Jinayah Siyasah

From Lifepatch - citizen initiative in art, science and technology
Jump to: navigation, search
Contoh karya seni rupa kontemporer yang berbicara mengenai Islam

Proyek ini berlangsung pada bulan November 2014 - Februari 2015. Selama bulan November dan Desember 2014, proyek ini menggunakan rumah Lifepatch sebagai kantor kerja tim produksi.

Deskripsi

Timeline yang menunjukkan pendirian Front Pendirian Islam (FPI) pada 1998 dan Front Betawi Rembug (FBR) pada 2001 serta beberapa sensor dan kekerasan yang mereka lakukan (sumber : Pengolahan Gagasan dan Ekspresi Seni Visual serta Media Alternatif dalam Konteks Keberagaman (1935-2011), IVAA (Indonesian Visual Art Archive): 2012

Jinayah Siyasah berasal dari Bahasa Arab; Jinayah berarti 'hukuman' dan Siyasah berarti 'Taktik'. Jinayah Siyasah dipilih sebagai judul sebab dipandang merepresentasikan sensitivitas isu terkait Islam yang diangkat oleh proyek ini dan bagaimana taktik proyek ini saat berhadapan dengan sensitivitas tersebut sehingga tidak terjebak hukuman dari perspektif Agama Islam.

Latar Belakang

Ada beberapa hal yang jadi latar belakang proyek ini. Pertama, 88% dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia beragama Islam (menurut Vedi Hadiz dalam A New Islamic Population and the Contradiction to Development). Ini membuat Indonesia jadi negara dengan populasi Islam terbesar di dunia yang terdiri dari beragam kelompok.

Kedua, setelah reformasi 1998, terjadi beberapa sensor dan kekerasan atas nama agama, khususnya Islam. Misalnya, sensor yang dilakukan atas karya Pink and Swing Park milik Agus Suwage dan Davy Linggar pada 2005 dan penyerangan jemat Ahmadiyah di Cikeusik pada 2011. Ketiga, ada banyak karya seni rupa kontemporer yang berbicara mengenai Islam.

Keempat, dalam konteks Yogyakarta sendiri, terdapat daerah Krapyak yang dikenal sebagai salah satu basis Islam dimana di sana terdapat pondok pesantren. Krapyak sendiri berdekatan pula dengan lembaga/kolektif seni (misalnya, Kedai Kebun Forum, Cemeti Art House, Langgeng Art Foundation, Ark Gallery, dll).

Terkait poin pertama dan kedua, terlihat bahwa isu yang berkaitan dengan Islam cukup penting untuk dibicarakan. Pun terkait laku sensor dan kekerasan oleh kelompok Islam tertentu, diperlukan sebuah penegasan bahwa wajah Islam di Indonesia itu beragam dan tidak semua kelompok Islam adalah pelaku kekerasan. Sedangkan, menyangkut poin ketiga dan kempat, hadir pertanyaan ‘apakah karya seni rupa kontemporer yang berbicara tentang Islam tersebut dipersepsi secara luas oleh subyek yang dibicarakan?’ dan ‘apakah ada interaksi antara kelompok seni (khususnya di Yogyakarta) dengan kelompok Islam yang hidup berdekatan?’.Sejauh ini, berdasarkan pengamatan, karya-karya seni yang berbicara tentang Islam ditempatkan di galeri- galeri seni. Sebab jelas ada segmentasi pengunjung galeri seni, adalah sulit membayangkan kelompok-kelompok Islam melihat karya seni yang berbicara tentang mereka. Di titik ini, interaksi antara kedua kelompok kemungkinan besar sulit terbangun.

Berangkat dari latar belakang tersebut, banyak hal menarik untuk dikaji bersama dan direspon dalam proyek ini. Misalnya, tentang ragam rupa Islam di Indonesia, sejarah yang dimiliki masing-masing kelompok, laku keseharian kelompok-kelompok tersebut, proses peneriman kelompok Islam terhadap karya yang berbicara tentang mereka, pandangan kelompok Islam terhadap karya seni, pola interaksi yang terbangun antara seniman dan kelompok Islam serta proses perubahan nilai di kedua pihak yang mungkin terjadi selama proyek ini, dan sebagainya

Tujuan

Yang dilingkari adalah Krapyak, yang bertitik merah adalah lembaga/kolektif seni di Yogyakarta (sumber: Yogyakarta Contemporary Art Map, Kedan Kebun Forum (KKF): 2014
  1. Memahami ragam rupa Islam di Indonesia.
  2. Menciptakan interaksi antara pegiat seni dan kelompok Islam yang hidup dalam atmosfer sosial yang berbeda.
  3. Menggoyahkan nilai-nilai yang ada di masing-masing kelompok.
  4. Menciptakan kemungkinan ruang dan penonton baru bagi seni rupa kontemporer.

Skema

Proyek ini akan dimulai dengan kajian yang dilakukan dengan secara bersama-sama dengan orang-orang dari masing-masing kelompok Islam yang akan dilibatkan. Selain itu, ada 3 tahapan utama dalam proyek ini : Residensi seniman di Lingkungan Islam --> Pameran seni rupa dan diskusi di masjid --> Presentasi proyek di galeri seni

Residensi Seniman

3 seniman yang tergabung dalam proyek ini akan melakukan residensi intensif. Residensi berlangsung selama 7 sampai 10 hari. Selama mempersiapkan residensi ini, tim kerja proyek bekerjasama dengan Lifepatch untuk peminjaman ruang sebagai kantor tim kerja Jinayah Siyasah. Residensi ini adalah proses kajian untuk mendapatkan pemahaman tentang laku hidup kelompok-kelompok tersebut, menciptakan interaksi antara seniman dan kelompok-kelompok tersebut, dan untuk menggoyahkan nilai yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Dari proses residensi ini, seniman diharapkan menemukan materi bagi karya mereka. Masing-masing seniman akan ditempatkan di tiga kelompok/organisasi Islam. Masing-masing kelompok dipilih sebab dipandang cukup representatif bagi ragam rupa Islam di Indonesia.

Pameran Seni Rupa di Komunitas Islam

Karya seniman hasil dari residensi akan dipamerkan di lingkungan komunitas Islam. Adalah Kompleks Pusat Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak yang akan menjadi lokasi pameran. Pameran di komunitas Islam ini selain sebagai upaya untuk menciptakan ruang dan penonton baru bagi seni rupa kontemporer, juga sebagai upaya untuk “memudahkan” kelompok-kelompok tersebut melihat dan memberi respon atas karya yang berbicara tentang mereka. Sebab mereka adalah subyek inspirasi karya, penting rasanya untuk mengetahui persepsi mereka atas karya-karya tersebut. Pameran akan diadakan pada 30 Januari -- 5 Februari 2015.

Presentasi dan Diskusi Proyek

Presentasi dan diskusi proyek akan diadakan di iCAN (Indonesia Contemporary Art Network). Presentasi dan diskusi ini dimaksudkan sebagai upaya diseminasi wacana dan praktik yang hadir selama proyek ini. Presentasi dan diskusi akan diadakan pada 1 Februari 2015.

Tentang iCAN

iCan (Indonesia Contemporary Art Network) bekerja untuk mendorong perbincangan lintas-disiplin antara seni rupa, bidang-bidang seni lainnya, dan ilmu pengetahuan melalui proyek kesenian, penelitian, dan pendidikan.

Program-program iCAN antara lain: 1)Wips! (Work in Progres): forum bulanan bagi seniman, kurator, penulis, atau peneliti untuk membagikan pengalaman dan masalah yang dihadapi selama proses pengerjaan suatu proyek. 2) Penerbitan buku. Sejauh ini, iCAN telah menerbitkan beberapa buku dan kompilasi esai. iCAN juga melalukan kerjasama dengan lembaga, ruang seni, dan individu (misalnya seniman, penulis, dan peneliti) yang memiliki kesamaan visi dengan iCAN.

Seniman yang Terlibat

Octora Chan

Octora Chan

Octora Chan adalah perupa dari Bandung yang menjadi salah satu seniman dalam proyek Jinayah Siyasah.

Biografi

Dalam karya-karyanya, Octora banyak mengangkat tema sosial politik.

Di tahun 2011, Octora turut serta dalam Biennale Jogja IX. Karyanya dalam Biennale itu adalah instalasi berjudul ‘God Exile’. Octora membuat semacam rumah dari kain dimana ia menaruh video di dalamnya. Lewat karyanya itu, Octora mempertanyakan konsep kesucian lewat penyelidikannya tentang tubuh manusia. Baginya, tubuh manusia memilki paradoks yang menarik. Misalnya, soal darah yang ada di dalam tubuh manusia. Terkait kekerasan, darah yang keluar dari tubuh manusia bisa berarti kematian. Tapi darah juga bisa berarti kehidupan, contohnya darah yang keluar dari tubuh perempuan saat melahirkan. Dalam kaitannya dengan agama, baginya menarik melihat bahwa manusia selalu mengaitkan darah yang mengalir dengan “nama Tuhan”. Misalnya, manusia menganggap hidup adalah pemberian Tuhan tapi di satu sisi manusia juga rela mati demi membela Tuhan.

Referensi dan Pranala Luar

Wulang Sunu

Wulang Sunu

Wulang Sunu adalah perupa berbasis di Yogyakarta. Dia menjadi salah satu seniman dalam proyek bertajuk Jinayah Siyasah.

Biografi

Wulang adalah seniman muda yang tergabung dalam Papermoon Puppet Theatre. Kemungkinan karena aktivitasnya di Papermoon, karya-karya visual dari Wulang umumnya berbasis cerita. Dalam pameran tunggalnya, ‘Unlock’, mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Instiut Seni Indonesia (ISI) angkatan 2010 ini membuat video stop motion berdasar karya-karya drawing dan karya-karya tiga dimensinya. Video tersebut dipamerkan bersama dengan karya drawing dan karya dimensinya. ‘Unlock’ sendiri adalah cerita tentang kehidupan seorang tukang pembuat kunci. Melihat ‘Unlock’ serasa membaca buku cerita anak-anak. Proyek kuratorial ini mengajak Wulang dengan mempertimbangkan karakter karyanya.

Dalam proyek ini, Wulang akan berkarya berdasar residensinya di Jamaah Shalahudin. Proyek ini hendak melihat cerita seperti apa yang bisa diciptakan oleh Wulang berdasar hasil residensinya di organisasi tersebut. Menarik untuk melihat karya seperti apa yang bisa dihasilkan oleh Wulang setelah berinteraksi dengan anggota Jamah Shalahudin yang berumur sepantaran dengannya juga dengan mempertimbangkan latar belakang Wulang dan karakter berkaryanya.

Referensi dan Pranala Luar

Riyan "Popo" Riyadi

Riyan 'POPO' Riyadi

Dikenal dengan nama tenar "Popo", Riyan Riyadi adalah perupa dari Jakarta yang banyak bekerja di wilaha seni jalanan. Popo adalah salah satu seniman yang berpartisipasi di Jinayah Siyasah.

Biografi

Terlahir dengan nama Riyan Riyadi, seniman ini kemudian lebih dikenal dengan nama “the Popo”, karakter yang selalu muncul dalam karya-karyanya. Sebagai street artist, karya-karya Popo bertebaran di tembok-tembok Jakarta dan sejumlah kota lainya. The Popo memilki karakter sederhana, penuh kritik dan menghibur serta manis. Selain sebagai seniman, Popo juga bekerja sebagai dosen tamu untuk mata kuliah komunikasi visual di ISIP (Instiut Ilmu Sosial dan Ilmu Politk), Jakarta. Di tahun 2011, Popo mengadakan pameran tungalnya di RURU Galery.

Dalam pameran tunggalnya, Popo berkarya dengan mengeksplor beragam medium (instalasi, foto, mainan, lukisan, dan sebagainya) selain dengan medium mural yang biasa dilakukannya. Selain itu, Popo adalah seniman yang cukup sering membagikan karyanya lewat media sosial. Misalnya, setiap Idul Fitri juga Natal, Popo membuat kartu ucapan elektronik yang disebarkan di akun-akun media sosialnya. Yang menarik, di banyak kartu ucapan selamat hari rayanya itu, Popo menyingung tema-tema tentang keberagaman dan toleransi beragama dengan cara yang menghibur. Dengan mempertimbangkan kecenderungan berkaryanya dan melihat adanya perhatian khusus yang diberikan oleh Popo terhadap isu keberagaman, proyek ini tertarik mengajak Popo untuk menghasilkan karya hasil dari residensinya di lingkungan pesantren Nahdlatul Ulama (NU).

Referensi dan Pranala Luar

Profil Kurator

Sita Magfira

Sita Magfira adalah seorang kurator muda Indonesia yang berbasis di Yogyakarta. Pada bulan November 2014 dia menyelenggarakan sebuah proyek bertajuk Jinayah Siyasah yang menggunakan rumah Lifepatch sebagai ruang kerja tim produksi proyek tersebut. Pada bulan Juli 2015, Sita bergabung menjadi anggota Lifepatch.

Biografi

Sita Magfira Lahir di Palu, 17 April 1991. Lulus dari Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma, dan masih tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada. Perkenalannya dengan seni rupa bermula di tahun 2011, saat dia turut serta dalam workshop penulisan kritk seni rupa dan budaya visual yang diselengarakan oleh ruangrupa, Jakarta. Sejak 2013, beberapa kali bekerja sebagai project officer di Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Pada 2014, dia jadi salah seorang dari 12 peserta workshop kurator muda yang diselengarakan oleh the Japan Foundation dengan Ade Darmawan dan Yukie Kamiya sebagai mentor. Dari workshop tersebut, dia, bersama 3 peserta lainnya, terpilih untuk mengikuti Next Generation Curators of Southeast Asia Program di Jepang.

Tim Kerja

  1. Periset : Fatimah Zahrah, Nabila Munsyariah, Raisa Kamila, Sita Magfira.
  2. Manajer Proyek : Amarawati Ayuningtyas, Yolandri Simanjuntak.
  3. Administrator : Marsianus Bathara.
  4. Dokumentator : Wahyu Gunawan, Adiwinanto Semali.

Liputan

Sebuah artikel mengenai pameran "Playng with Boundaries", hasil dari proyek Jinayah Siyasah: Artikel Playing with Boundaries di Tribun Jogja.jpg