dengan kelompok Fluxus, Yoko Ono banyak memberikan saran dan kontribusi pada gerakan ini. Sampai saat ini, karya-karya yang menandai nama Yoko Ono di dunia seni diantaranya Cut Piece (1964), Grapefruit (1964), Cut Tree (1981), serta berbagai album; video; dan puisi. Ia pun turut menginisiasi gerakan-gerakan anti-perang baik melalui seni maupun media lainnya. Sebagai seniman intermedia, ia juga banyak memproduksi karya seni instalasi yang membuat pengunjung dapat berinteraksi dengan karya-karyanya.

Program berikutnya, Commission Work, menjadi medium bagi karya yang khusus dipersiapkan oleh Commission Artist atau Artis Komisi untuk ART|JOG. Program ini dibuat sebagi penanda ikon ART|JOG yang memiliki tema berbeda tiap tahunnya. Pun dengan berkontribusi sebagai artis komisi, diharapkan akan terbuka jaringan yang lebih luas bagi seniman tersebut dalam mengembangkan kapabilitasnya.

Indieguerillas adalah duet artis yang digawangi oleh Miko Bawono dan Santi Ariestyowanti akan menjadi pengisi Commission Work di ART|JOG kali ini. Indiegurillas berasal dari kata indie yang berarti independen dan guerillas yang berarti gerilyawan. Indieguerillas juga dapat dimaknasi sebagai ‘gerilyawan yang bekerja secara mandiri’. Ikon populer dari buku komik, tato, street art, video game, dan banyak lainnya dielaborasi oleh Indieguerillas baik melalui lukisan, patung, mural, animasi, atau instalasi. Penguasaan berbagai medium serta kolaborasi teknik analog dan digital pun sangat terlihat dalam setiap karyanya.

Tak berhenti di situ, menjadi bagian dari masyarakat kontemporer Yogyakarta juga menginspirasi mereka dalam pembuatan karakter khas Indieguerillas. Ikon-ikon sejarah Jawa seperti tokoh perwayangan banyak dijadikan karakter yang mengkritisi absurdnya kehidupan modern dalam karya-karya mereka. Sadar telah menjadi ‘happy victims’ dari gaya hidup yang dipilih, mereka menjadikan budaya urban sebagai inspirasi dalam berkarya. ‘Menertawakan diri sendiri’ menjadi cara mereka mengritisi dan memarodikan budaya-budaya urban yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Miko dan Santi pun konsisten menjadikan kritik terhadap budaya urban sebagai konsep karya mereka untuk ART|JOG|8. Nantinya, karya-karya yang disajikan akan mengajak para penonton untuk terlibat memainkan, menjalankan, dan mengoperasikan seri tersebut. Sebab seri karya tersebut baru akan ‘hidup’ apabila pengunjung ikut berpartisipasi aktif di dalamnya.

Dalam poin selanjutnya, Art Fair atau bursa seni, akan dipamerkan karya-karya para seniman berbakat yang sebelumnya telah diseleksi melalui mekanisme open call application dan undangan. Melalui mekanisme ini panitia menerima 850 aplikasi meliputi 1300 karya. Tetapi yang akan disuguhkan di ruang pamer ART|JOG|8 hanya lah sekitar 90 karya baik dari seniman lokal maupun internasional.

Terakhir, Young Artist Award menjadi sebuah ajang penghargaan untuk seniman muda berusia maksimum 33 tahun yang berpartisipasi dalam gelaran ART|JOG. Program ini sengaja dirancang sebagai bentuk apresiasi atas usaha para seniman tersebut dalam berkarya. Tak hanya menjadi bentuk apresiasi, melalui program ini diharapkan para pemenang termotivasi untuk mengembangkan kemampuan dan memperluas jaringan mereka dalam berkesenian.

Di samping program utama, tahun ini ART|JOG juga menyiapkan beberapa program pendamping bagi pengunjung yang ingin tahu lebih banyak dan mendalam mengenai ART|JOG|8. Program-program tersebut diantaranya:

  • Tur Kuratorial: Program yang dirancang untuk memenuhi keingintahuan pengunjung mengenai pelaksanaan ART|JOG|8. Seluk beluk ART|JOG|8 mulai dari tema, konsep kuratorial, karya, dan lainnya bisa ditemukan dalam program ini.
  • Temu Seniman: Program ini dirancang untuk menyajikan bagaimana proses kreatif seorang seniman dalam proses pembuatan karya. Lewat program ini akan terbuka kesempauan untuk berbagi antara pengunjung dan seniman.
  • Public Screening: Pemutaran film yang digagas untuk menandai gerakan fluxus sebagai tema besar ART|JOG kali ini.

Semua rangkaian program pendamping di atas gratis dan terbuka untuk umum, tapi pengunjung tetap akan dikenakan tiket masuk area pameran.

Partisipan

COMMISSION WORK

Indieguerillas/Yogyakarta

SPECIAL PRESENTATION

Yoko Ono/USA

ART FAIR

A
  • Aaron Taylor Kuffner/USA
  • Abshar Platisza/Bandung
  • Adam de Boer/USA
  • Ade Darmawan/Jakarta
  • Aditya Novali/Surakarta
  • Agan Harahap/Yogyakarta
  • Agung Prabowo/Bandung
  • Agus Iswahyudi/Jakarta
  • Anang Saptoto/Yogyakarta
  • Angki Purbandono/Yogyakarta
  • Arya Pandjalu/Yogyakarta
  • Asmudjo Jono Irianto/Bandung
  • Ayu Arista Murti/Yogyakarta
B
  • Bejo Wage Suu/Jawa Tengah
  • Benny Wicaksono/Surabaya
  • Bilba Dolby Sakula/Jakarta
  • Boedi Widjaya/Singapura
  • Budi Pradono/Jakarta
C
  • Cake Industries/Australia
  • Chong Kim Chiew/Malaysia
  • Chris Chong Chan Fui/Malaysia
  • Collective DING/France
D
  • Dadlan Afrelno/Yogyakarta
  • Dea Aulia Widyaevan/Bandung
  • Dipo Andi/Yogyakarta
  • Dodik Wahyu S/Yogyakarta
E
  • Eddi Prabandono/Yogyakarta
  • Eko Nugroho/Yogyakarta
  • Eko Prawoto/Yogyakarta
  • Eldwin Pradipta/Bandung
  • Entang Wiharso/Yogyakarta
F
  • Fajar Kunting/Yogyakarta
  • Franziska Fennert/Yogyakarta
H
  • Hana Monika Kumendong/Jakarta
  • Handiwirman/Yogyakarta
  • Harry Jaran/Yogyakarta
  • Hendra “Blankon” Priyadhani feat. Rendermen Video/Yogyakarta
  • Heri Dono/Yogyakarta
I
  • I Made Widya Diputra/Yogyakarta
  • I Nyoman Masriadi/Yogyakarta
  • Ivan Christianto/Jakarta
  • Ivan Sagita/Yogyakarta
  • Iwan Effendi feat. Papermoon Puppet Theatre/Yogyakarta
J
  • Japan Media Art/Japan
  • Jatiwangi Art Factory/Jawa Barat
  • Jay Subiakto/Jakarta
  • Jim Allen Abel/Yogyakarta
  • Jimmy Mahardika/Yogyakarta
  • Jogja Video Mapping Project/Yogyakarta
  • Jompet Kuswidananto/Yogyakarta
K
  • KA’a/Amerika, Perancis, Austria, Singapura
L
M
  • Malcolm Smith/Yogyakarta
  • Marco Cassani/Bali
  • Mark Justiniani/Filipina
  • Maruto Ardi/Bandung
  • Melati Suryodarmo/Jawa Tengah
  • Mella Jaarsma/Yogyakarta
  • Mohammad Arifian Rohman/Yogyakarta
  • Mulyana/Yogyakarta
N
  • Nandanggawe/Bandung
  • Nasirun/Yogyakarta
O
  • Olga Rindang Amesti & Robet Bayu/Surakarta
P
  • Prison Art Programs/Yogyakarta
  • Popok Tri Wahyudi, Yayasan Gaia and medical&non-medical volunteer/Yogyakarta
  • Prizqy Nada Qinthara/Jakarta
R
  • Raphael Donny/Yogyakarta
  • Rocka Rdaipa/Yogyakarta
  • Rudy Hendriatno/yogyakarta
S
  • Samsul Arifin/Yogyakarta
  • Sara Nuytemans/Yogyakarta
  • Setu Legi/Yogyakarta
  • Sinta Tantra/London
  • Stefanie Wuschitz/Vienna
T
  • Terra Bajraghosa/Yogyakarta
  • Tita Rubi/Yogyakarta
  • T-KA_T-KI (Trinodal Group+1)/UK-Yogyakarta
V
  • Venzah Christiawan/Yogyakarta
W
  • Wimo Ambala Bayang/Yogyakarta
X
  • xxxlab/Yogyakarta
Y
  • Yudi Sulistyo/Yogyakarta
  • Yuli Prayitno/Yogyakarta
Z
  • Zulfian Amrullah/Yogyakarta

Karya Bedil di Pameran ArtJog 8

Instalasi Bedil di ArtJog 8 sedang digunakan oleh pengunjung
Tampilan permainan Bedil

Bedil adalah sebuah instalasi interaktif dalam bentuk sebuah permainan tembak - tembakan (bedil - bedilan). Instalasi ini ditampilkan di pameran ArtJog 8, 2015 yang berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta.

Abstrak

Bedil merupakan permainan yang memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk berperan sebagai penumpas kejahatan di Yogyakarta pada tahun 2044. Pengunjung mendapatkan sebilah senjata untuk dapat menghancurkan para oknum yang diduga kuat telah berperan dalam kehancuran infrastruktur kota Yogyakarta di masa depan. Pengunjung dapat bermain sendiri atau (lebih diutamakan) bermain bersama dengan pengunjung lain untuk menuntaskan permainan ini. Instalasi ini mencoba menampilkan permasalahan perkembangan kota dalam sebuah permainan yang memberikan pengalaman dalam bentuk fisik dan virtual kepada para pengunjung.

Tim

Instalasi ini dihasilkan melalui kolaborasi antar anggota Lifepatch yaitu:

dan dukungan besar dari:

Jalan Cerita

Salah satu senjata mainan yang digunakan dalam karya Bedil

Berikut jalan cerita dari permainan Bedil: Pada tahun 2044 di sebuah kota bernama Yodhyakarta, Tikus Marakus seorang milyarder muda tanpa bakat mencoba mengambil alih kekuasaan kota. Dia mencuri teknologi - teknologi yang dikembangkan oleh Prof. Ir. Mpus Kalkulus, M.Sn. dan menggunakan teknologi tersebut untuk ambisi pribadinya. Salah satu teknologi yang dia gunakan adalah Dupa Penyebar Lupa yang menyebabkan semua warga kota lupa terhadap keindahan kotanya dan menurut pada perintah Tikus Marakus. Untunglah masih ada satu vaksin tersisa sehingga Prof. Ir. Mpus Kalkulus, M.Sn. terbebas dari pengaruh Dupa Penyebar Lupa. Sebelum Tikus Marakus melangsungkan aksi terakhirnya yaitu mengubah kota Yodhyakarta menjadi lautan beton, Prof. Ir. Mpus Kalkulus, M.Sn. mengembangkan teknologi baru berupa Benalu Masa Lalu untuk membawa beberapa warga dari masa silam di tahun 2015 ke masa suram di 2044. Warga yang belum terkena pengaruh Dupa Penyebar Lupa diberikan Senjata Peringkus Tikus, senjata mainan yang dikembangkan khusus oleh Prof. Ir. Mpus Kalkulus, M.Sn. untuk melawan Tikus Marakus serta teknologi yang disalahgunakannya. Dalam waktu yang tersisa, warga harus menghentikan aksi busuk dan akal bulus Tikus Marakus.

Walau telah berupaya keras, Prof. Ir. Mpus Kalkulus beserta warga masa silam tidak dapat menghentikan aksi busuk dan akal bulus Tikus Marakus. Menyadari kekalahannya, Prof. Ir. Mpus Kalkulus, M.Sn. menggunakan Benalu Masa Lalu untuk kembali ke masa silam di tahun 2015 untuk mencoba mencegah masalah sebelum menjadi masalah.

Dokumentasi Foto

Berikut dokumentasi foto karya Bedil di pameran Art Jog 8 yang berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta:

Dokumentasi Video Karya Bedil di Art Jog 8

Dokumentasi foto sesi Meet The Artist di pameran Art Jog 8 tanggal 14 Juni 2015:

Dokumentasi Desain dalam permainan Bedil di pameran Art Jog 8:

Referensi dan Pranala Luar