Biennale Jogja XIII - 2015

From Lifepatch - citizen initiative in art, science and technology
Jump to: navigation, search
Poster Publlkasi Biennale Jogja XIII - 2015

Seluruh informasi mengenai Biennale Jogja disadur dari situs resmi Biennale Jogja pada tanggal 24 Oktober 2015.

Konsep Kuratorial

Hacking Conflict

“Kekacauan adalah teman sejati demokrasi” — William Blake.

Nukilan di atas saya ucapkan saat mempresentasikan rancangan kasar (draft) tema kuratorial saya untuk program Pameran Utama Biennale Jogja XIII di sebuah diskusi tertutup yang diselenggarakan oleh Yayasan Biennale Yogyakarta pada tanggal 23 Desember 2014. Nukilan tersebut saya lontarkan setelah memaparkan teori agonisme untuk memberikan gambaran sederhana atas rumusan tema yang masih berantakan. Beberapa saat setelah menukil kalimat itu, saya sadar telah keliru.

Meski begitu, saya tak buru-buru membetulkannya. Bagi orang yang mempelajari karya-karya William Blake secara mendalam, pasti tahu bahwa nukilan di atas keliru. Tulisan yang benar adalah “opposition is true friendship” atau oposisi adalah pertemanan yang sejati. Kesalahan ini terjadi karena tiga hal: saya lupa teks aslinya, penerjemahan yang keliru, dan grogi karena di tengah presentasi diburu oleh ibu direktur untuk segera masuk ke sistem kuratorial.

Meskipun nukilannya keliru, para hadirin bisa memahami konsep tema yang saya ajukan dan memicu munculnya diskusi yang sangat inspiratif. Setidaknya, pemahaman saya atas teori agonisme pada tema yang sedang saya kembangkan tidak salah, bahkan saya mempraktekannya meski secara tidak sadar.

Lantas apa itu agonisme dan setan apa pula yang menautkannya dengan wacana hubungan antara Indonesia dan Nigeria?

Perjalanan saya bersama Lisistrata Lusandiana (peneliti Yayasan Biennale Jogja) di Nigeria selama 30 hari lalu (5 November – 5 Desember 2014) bertujuan untuk memeriksa lebih dalam hasil riset pertama dari kunjungan sebelumnya oleh Yustina Neni (Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta), Rain Rosidi (Direktur Artistik) dan Arham Rahman (Redaktur Newsletter The Equator). Selain itu, saya juga tertarik untuk melihat lebih jauh tentang intervensi artistik di Nigeria. Kami pun berbagi tugas. Saya akan meneliti tentang dinamika seni dan budaya, sedangkan Lisis mempelajari wajah atau karakter sosial, budaya, ekonomi dan politik Nigeria secara luas yang kemudian saya elaborasi untuk menentukan tema.

Tim BJ XIII memutuskan untuk membangun sebuah tema yang tidak sekadar mencari persamaan antara Indonesia dan Nigeria, tetapi juga mencari narasi-narasi yang sedang dialami atau sedang dibicarakan oleh kedua negara tersebut. Untuk itu, hal utama yang kami lakukan dalam penelitian itu adalah mencoba merasakan dan mengalami secara langsung dinamika kehidupan di Nigeria. Ada 4 daerah yang kami kunjungi, yaitu Abuja -ibukota pemerintahan,

Lagos -kota terbesar, Abeokuta, sebuah kota kecil tempat kelahiran Fela Kuti dan Wole Soyinka yang tak jauh dari Lagos dan selama 2 hari sempat numpang di rumah seorang seniman yang juga kepala adat di sebuah desa kecil di Osogbo. Namun, kami menghabiskan lebih banyak waktu di Lagos karena geliat seni kontemporernya yang lebih dinamis. Melalui rekomendasi yang kami dapatkan, daftar tersebut mengantarkan kami ke hal-hal yang lebih luas sehingga membuat kami menjadi cukup sibuk selama sebulan. Kami mengunjungi semuanya secara langsung tanpa asisten. Kami mencoba makan apa yang mereka makan, mengendarai berbagai macam angkutan umum, bernegosiasi harga, berpindah-pindah tempat tinggal dan ngobrol dengan siapapun mulai dari tokoh budaya, seniman, aktivis, sopir bus, anak kecil, pengusaha, musisi, pegawai hotel, penjual makanan kaki lima hingga tentara.

Dalam perjalanan itu, ada dua kata yang sering kami temui, yaitu republic dan yang cukup mengejutkan adalah kata intervention, karena sebelumnya saya memang ingin meneliti soal itu di Nigeria. Kata republic digunakan baik oleh musisi-aktivis Fela Kuti (Kalakuta Republic, rumah kolektifnya yang sekarang menjadi museum), maupun nama penerbit buku alternatif Cassava Republic, toko hp Cellular Republic hingga rumah makan cepat saji Chicken Republic. Sedang kata intervention sering digunakan oleh seniman, budayawan, sastrawan dan penulis dalam karya-karyanya.

Kami lalu sepakat untuk menjadikan 2 kata tersebut sebagai acuan observasi. Melalui serangkaian pembacaan literatur dan wawancara, kami juga akhirnya memutuskan untuk menelusuri hal-hal yang mendasari mengapa dua kata tersebut demikian “populer” di sana lewat pengalaman tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat.

Indonesia dan Nigeria adalah negara bekas jajahan yang baru benar-benar lepas dari rezim otoriter di akhir tahun 90-an. Bila berakhirnya rezim otoriter di Indonesia disebabkan oleh pelengseran rezim Orde Baru pada tahun 1998 melalui serangkaian aksi massa (protes masyarakat) maka di Nigeria situasinya lebih unik. Rezim otoriter Nigeria yang dikendalikan oleh kalangan militer justru diakhiri oleh pihak militer itu sendiri. Pergantian rezim tersebut pertama-tama dimotivasi oleh meninggalnya pemimpin tertinggi Nigeria saat itu, Jendral Sani Abacha, karena serangan jantung di tahun 1998. Seorang perwira militer yang juga merupakan Menteri Pertahanan Nigeria di era Abacha, Mayor Jendral Abdulsalami Abubakar, mengambil alih kekuasaan dan mengakhiri rezim militer dengan menggelar Pemilu.

Pasca-keruntuhan otoritarianisme tersebut, negara dan rakyat sama-sama melakukan eksperimen atas sistem demokrasi. Mereka mencari rumusan demokrasi yang ideal dan otonom menurut pemahaman atau kehendaknya masing-masing. Hal ini menciptakan sebuah kesenjangan infrastrukur sosial dan budaya. Situasi ini menjadi semakin kacau dengan adanya pemahaman sebagai bangsa besar (terdiri atas berbagai macam suku, tradisi dan bahasa) yang memiliki sumber daya alam melimpah sehingga berusaha untuk mengejar ketertinggalan dan harapan menjadi negara adidaya yang demokratis.

Dalam praktiknya, kebebasan individu untuk menyatakan pendapat–bagi sebuah bangsa yang terdiri dari beragam suku dan bahasa–adalah ladang subur untuk memanen oposisi. Kebebasan dan kesatuan dalam keberagaman, ibarat bensin dan air yang jika tidak diolah secara cerdik, akan menjadi “racun mematikan” bagi sebuah keselarasan hidup. Konflik-konflik yang muncul seringkali dilihat sebagai momok menakutkan yang harus diberantas atau bahkan dihindari. Tanpa disadari, hal ini justru menciptakan masyarakat yang moralistik dan melupakan keberagamannya–tepatnya (sebut saja) sebuah masyarakat yang simetris, kalimat bernada ironi dari desain kaos DGTMB (Daging Tumbuh). Dari sinilah saya kemudian tertarik dengan teori agonisme. Dalam teori ini, konflik harus selalu dilihat secara positif. Perlu dipinang dan dipahami dalam kehadirannya yang mutlak. Sebagai hal penting yang musti dikelola sehingga menciptakan sebuah keharmonisan yang tak terduga. Meski agonisme merupakan sebuah teori politik, saya ingin melihatnya secara luas, yaitu berdasar pada sendi-sendi kehidupan yang dialami oleh masyarakat saat ini. Demokrasi tak melulu berada pada tataran politik, tetapi perlu dipahami sebagai cara hidup bersama dalam berbagai macam perbedaan dan karut-marut infrastruktur ekonomi, sosial dan teknologi.

Pada ranah teknologi, kesenjangan dalam hal pendistribusian dan sifatnya yang asimetris, mendorong lahirnya inovasi baru yang penuh intrik; sebuah inovasi palsu dengan nilai yang unik. Inovasi-inovasi ini tidak diciptakan oleh pencarian atas hal-hal yang belum ada, tetapi lahir dari keterbatasan dan kesalah-kaprahan. Dalam sebuah kerja bersama atau kolaborasi—sistem kerja yang sedang digemari karena menawarkan semangat kebersamaan—kesalahpahaman terhadap sebuah gagasan justru seringkali menghasilkan karya yang secara artistik tidak terduga. Ia memiliki nilai kebaruan karena sifatnya yang unik. Peluang atau celah muncul karena adanya bentuk yang tidak terstruktur dengan rapi. Proses penciptaan kemudian dikerjakan berdasarkan peretasan yang penuh improvisasi. Karena itu, dibutuhkan strategi yang taktis tapi spekulatif untuk meretas konflik menjadi pola asimetris yang simetrik (atau harmoni dalam chaos). Hal ini patut dicoba dengan membedah dan menghadirkan biji-biji pahit konflik dan kekacauan melalui kerja seni-budaya yang imajinatif, terbuka dan dinamis untuk kemudian dinikmati, dipikirkan dan diretas bersama-sama.

Pada Program Pameran Utama Biennale Jogja XIII nanti saya akan mengundang para pelaku seni, budaya dan berbagai bidang terkait lainnya untuk berkolaborasi bersama saya, menciptakan sebuah platform kerja berupa ruang aktivitas, baik dalam bentuk fisik maupun non-fisik. Ruang ini terdiri atas ruang pajang, studio kerja, kelas belajar, panggung tontonan dan pusat informasi yang simulatif. Melalui ruang tersebut, di bulan November yang cuacanya biasanya tak menentu itu, kami mengajak masyarakat untuk bermain, belajar dan bekerja secara bersama-sama untuk bereksperimen dengan konflik.

Rancangan Kerja

Pada intinya, pameran ini dirancang sebagai sebuah penciptaan karya kolaboratif yang sinergis dalam lingkup seni kontemporer secara luas (bukan hanya seni rupa). Disini kurator juga akan duduk bersama partisipan sebagai kolaborator dalam proses penciptaan. Kurator dan partisipan (seniman) dibayangkan sebagai sebuah kolektif seniman yang mengembangkan gagasan dan menciptakan karya seni bersama-sama dan terbuka melalui sebuah forum. Forum ini ditujukan untuk menciptakan sebuah proyek seni bersama sehingga karya-karya yang dihasilkan saling bertautan satu sama lain. Dalam hal ini tidak menutup kemungkinan seorang partisipan membuat karya sendiri, namun gagasan diperoleh atau dikembangkan melalui forum dan terbuka bagi partisipan lain untuk terlibat. Forum diselenggarakan secara online dan offline mulai minggu kedua di bulan Maret hingga Desember 2015.

Pameran ini (bisa disebut juga sebagai sebuah proyek seni kolektif) dirancang untuk menciptakan ruang-ruang konflik, permasalahan, yang mengintervensi publik secara artistik untuk berpartisipasi aktif sehingga membentuk opini-opini publik. Dengan ini, karya seni membuka peluang atas inisiatif, aspirasi dan distribusi wacana yang luas.

Secara fisik, ruang (situs) utama pameran disusun atas object-object yang membentuk sebuah struktur bangunan, sebuah site-specific installation. Bangunan ini memiliki ruang pajang, ruang pertunjukan, ruang kerja dan pusat informasi yang artistik dan instalatif, meliputi pemajangan karya seni, artefak dua dimensional dan tiga dimensional, kelas belajar, panggung, studio kerja, biro informasi dan toko. Ruang utama ini juga berfungsi sebagai pusat atau poros penyebaran karya-karya yang dilakukan dan diedarkan di ruang-ruang lainnya (satelit). Selain itu juga dibutuhkan sebuah ‘alat’ atau interaksi berupa permainan-permainan atau simulasi bagi pengunjung untuk terlibat aktif. Biro informasi berfungsi karya komunikasi yang menjadi panduan atas karya-karya yang ditampilkan baik yang berada di ruang utama dan di ruang publik (termasuk galeri seni atau ruang komunitas).

Program pameran ini juga akan mengirim seniman Indonesia untuk melakukan residensi selama 1 bulan di Nigeria pada bulan Juni dan mendatangkan seniman Nigeria ke Indonesia pada pertengahan bulan September hingga pertengahan bulan November. Program residensi ini lebih ditujukan untuk melakukan riset dan proses pengembangan kerja yang telah digagas dan didiskusikan sebelumnya di forum.

Pameran Utama

Pameran Utama Biennale Jogja XIII akan diselenggarakan pada tanggal 1 November sampai dengan 10 Desember 2015. Pameran ini untuk pertama kalinya dalam seri Equator dikuratori oleh seorang seniman, Wok The Rock yang ditunjuk oleh Direktur Artistik Rain Rosidi. Wok The Rock bekerjasama dengan kurator yang juga seniman asal Nigeria, Jude Anogwih dan peneliti Biennale Jogja Lisistrata Lusandiana.

Selepas penelitiannya di Nigeria, Wok The Rock tertarik untuk membahas permasalahan aktual yang sedang dihadapi oleh Nigeria dan Indonesia paska runtuhnya rejim militer di kedua Negara. Dengan membahas hal yang aktual diharapkan mampu menepis potensi munculnya pandangan-pandangan atau wacana yang stereotip tentang kedua Negara tersebut. Kritik atas praktik demokrasi yang labil kemudian menjadi acuan utama dalam mengembangkan tema. Melalui pameran seni ini, kurator dan seniman mengajak masyarakat bereksperimen dalam mendayagunakan konflik, ketidakteraturan, kesalahpahaman dan perbedaan karena keberadaannya yang mutlak dalam sistem demokrasi. Konflik selalu dilihat sebagai sebuah momok yang harus diberantas demi kehidupan yang harmonis. Kenyataannya, konflik akan selalu hadir dalam kehidupan demokratis karena semua orang berhak mengemukakan pendapatnya. Untuk itu, konflik harus dilihat secara positif. Sebagai hal penting yang dikelola sehingga menciptakan sebuah keharmonisan yang tak terduga.

Berlandaskan tema tersebut, kurator merancang bentuk pameran yang berupa ruang aktivitas. Ruang tersebut diciptakan bersama partisipan pameran dari beragam disiplin ilmu melalui proses kolaborasi. Sebuah forum diskusi intensif diselenggarakan setiap bulan untuk menggagas proyek-proyek seni secara bersama. Kerja kolaboratif ini dimaksudkan untuk membuahkan karya-karya yang sinergis dan mendorong munculnya konflik dalam proses penciptaan, sehingga tema pameran tak sekedar menjadi sebuah narasi. Pameran ini nantinya diharapkan mampu menciptakan ruang-ruang yang mengintervensi publik secara artistik untuk berpartisipasi aktif sehingga membentuk opini-opini publik. Dengan ini, karya seni membuka peluang atas inisiatif, aspirasi dan distribusi wacana yang luas.

Pameran Utama ini diikuti oleh 23 partisipan dari Indonesia dan 11 dari Nigeria. Mereka adalah Ace House Collective, Aderemi Adegbite, Agan Harahap, Amarachi Okafor, Anggun Priambodo, Anti Tank, Ardi Gunawan, Arief Yudi, Dodo Hartoko, Elia Nurvista, Emeka Ogboh, Emeka Udemba, Fitri Setyaningsih, Joned Suryatmoko, Kainebi Osahenye, ketjilbergerak, Lifepatch, Maryanto, Ndidi Dike, Olanrewaju Tejuoso, Punkasila, Rully Shabara, Segun Adefila, Serrum, Tarlen Handayani, Temitayo Ogunbinyi, Uche Okpa Iroha, Victor Ehikhamenor, Wukir Suryadi, Yudi Ahmad Tajudin, Yazied Syafa’at, Yustoni Volunteero dan Yusuf Ismail.

Forum diskusi partisipan telah mulai diselenggarakan pada bulan Mei, Juni dan Juli di Yogyakarta, Jakarta dan Lagos baik melalui pertemuan langsung (Forum Offline) maupun via Facebook Group. Forum ini akan diselenggarakan hingga bulan Desember 2015.

Pada bulan Juli lalu, 2 seniman Indonesia: Anggun Priambodo dan Maryanto melakukan residensi selama 2 minggu di Lagos, Nigeria untuk observasi dan produksi karya mereka. Selanjutnya 5 seniman Nigeria akan melakukan residensi selama 1 bulan di Yogyakarta pada bulan Oktober sampai dengan November.

Situs Pameran Utama menggunakan Pendopo Ajiyasa, Plaza JNM dan Plaza Kriya di Jogja National Museum. Ruang pameran yang bersifat semi-terbuka ini dirancang oleh kurator bersama seorang seniman/arsitek Iswanto Hartono. Format pameran yang berupa ruang aktivitas dan bersifat terbuka ini memungkinkan karya-karya yang dihasilkan bekerja bersama masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di lingkungan sekitarnya. Selama 40 hari, situs ini akan menjadi ruang interaksi aktif dengan berbagai macam kegiatan, pertunjukan dan peristiwa seni setiap minggunya. Jadwal kegiatan akan diterbitkan pada bulan Oktober melalui situs web, media sosial dan Newsletter Equator Biennale Jogja. Sampai jumpa di bulan November.

Seniman Partisipan Pameran Utama Biennale Jogja XIII - 2015

  • Ace House Collective (ID)
  • Aderemi Adegbite (NG)
  • Agan Harahap (ID)
  • Ahmett-Salina (Irwan Ahmett-Tita Salina) (ID)
  • Amarachi Okafor (NG)
  • Anggun Priambodo (ID)
  • Anti Tank (ID)
  • Ardi Gunawan (ID)
  • Arief Yudi (ID)
  • Dodo Hartoko (ID)
  • Emeka Ogboh (NG)
  • Emeka Udemba (NG)
  • Elia Nurvista (ID)
  • Fitri Setyaningsih (ID)
  • Joned Suryatmoko (ID)
  • Kainebi Osahenye (NG)
  • ketjilbergerak (ID)
  • Lifepatch (ID)
  • Maryanto (ID)
  • Ndidi Dike (NG)
  • Olanrewaju Tejuoso (NG)
  • Punkasila (ID)
  • Rully Shabara (ID)
  • Segun Adefila (NG)
  • Serrum (ID)
  • Tarlen Handayani (ID)
  • Temitayo Ogunbiyi (NG)
  • Uche-Okpa Iroha (NG)
  • Victor Ehikhamenor (NG)
  • Wukir Suryadi (ID)
  • Yazied Syafaat (ID)
  • Yudi Ahmad Tajudin (ID)
  • Yustoni Volunteero (ID)
  • Yusuf Ismail (Ucup) (ID)

Parallel Events BJ XIII: Proyek Seni Komunitas “BERTOLAK – BERSANDING”

Poster Parallel Event Biennale Jogja XIII - 2015

Proyek Seni Komunitas “Bertolak – Bersanding” adalah parallel events (PE) BJ XIII. Di bawah tema besar BJ XIII “Hacking Conflict” dengan Nigeria sebagai negara mitra, “Bertolak-Bersanding” menyasar dinamika konflik yang terjadi di tengah warga. Setiap komunitas warga memiliki persamaan masalah tapi sekaligus keunikan konteks yang berbeda-beda. Proyek seni ini memunculkan tawaran cara dan bentuk seni yang kritis berikut praktik artistik yang beragam, yang mengarah pada sikap mempertanyakan hegemoni yang dominan.

Proyek ini memberi peluang dan tantangan bagi kelompok atau perseorangan pelaku penggiat seni, budaya, aktivis sosial, akademisi, organisasi kemasyarakatan, untuk melakukan intervensi kreatif terhadap kemampuan warga dalam beradaptasi terhadap perubahan. Aksi-aksi seni dalam program PE tidak semata-mata tentang ‘melibatkan publik’, atau gagasan-gagasan non-hierarkis, melainkan bagaimana memanggungkan timpangnya sistem sosial dengan melakukan kerja-kerja seni melalui metode partisipatif dan kritik sosial.

Delapan kelompok yang terpilih sebagai peserta “Bertolak-Bersanding” membidik isu-isu umum seperti sampah, hubungan kewargaan, air, pemukiman, sumber daya alam, dan praktik seni tradisi melalui ragam penciptaan peristiwa seni. Metode seni komunitas menjadi cara mereka memberikan hentakan, koyakan, atau teriakan atas isu umum tersebut. Kerja seni mereka yang berbeda dengan aksi-aksi dalam isu yang sama, dengan cara mencebur di tengah warga diharapkan memberi cakrawala dan kesadaran bagi warga dan peserta itu sendiri.

Selama proses bekerja (berkarya), peserta Bertolak-Bersanding mengikuti loka karya penciptaan bersama praktisi seni komunitas Joned Suryatmoko dan seniman Moelyono. Kerja seni komunitas ini juga dipresentasikan di kampus UTY dan UKDW, serta disajikan secara langsung di tengah warga. Sebagai akhir dari program, akan juga dipamerkan dalam rangkaian BJ XIII di Jogja National Museum.

Kedelapan kelompok itu adalah:

  • Anang Saptoto dan Arsitektur Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) berkarya di Perumahan Sempu, Desa Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.
  • Arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana berkarya di Jetis, Sleman.
  • Kelompok Tiga berkarya di kawasan perkotaan Yogyakarta.
  • Paguyuban Sidji berkarya di Imogiri, Bantul.
  • Sanggar Seni R n B dan Titik Lenyap berkarya di Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta.
  • Teras Print dan Kulonprogo Printmaking berkarya di Kabupaten Kulonprogo.
  • Anak Wayang Indonesia berkarya di Kampung Mergangsan Yogyakarta.
  • Moansnake28 dan Art as Therapy berkarya di Bausasran Yogyakarta.

SenjataJahanam

Senjatajahanam adalah sebuah proyek kolaborasi yang dilakukan oleh Lifepatch dan Wukir Suryadi untuk Jogja Biennale XIII. Proyek ini diangkat dari karya Bedil yang dilaksanakan oleh Lifepatch pada perhelatan ArtJog 8 bulan Mei lalu. Senjatajahanam mengangkat senjata sebagai sebuah simbol konflik yang sangat nyata dalam kehidupan manusia. Proyek ini menggabungkan dua bentuk senjata, pistol mainan dan busur panah, yang kemudian diubah menjadi dua buah instrumen musik. Instrumen Senjatajahanam dimainkan oleh Wukir Suryadi dan Andreas Siagian, ditambah visual dari Budi Prakosa pada pertunjukan pembukaan Jogja Biennale XII. Setelah pertunjukan, kedua instrumen tersebut ditampilkan dalam bentuk sebuah instalasi di paviliun Wukir Suryadi.

Dokumentasi Foto

Dokumentasi Video

SKS - Sistem Kebut Sekolah - Partisipasi Lifepatch di Biennale Jogja XIII - 2015

Program SKS mengambil praktek – praktek yang dilakukan oleh komunitas – komunitas dan institusi kreatif dalam mengintervensi edukasi di Indonesia. Program ini mengajak para peserta untuk belajar bersama dalam modul pelajaran yang dikembangkan diluar kurikulum pendidikan formal. Modul pelajaran yang dikembangkan mengambil titik berat pada kemungkinan praktek interdisiplin dan peluang kolaborasi bagi praktisinya. Seluruh modul pelajaran dalam SKS mencoba menawarkan sebuah cara belajar ilmu pengetahuan yang aplikatif.

Dokumentasi

Berikut Jadwal Workshop SKS di Biennale Jogja XIII - 2015

Pd Pd an


Poster Publikasi Lokakarya Pd Pd an Biennale Jogja XIII - 2015

Deskripsi Acara

Sebuah lokakarya pemrograman audiovisual menggunakan Pure data, sebuah piranti lunak gratis dan sumber terbuka. Pure data menggunakan bahasa pemrograman visual yang memudahkan bagi pengguna non-programmer untuk menciptakan programnya masing-masing. Peserta diharapkan membawa laptop masing-masing. Durasi lokakarya selama 3 jam.

Detail Acara

Lokakarya berlangsung pada:

  • Hari/Tanggal: 3 November 2015
  • Waktu: 15:00 - 18.00 WIB.
  • Lokakarya bersifat gratis dan terbuka untuk umum bagi 8 peserta

Dokumentasi

Squaresynth DIY synthesizer


Poster Publikasi Lokakarya Squaresynth DIY Synthesizer Biennale Jogja XIII - 2015

Deskripsi Acara

Squaresynth adalah sebuah modul lokakarya yang dikembangkan oleh Lifepatch untuk memperkenalkan dasar-dasar praktik penciptaan bunyi dengan medium elektronik. Squaresynth menggunakan skematika Dual Oscillator dua langkah yang dapat dikembangkan dengan interaksi melalui sensor-sensor sederhana. Modul ini memberikan fleksibilitas kepada para peserta workshop untuk membangun sirkuit elektronik mereka sendiri. Fleksibilitas yang ditawarkan berupa pemilihan frekuensi suara, interaksi menggunakan knob, sensor cahaya, sensor kelembaban bahkan sensor biologis. Durasi lokakarya selama 4 jam.

Detail Acara

Lokakarya ini berlangsung pada:

  • Hari/Tanggal: 5 November 2015
  • Waktu: 15:00 - 19.00 WIB
  • Lokakarya dikenakan biaya pengganti material sebesar 50 ribu rupiah, terbuka untuk umum bagi 8 peserta.
  • Pendaftaran: http://goo.gl/forms/PrzoglSOi6

Bagi teman-teman yang sedang bokek, dapat menggunakan 2 tempat gratis yang disediakan khusus oleh Lifepatch. Kami berharap teman-teman lainnya yang mampu tidak mengambil tempat ini. Khusus bagi peserta wanita, akan mendapatkan sirkuit Squaresynth yang didesain ulang oleh Justyna Ausareny dengan bentuk kupu-kupu.

Dokumentasi

Worskhop Matematika dan Biologi


Poster Publikasi Lokakarya Matematika dan Biologi Biennale Jogja XIII - 2015

Deskripsi Acara

Sebuah lokakarya untuk mempelajari proses fermentasi dan matematika dalam sebuah permainan motorik. Durasi lokakarya selama 30 menit.

Detail Acara

  • Hari/Tanggal: 7 November 2015
  • Waktu: 15:00 - 15.30 dan 16.00 - 16.30 WIB
  • Lokakarya bersifat gratis dan terbuka untuk umum bagi 5 orang berumur 7-15 tahun.

Para peserta yang berminat diharap hadir sesuai tanggal dan waktu yang telah ditentukan diatas.

Dokumentasi

Workshop Pewarna Alami


Poster Publikasi Lokakarya Pewarna Alami Biennale Jogja XIII - 2015

Deskripsi Acara

Workshop pewarna alami - Lokakarya ini mengajak peserta untuk mengenal dan memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati atau sumber daya alam sekitar. Peserta akan membuat berbagai macam pewarna yang dapat digunakan untuk melukis, membatik maupun makanan dan minuman. Durasi lokakarya selama 2 x 2 jam dalam 2 hari yang berbeda.

Detail Acara

  • Hari/Tanggal: 21-22 November 2015
  • Waktu: 15:00 - 17.00 WIB
  • Lokakarya dikenakan biaya pengganti material sebesar 10 ribu rupiah, terbuka untuk umum bagi 8 peserta.

Dokumentasi

Swakriya Citra Maya


Poster Publikasi Lokakarya Swakriya Citra Maya Biennale Jogja XIII - 2015

Deskripsi Acara

Swakriya Citra Maya adalah sebuah lokakarya penyorotan citra dalam bentuk citra bayangan. Lokakarya ini mengajak para peserta untuk membuat sebuah alat sederhana yang dapat digunakan untuk membuat citra bayangan dua dimensi dengan penyorotan citra dari sebuah telepon genggam. Dalam sains geometri, citra bayangan itu sendiri adalah sebuah citra maya yang terbentuk oleh pemantulan cahaya. Lifepatch mengembangkan sebuah kit bernama Rana Cahaya sehingga peserta dalam lokakarya ini tidak memerlukan keahlian khusus untuk merangkainya. Durasi lokakarya selama 3 jam.

Detail Acara

  • Hari/Tanggal: 25 November 2015
  • Waktu: 15:00 - 18.00 WIB
  • Lokakarya dikenakan biaya pengganti material sebesar 30 ribu rupiah, terbuka untuk umum bagi 8 peserta. .

Dokumentasi Foto

DIY MIDI-controller


Poster Publikasi Lokakarya DIY Midi Controller Biennale Jogja XIII - 2015

Deskripsi Acara

DIY MIDI-controller - Sebuah lokakarya untuk menciptakan sebuah piranti keras yang dapat digunakan untuk mengendalikan piranti lunak dalam komputer. MIDI controller biasanya digunakan dalam pertunjukan audiovisual secara langsung seperti VJ atau musik elektronik. Durasi lokakarya selama 4 jam.

Detail Acara

  • Hari/Tanggal: 28 November 2015
  • Waktu: 15:00 - 19.00 WIB
  • Lokakarya dikenakan biaya pengganti material sebesar 100 ribu rupiah, terbuka untuk umum bagi 8 peserta.
  • Peserta diharapkan membawa laptop

Dokumentasi Foto

Referensi dan Pranala Luar