DIY Wine Making Workshop

From Lifepatch - citizen initiative in art, science and technology
Jump to: navigation, search
Penjelasan awal dalam DIY Wine Making Workshop oleh Nur Akbar Arofatullah
Julian Abraham memandu para peserta DIY Wine Making Workshop
Pengolahan buah yang akan digunakan sebagai medium fermentasi dalam DIY Wine Making Workshop

Suatu workshop bagian dari program IB:SC, sebuah proyek yang tercipta melalui kerjasama antara lifepatch dan Komunitas Laboratorium Mikrobiologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM).

Detail Acara

  • Hari/Tanggal: Minggu / 1 April 2012
  • Waktu: 14.00 - 16.00 WIB
  • Tempat: Yogyakarta

Kegiatan

Workshop ini mengajarkan para peserta mengenai langkah-langkah dasar dalam pembuatan fruit wine melalui proses fermentasi dari buah-buahan lokal. Kegiatan workshop akan menitik beratkan pada cara higienis proses fermentasi dan penggunaan yeast dalam fermentasi. Workshop bersifat gratis dan terbuka untuk umum melalui pendaftaran.

Workshop diikuti oleh 17 orang yang hadir dengan membawa 1 kg buah-buahan yang akan mereka gunakan sebagai medium untuk fermentasi. Workshop diawali dengan penjelasan teknis mengenai fermentasi, perbedaan antara hasil fermentasi higienis dan tidak higienis, ethanol methanol dan buthanol, alkohol yang layak dikonsumsi dan juga efek dari konsumsi alkohol. Workshop kemudian dilanjutkan dengan penjelasan langkah-langkah untuk membuat fermentasi wine sendiri dengan bahan-bahan terjangkau dan Yeast Saccharomyces cerevisiae yang telah disiapkan oleh lifepatch. Yeast yang digunakan dalam workshop ini diambil dari isolasi buah nangka, yang telah dilakukan sebelumnya melalui kerja laboraturium bersama antara lifepatch dan Komunitas Laboratorium Mikrobiologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM).

Setelah penjelasan, para peserta dipersilahkan mengolah buah-buahan yang telah mereka bawa dengan mengupas dan memotong kecil-kecil buah tersebut. Setelah diolah, buah-buahan kemudian secara bergiliran direbus, untuk mendapatkan sari dari buah yang kemudian didinginkan hingga temperatur dibawah 40 derajat celcius. Sari buah kemudian ditampung dalam botol kosong dan diberikan Yeast Saccharomyces cerevisiae yang akan mengubah kandungan gula dalam sari buah tersebut menjadi alkohol dan CO2. Botol kemudian disegel rapat dan diberi selang kecil yang dihubungkan dalam disinfektan di botol terpisah. Hal ini dimaksudkan untuk mensterilkan peredaran CO2 yang dihasilkan, sehingga tidak ada mikroorganisme lain yang dapat mengkontaminasi proses fermentasi di botol berisi sari buah tersebut.

Workshop berlangsung selama kurang lebih 4 jam, dan setelah peserta mendapatkan sebotol sari buah yang telah diberi Yeast Saccharomyces cerevisiae, peserta baru dapat menikmati hasilnya dengan waktu minimal 2 minggu setelah workshop. Sari tersebut juga dapat digunakan untuk starter Yeast apabila para peserta ingin membuat fermentasi untuk buah-buahan lainnya. Caranya cukup dengan mengambil sebagian dari sari buah yang mengandung Yeast tersebut dan mencampurnya dengan metode yang telah diberikan di awal workshop.

blog comments powered by Disqus