IB:SC

From Lifepatch - citizen initiative in art, science and technology
Jump to: navigation, search
Instalasi IB:SC ditampilkan pertama kali di Fixer 2010
Instalasi IB:SC Nu-Substance 2010
Artikel di Koran Kompas mengenai IB:SC dalam transmediale Awards 2011 ditulis oleh Krisna Murti
Instalasi IB:SC di transmediale 2011, Berlin Jerman
Instalasi IB:SC di Mal au Pixel #6 2011 Paris Perancis
DIY Shaker yang digunakan sebagai salah satu bagian instalasi IB:SC. DIY Shaker berfungsi untuk melancarkan aliran udara ke medium untuk mempercepat proses perkembang-biakan microorganisme

Intelligent Bacteria - Saccharomyces cerevisiae (IB:SC) merupakan sebuah proyek bersama antara Agus Tri Budiarto, Julian Abraham dan Nur Akbar Arofatullah yang diakomodir dan dibimbing oleh Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Pertanian UGM Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM). Proyek IB:SC berfokus pada penelitian bersama mengenai penggunaan mikroorganisme (Yeast) dalam proses fermentasi ethanol yang dapat dilakukan dengan teknologi tepat guna dan aplikasinya bagi masyarakat luas.

Latar Belakang

Konsumsi minuman beralkohol meningkat pesat dalam dekade terakhir terutama di masyarakat perkotaan di Indonesia. Minuman yang paling menguntungkan konsumsi alkohol adalah jenis anggur dan bir yang sudah diberikan izin legal dari pemerintah. Produk ini hanya dapat ditemukan di tempat-tempat tertentu yang memiliki lisensi dari pemerintah dan distribusi perusahaan diatur di bawah hukum. Spesifikasi hukum (Kepres No.3 tahun 1997) sendiri disetujui oleh Presiden Republik Indonesia, diterbitkan pada tahun 1997 dan masih berlaku sampai sekarang. Undang-undang menyebutkan bahwa semua produksi minum beralkohol di Indonesia hanya dapat dilaksanakan berdasarkan izin dari Menteri Perdagangan dan Industri.

Di awal bulan April 2010, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.62 tahun 2010 tanggal 17/03 tentang kenaikan bea cukai terhadap minuman beralkohol. Peraturan ini secara langsung menjadi pemicu naiknya harga jual eceran minuman beralkohol. Peraturan baru menyebabkan harga minuman beralkohol tidak dapat terjangkau oleh masyarakat khususnya masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah. Misalnya, satu botol Anggur Merah merek "Orang Tua" sebelum peraturan tersebut harganya berkisar Rp. 13.500,- Setelah peraturan baru, harganya naik kurang lebih tiga kali lipat sehingga harga per botolnya mencapai sebesar Rp. 40.000,-.

Penggunaan Nama

Nama "Saccharomyces cerevisiae" yang digunakan adalah nama jenis sebuah mikroorganisme yang tergolong kedalam klasifikasi "Yeast" bukan Bakteri. Nama ini tetap digunakan karena struktur penamaan ini mempermudah klasifikasi program-program yang telah dilaksanakan, selain itu penamaan ini juga mempermudah publik untuk mengenali program kolaborasi ini.

Penjelasan

Dalam proyek Intelligent Bacteria - Saccharomyces cerevisiae (IB:SC), Nur Akbar Arofatullah, Julian Abraham dan Agus Tri Budiarto bersama Jurusan Mikrobiologi Pertanian Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM) melakukan penelitian bersama mengenai penggunaan mikroorganisme (Yeast) dalam proses fermentasi ethanol. Proyek ini bertujuan untuk mensosialisasikan teknik fermentasi yang baik dan benar kepada masyarakat luas. Proyek ini memanfaatkan beraneka ragamnya hasil budidaya bumi Indonesia untuk menemukan dan meracik sebuah formula baru yang dapat digunakan untuk menghasilkan minuman beralkohol yang aman dikonsumsi dan bermutu tinggi. Proyek ini juga ditujukan untuk memberi wacana pada masyarakat mengenai konsumsi alkohol aman dan sehat. Selain itu juga, IB:SC diharapkan berfungsi dalam memberikan pengetahuan tentang proses pembuatan bioethanol kepada para produsen ciu/minuman beralkohol lokal, sebagai alternatif sumber pendapatan.

Penelitian

Dalam pembuatan minuman beralkohol yang aman dikonsumsi dan bermutu tinggi, penelitian ini memusatkan pada penggunaan buah-buahan tropis sebagai bahan utama. Buah-buahan yang telah dicoba dalam penelitian ini antara lain adalah:

  1. Ananas comosus Merr. (Nanas [id] atau Pineapple [en]);
  2. Arenga pinnata (Aren [id] atau Sugar Palm [en]);
  3. Salacca zalacca (Salak [id] atau Snake Fruit [en]),
  4. Mangifera indica (Mangga [id] atau Mango [en]),
  5. Annona muricata (Sirsak [id] atau Soursop [en]);
  6. Artocarpus heterophyllus (Nangka [id] atau Jackfruit [en]);
  7. Cucumis melo (Melon [id/en]);
  8. Tamarindus indica (Asam Jawa [id] atau Tamarind [en]);
  9. Zingiber officinale (Jahe [id] atau Ginger [en]);
  10. Manilkara zapota (Sawo [id] atau Sapodilla [en]);
  11. Citrullus lanatus (Semangka [id] atau Watermelon [en]);
  12. Musaceae (Pisang Klutuk [id] atau Banana [en]);
  13. Citrus (Jeruk [id] atau Orange [en]);
  14. Malus domestica (Apel [id] atau Apple [en]);
  15. Solanum lycopersicum (Tomat [id] atau Tomato [en]);
  16. Sorghum bicolor (Sweet Sorghum);
  17. Cucurbita spp. (Labu [id] atau Pumpkin [en];
  18. Pachyrhizus erosus (Bengkuang [id] atau Jícama [en])
  19. Ipomoea batatas (Ubi Jalar [id] atau Sweet Potato [en])
  20. Durionaceae (Durian)
  21. Garcinia mangostana (Manggis [id] atau Mangosteen [en])
  22. Averrhoa carambola (Belimbing [id] atau Star Fruit [en])
  23. Syzygium cumini (Jamblang [id] / Duwet [Jawa] atau Jambul [en])
  24. Muntingia calabura (Kersen [id] atau Talok)
  25. Psidium guajava (Jambu batu/ Jambu biji / Jambu klutuk [id] atau Apple Guava / Common Guava [en])
  26. Carica papaya (Pepaya [id] atau Papaya [en])
  27. Syzygium aqueum (Jambu Air [id] atau Water Cherry, Watery Rose Apple [en])
  28. Artocarpus heterophyllus (Nangka [id] atau Jackfruit [en])
  29. Annona muricata (Sirsak [id] atau Soursop [en])
  30. Oryza sativa (Beras Ketan [id] atau Rice [en))
  31. Mangifera foetida (Bacang [id] / Pakel [jawa] atau Horse Mango, Malmut, Limus, dan Machang [en])
  32. Nephelium lappaceum (Rambutan [id] [en])

Proyek Kesenian

IB:SC juga ditampilkan dalam proyek kesenian yang menampilkan sebuah bentuk instalasi karya seni yang bersifat interaktif. Dalam hal ini, IB:SC digunakan sebagai cara untuk berbicara kepada publik luas mengenai kolaborasi antar disiplin, penggunaan teknologi, proses kreasi, perkembangan ilmu pengetahuan dan peranan kesenian itu sendiri. Seni digunakan dalam upaya menggali potensi-potensi terselubung di masyarakat sekaligus mengangkat analisa kritis dalam menanggapi realitas aplikasi sosial di kehidupan nyata. Proyek ini telah ditampilkan dalam beberapa acara pameran kesenian antara lain:

  1. FIXER | Pameran Ruang Alternatif & Kelompok Seni Rupa di Indonesia [1]
    Pameran di North Art Space [2] Jakarta, 18 - 28, Juni 2010
  2. Nu-Substance 2010 - "The Loss of the Real" Art Exhibition [3]
    Pameran di Selasar Sunaryo Artspace [4] Bandung, 19 Juli - 1 Agustus 2010
  3. Festival Kesenian Yogyakarta XXII 2010 (FKY XXII 2010)
    Pameran dan Workshop di Vredeburg [5], Yogyakarta, 27 Juni - 7 Juli 2010
  4. Research Week UGM | Gadjah Mada University 2010 [6]
    Pameran dan presentasi di Grha Sabha Pramana [7], Yogyakarta, 12 - 17 Juli 2010
  5. cellsOPEN | Cellsbutton#04 - Yogyakarta International Media Art Festival, 2010 [8]
    Pameran di 7Soul Distro, Yogyakarta, 27 Juli 2010
  6. Transmediale 2011 pameran nominasi Transmediale Awards 2011 [9]
    Pameran di Hackaway Berlin Jerman
  7. Mal au Pixel #6, pameran instalasi sonifikasi fermentasi, 1-10 Juni 2011
    Pameran di a Gaîté lyrique Prancis
  8. Koln Festival For Applied Acoustics, 5-11 Juni 2011
    Sebuah seri workshop di UFA Palast, Hohenzollernring 22-24, Koln Jerman

Penghargaan

Jordan Crandall, Evan Roth dan Julian Abraham, Nur Akbar Arofatullah, Venzha dan Agus Tri Budiarto pada saat upacara penerimaan Transmediale Awards 2011

Pada tahun 2011, proyek ini diikutsertakan dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Transmediale 2011, sebuah festival seni, ilmu pengetahuan dan teknologi berskala internasional. Proyek ini kemudian dirumuskan, dibahasakan dan disempurnakan oleh Andreas Siagian. IB:SC kemudian dinominasikan dalam Transmediale 2011. Setelah melalui seleksi dan pemilihan para juri, IB:SC memenangkan penghargaan prestisius ini melalui instalasi sonifikasi fermentasi alkohol yang kemudian dikenal sebagai Bacteria Orchestra. Penghargaan Transmediale ini menjadikan IB:SC sebagai pemenang pertama berasal dari Indonesia dan Asia Tenggara untuk Transmediale Awards 2011. Pemenang dalam kategori Vilém Flusser Theory Award diberikan pada Jordan Crandall dengan tulisannya berjudul GATHERINGS 1: EVENT, AGENCY, AND PROGRAM. Sedangkan untuk Open Web Award dimenangkan oleh Evan Roth dengan 415 suara yang memilih karyanya berjudul Graffiti Analysis / Graffiti Markup Language. Ini kali pertama kategori Open Web Award diadakan di Transmediale Festival.

Tulisan

Krisna Murti, seorang seniman dan penulis seni media baru di Indonesia, menuliskan sebuah essay mengenai IB:SC. Essay yang diberi nama "Intelligent Bacteria's HONF" mengulas bagaimana intervensi sosial melalui kebudayaan fermentasi alkohol di Indonesia. Essay ini juga mengungkapkan bagaimana segmentasi kebudayaan tradisional dari pengaruh religius berpengaruh pada kebudayaan kontemporer di Indonesia baik secara lokal daerah maupun nasional. Krisna Murti menulis essay ini berdasarkan pengamatan dan juga wawancara langsung dengan beberapa pelaku proyek ini. Pada tanggal 20 Februari 2011, Krisna Murti menuliskan sebuah artikel mengenai kemenangan IB:SC di transmediale 2011. Artikel berjudul Penghargaan Transmediale buat IB:SC tersebut dimuat di Koran Kompas cetak edisi minggu.

MI:SC

Pada acara Bioartnergy 2012, karya ini ditampilkan kembali oleh Lifepatch dengan nama MI:SC - Microbiology Saccharomyces cerevisiae.

MISC di Bioartnergy 2012.jpg

MI:SC - Microbiology Saccharomyces Cerevisiae

Karya ini merupakan sebuah hasil kolaborasi antara lifepatch dan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta. Instalasi ini menampilkan hasil kompilasi sonifikasi (pencitraan suara) secara langsung dari aktifitas fermentasi bio-ethanol menggunakan buah-buahan tropis. Instalasi ini merupakan kelanjutan dari proyek IB:SC.

Instalasi ini ditampilkan pada sebuah pameran salah satu acara dari Bioartnergy 2012 yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian UGM. Instalasi ini dikerjakan oleh:

Dokumentasi MI:SC

Berikut dokumentasi instalasi MI:SC pada pameran Bioartnergy 2012:

Categoty: Karya

Ragi Kering

Pada bulan Desember 2012, kolaborasi antara Komunitas Mikrobiologi Faperta UGM dan Lifepatch menghasilkan sebuah produk ragi kering instan yang mudah digunakan bagi khalayak luas. Ragi kering ini diberi nama SR4 Lifeyeast.

Logo SR4 LifeYeast desain oleh Adhari Donora

SR4 LifeYeast adalah sebuah produk berupa ragi kering kemasan yang dihasilkan dan diproduksi oleh Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta dan Lifepatch.

Deskripsi SR4

LifeYeast SR4 adalah inokulum ragi yang diisolasi dari buah sirsak. Proses produksi LifeYeast dilakukan secara akseptis oleh para ahli di bidang mikrobiologi di Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta. Kegunaan dari LifeYeast adalah sebagai starter dalam proses fermentasi ethanol. LifeYeast merupakan jenis fresh yeast, berbentuk bubuk kering dan tanpa bahan pengawet sehingga harus disimpan dalam suhu rendah.

Ide pembuatan ragi kering SR4 sendiri muncul karena kesulitan dalam Proses Inokulasi. Proses ini membutuhkan lingkungan yang steril untuk menghindari kontaminasi dalam medium ragi yang baru. Lifepatch merasa produksi SR4 dibutuhkan setelah menemukan banyak kontaminasi dari hasil inokulasi peserta yang mengikuti Workshop pembuatan medium agar dan inokulasi ragi.

Detail SR4

SR4 lifeyeast (kiri atas) dan ragi hasil workhop inokulasi (kanan bawah)

Berikut detail SR4:

  • Berat: 10 gram (untuk penggunaan ideal fermentasi bio-ethanol 10 liter)
  • Kemasan: Foil Alumunium
  • Harga Jual: SR4 diperjualbelikan dengan harga Rp. 10.000,-
  • Kontak: Timbil (0813 9272 4448) | Akbar (0857 4340 0880) | Uc (0817 547 1005)
  • Delivery: Pengantaran SR4 gratis di wilayah kota Yogyakarta untuk pemesanan minimal 5 bungkus. Untuk luar kota Yogyakarta biaya kirim ditanggung oleh pembeli dengan pemesanan minimal 10 bungkus.

SR4 dapat juga dipesan lewat Twitter (@lifepatch_), Facebook lifepatch, e-mail (patch@lifepatch.org) atau diambil langsung di rumah lifepatch di Komplek Gumuk Indah 1A Bugisan Selatan Yogyakarta.

Petunjuk Penggunaan

  • Larutkan 1 bungkus LifeYeast dalam 1 gelas air hangat (35-38°C) dengan 1 sendok teh gula pasir
  • Tutup gelas dan diamkan selama 4 jam
  • Tuangkan larutan LifeYeast kedalam 10L larutan mesh (jus buah yang telah direbus dan didinginkan
  • Proses fermetasi akan segera berjalan 6-8 jam kemudian

Petunjuk Penyimpanan

  • Simpan LifeYeast pada suhu 5°C
  • Untuk hasil terbaik, ragi ini harus dipakai habis dalam waktu 48 jam setelah kemasan dibuka

Referensi dan Link Eksternal

blog comments powered by Disqus

blog comments powered by Disqus