HackteriaLab Angkat Isu Lingkungan

From Lifepatch - citizen initiative in art, science and technology
Jump to: navigation, search
Artikel edisi cetak Tribun Jogja

Sebuah artikel mengenai HackteriaLab 2014 - Yogyakarta di edisi cetak harian Tribun Jogja yang diterbitkan pada tanggal 4 Mei 2014. Artikel ini disalin ulang oleh Andreas Siagian pada tanggal 6 Mei 2014. Berikut isi artikel tersebut:

Isi Artikel

HIDUP berdampingan dengan alam selalu saja memunculkan persoalan-persoalan serius yang bila dibiarkan dapat mengakhiri keberlangsungan hidup itu sendiri. Upaya untuk terus hidup dengan mengedepankan hidup yang berbudaya dan beretika terus dilakukan banyak kalangan.

Adalah Lifepatch berkerjasama dengan platform komunitas internasional Hackteria Society salah satu yang melakukannya. Melalui sebuah project bernama HackteriaLab 2014, kurang lebih selama dua pekan, sejak minggu ke dua bulan April lalu, mereka melaksanakan rangkaian kegiatan yang mengangkat isu permasalahan lingkungan dan manusia penghuninya.

HackteriaLab sendiri adalah sebuah acara tahunan yang sudah berlangsung sejak 2010 dari jaringan Hackteria yang mencakup seniman, ilmuwan, peneliti dan peretas dalam sebuah aktivitas bersama. Baik perupa penelitian eksperimen, diskusi, lokakarya dan pameran. Tahun ini Lifepatch berkesempatan menjadi tuan rumah dengan dukungan berbagai pihak.

"Ini bukan festival, namun lebih ke project. HackteriaLab 2014 ini melibatkan banyak komunitas lokal dan internasional yang konsen di beberapa hal, salah satunya lingkungan. Ada teman-teman dari UGM, Hyphen, Bumi Pemuda Rahayu, WAFT Surabaya, KKF - Yogyakarta, Otakatik Creative Workshop, BiaArt.TW, Green Tech, The Finnish Society of Bioart, Galerija Kapelica, Universal Research Institute, dan Biologigaragen. Disupport juga oleh Prohelvetia, Migros, Ford Foundation, Arts Collaboratory, dan EPA," ujar Andreas Siagian salah satu koordinator lapangan project ini, Jumat (2/5).

Rangkaian kegiatan HackteriaLab sudah dilaksanakan dan diakhiri dengan presentasi karya oleh masing-masing komunitas dengan projectnya sendiri. Diantaranya, dilaksanakan di Kedai Kebun Forum (KKF), sebagai ruang lokakarya, studio terbuka dan laboratorium berkala. Symposium Citizen Intiatives in Art & Science yang dilaksanakan di Auditorium Fakultas Pertanian UGM. Bumi Pemuda Rahayu untuk lokasi workshop dan presentasi. Padepokan Seni Bagong Kussudiarja untuk Akustikologi serta Langgeng Art Foundation untuk pameran dan presentasi karya.

"Kita sengaja mengangkat persoalan yang sudah ada. Karena akan lebih mudah daripada mencari masalah baru. Misalnya, kunjungan lapangan ke bantaran Sungai Code, ada teman-teman yang sudah lebih dulu mengawasi pencemaran bakteri ecoli di sana. Di lereng Gunung Merapi, pasca letusan, ada teman-teman Biologi UGM yang melakukan biorecovery tanah vulkanik. Dan kunjungan ke hutan adat Wonosadi di Gunung Kidul, untuk konservasi biodiversitas," kata Agung Geger salah satu host project ini.

Geger menjelaskan, biorecovery dilakukan di tanah vulkanik Gunung Merapi akibat letusan tahun 2010 yang merusak lahan pertanian, khususnya di sekitar lereng. Setelah letusan tersebut, para ilmuwan bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk memperkaya keanekaragaman hayati, melakukan praktek reklamasi tanah pertanian, untuk mempercepat proses penyuburan. (yud)

Memadukan 'Local Wisdom'

SALAH satu usaha reklamasi ini digerakkan oleh Laboratorium mikrobiologi dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM), yang telah bekerja intensif sejak 2011. Walaupun fokus utama proyek ini adalah pemulihan kembali (biorecovery) fungsi tanah, namun persoalan ekologis lainnya juga muncul dan menjadi perbincangan.

"Kita memadukan cara lama, local wisdom, suatu hal yang dianggap baik oleh masyarakat dengan ilmu titen mereka. Misalnya di hutan Wonosadi, ada adat Nyadran sehabis hujan pertama setiap tahunnya. Penduduk sekitar mengumpulkan biji-bijian yand ada di hutan untuk kemudian kembali di tanam di sekitar situ. Ini secara tak disadari sama halnya dengan pelestarian atau konservasi," terang Geger.

Selain kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan, project ini melalui kegiatan bertajuk Akustikologi di Padepokan Seni Bagong Kussudiharjo mengajak para peserta untuk terlibat dalam sebuah proyek musik yang mencoba mendorong kerja sama antra perupa, musisi, ilmuwan, dan peretas (hackter) untuk merangkai komposisi-komposisi musik berdasarkan keragaman disiplin mereka masing-masing.

Proyek ini menantang para pesertanya untuk tidak menggunakan amplifikasi elektronik dalam pertunjukan komposisi hasil kerja sama mereka untuk melatih kepekaan sensor pendengaran kita, selaku mahluk mekanosensitif di tengah polusi suara di lingkungan sekitar kita. (yud)