Ekspedisi Sungai Jogja 2011

From Lifepatch - citizen initiative in art, science and technology
Jump to: navigation, search
Ekspedisi Sungai Jogja 2011
Daerah Kali Code yang akan dijelajahi di Ekspedisi Sungai Jogja 2011
Jembatan Terban, start awal Ekspedisi Sungai Jogja 2011
Suasana Kali Code dini hari, 10 April 2011
Pendangkalan Kali Code akibat material Gunung Merapi, masih merupakan tempat bermain anak-anak di pemukiman setempat
Pengambilan sampel air Kali Code untuk penelitian kandungan Escherichia coli
Pencatatan lokasi pengambilan sampel air menggunakan GPS

Ekspedisi Sungai Jogja 2011 adalah inisiatif dari Komunitas Cantigi-Indonesia bersama Komunitas Pecinta Alam Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta dan pelaksanaanya diselenggarakan melalui kolaborasi bersama lifepatch dan Komunitas Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM). Ekspedisi Sungai Jogja di tahun 2011 ini merupakan awal dari proyek Jogja River Project secara keseluruhan.

Pendahuluan

Lingga dan Yoni adalah lambang kesuburan. Jika Merapi menjadi adalah Lingga maka laut selatan adalah Yoni. Garis imaginer itu adalah sungai-sungai yang menghubungkan keduanya. Keduanya adalah warisan yang mesti kita jaga keseimbangannya.

Ekspedisi Sungai Jogja (ESJ) 2011 adalah program untuk menelusuri tepian sungai-sungai yang membelah kota Yogyakarta. Program ini dalam rangka hari Bumi 22 Maret 2011.

Sungai menjadi bagian penting pada kehidupan masyarakat. Tapi sayangnya sungai pada perkembangannya dianggap sebagai halaman belakang. Yang cenderung tak diperhatikan dan tempat membuang sampah. Kedepan, semestinya sungai menjadi halaman depan yang tertata dan bersih.

Masyarakat Jogja cenderung memprioritaskan jalan raya sebagai halaman depan. Contoh jalan Malioboro, pasti dikenal oleh masyarakat dan wisatawan. Berbeda dengan kali (sungai Code) yang bersebelahan letaknya dan asing bagi wisatawan domestik dan internasional. Padahal Kali Code mempunyai potensi besar untuk menjadi daya tarik wisatawan. Kali Code merupakan bagian dari perkembangan budaya Yogyakarta, yang meletakkan kita untuk melihat Yogyakarta sebagai suatu kesatuan yang utuh.

Pada awal tahun 2011 ini Sungai menjadi topik utama & perhatian masyarakat terutama terkait dalam hal ancaman lahar dingin. Ternyata Merapi punya cara lain untuk menegur masyarakat Jogja dengan memberikan kabar bencana. melalui material lahar dinginnya. Hal ini kemudian menjadi ancaman bagi pemukiman yang sangat dekat dengan bantaran sungai. Apakah ini sebenarnya merupakan sebuah pesan dari Merapi: "Tolong perhatikan bantaran sungai untuk jaminan kelestarian dan tata kota yang baik dimasa depan."?

Detail Kegiatan

Pada program tahun pertama ESJ-2011 ini, sebuah tim gabungan pecinta alam, peneliti dan seniman akan berjalan menyusuri daerah tepian sungai Code Yogyakarta. Diawali dari start (utara) menuju selatan. Team akan bergerak pagi dini hari 10 April 2011 pada cuaca cerah. Para anggota tim gabungan akan melakukan beberapa kegiatan antara lain:

  • Dokumentasi Daerah Aliran Sungai (DAS)
  • Pengambilan sampel air sungai untuk penelitian Escherichia coli
  • Memantau perkembangan intensitas perubahan warna dan debit air sungai

Ancaman lahar dingin masih menjadi perhatian tim untuk melaksanakan operasional harian. Tim ini dilengkapi alat rekam (kamera), safety (webbing, pelampung), komunikasi (handy talky), alat GPS (Global Positioning System) dan alat pengukur kondisi air.

Operasional

  1. Dengan alat bantu kamera foto, tim akan mengambil gambar disepanjang sungai. Baik badan sungai sisi kiri maupun kanan. Titik perhatian obyek foto adalah ; tempat buangan sampah, jembatan, material lahar dingin, aktifitas masyarakat tepi sungai, bangunan yang masuk bantaran sungai, rumah kardus dibawah jembatan dan sebagainya
  2. Dengan alat bantu GPS dan peta. Team akan menentukan titik koordinat yang menjadi titik perhatian pada posisi point pertama.

Tujuan

Target dari ESJ-2011 cukup sederhana, yaitu memberikan laporan visual foto pada pemerintah & masyarakat pada kondisi terkini (April 2011). Lembaran foto dan video ini akan sangat berguna dikemudian hari. Untuk membandingkan: Dokumentasi “before-after” (sebelum dan sesudah) pada jangka waktu (tahun) tertentu.

Dokumentasi foto dan video disepanjang sungai pada ESJ-2011 ini menjadi penting mengingat dokumentasi (arsip) tahun-tahun sebelumnya, sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dokumentasi bagian pusat kota Jogja. Dokumentasi yang sedikit ini cukup dimaklumi karena kesulitan dalam menyusuri sungai kota yang cenderung kotor dan tak menarik banyak perhatian orang.

Kolaborasi ini juga mencoba untuk mendapatkan data pencemaran air sungai dan parameter sederhana dari mikroorganisme Escherichia coli. Pencemaran Escherichia coli dianggap telah meningkat cukup signifikan seiring dengan pesatnya pertumbuhan masyarakat kota penghuni Daerah Aliran Sungai dan masih kurangnya infrastrutur sanitasi rumah kediaman.

Pelaksanaan

Ekspedisi diawali dari jembatan Terban, wilayah Kali Code bagian utara yang berbatasan dengan kota Yogyakarta. Tim ekspedisi dibagi menjadi dua, dengan masing-masing tim berjalan menyusuri sisi sungai yang berbeda. Penyusuran sungai dilakukan menuju arah selatan, melewati pemukiman rakyat sekitar yang terletak di sisi sungai. Akibat medan sisi sungai yang tidak bisa dilewati, terkadang tim harus mengambil jalan memutar dan kembali ke letak sisi sungai yang memungkinkan untuk dilewati.

Di ekspedisi ini, tim menemukan pendangkalan yang terjadi di Kali Code. Sungai semakin dangkal dan sempit ketika tim memasuki daerah pemukiman padat. Dapat terlihat dampak yang terjadi akibat luapan material lahar dingin Gunung Merapi pada rumah-rumah di pinggir sungai pasca erupsi Gunung Merapi bulan November 2010. Banyak sekali rumah yang sudah tidak layak dihuni akibat luapan material yang mengendapi rumah kediaman warga.

Tes Sampel Air Bakteri Koliform Air Sungai Code

Bakteri koliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu bakteri yang hidup dalam saluran pencernaan manusia. Bakteri ini digunakan sebagai indikator keberadaan bakteri patogen. Penentuan koliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Contoh bakteri coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Sebagai kuman pathogen, Esherichia coli sangat terkenal karena kemampuannya menyebabkan penyakit saluran cerna pada manusia.

Permasalahan di Lapangan

Pada ekspedisi ini, para peserta menemukan tingginya permukaan air sungai yang meluap ke pemukiman di sekitar bantaran sungai. Hal ini disebabkan pendangkalan dasar sungai oleh material vulkanik yang sebagian besar adalah pasir di sungai Code. Material vulkanik ini diakibatkan oleh erupsi gunung Merapi yang terjadi pada akhir tahun 2010 di Yogyakarta. Sepanjang bantaran sungai dapat terlihat tanggul-tanggul yang dibangun oleh masyarakat sekitar untuk mencegah limpasan air sungai masuk ke daerah pemukiman. Penggalian material pasir untuk mengurangi pendangkalan dasar sungai juga dapat terlihat di seluruh pinggiran daerah bantaran sungai.

Sumber air bersih juga menjadi masalah dikarenakan agregat pasir yang sangat halus tercampur dengan air sungai Code. Hal ini menyebabkan air sangat keruh dan tidak layak untuk keperluan mandi, cuci dan kakus penduduk setempat. Para peserta ekspedisi menemukan adanya beberapa bantuan sumber air bersih yang dibangun berkat bantuan kerja sama organisasi non pemerintah. Selain itu, kandungan material vulkanik menyebabkan kematian ikan air tawar yang menjadi komoditi ternak yang mengakibatkan kerugian cukup besar bagi penduduk setempat.

Kelanjutan

Proyek ini berkelanjutan pada tahun berikutnya yang diberi nama Jogja River Project 2012. Kelanjutan dari proyek ini meneliti kali Winanga, yang terletak di sebelah barat kali Code Yogyakarta. Pada bulan berikutnya proyek berlanjut lagi dengan menelusuri Sungai Gajahwong. Ekspedisi sungai Gajahwong diberi nama Jogja River Project 2012 - Gajahwong.

Dokumentasi

Berikut dokumentasi terpilih dari Ekspedisi Sungai Jogja 2011.

Referensi dan Link Eksternal

blog comments powered by Disqus