Kelindan Seni dan Sains Terapan

From Lifepatch - citizen initiative in art, science and technology
Jump to: navigation, search
Screen Shot Artikel di Majalah Tempo

Sebuah artikel ulasan pameran HackteriaLab 2014 - Yogyakarta di Majalah Tempo pada tanggal 11 Mei 2014. Artikel ini ditulis oleh Hendro Wiyanto dan disalin ulang oleh Andreas Siagian. Berikut isi artikel tersebut:

Kelindan Seni dan Sains Terapan

Para seniman Yogya berkolaborasi dengan sejumlah peneliti berbasis laboratorium menghasilkan karya tak lazim

SUASANA Galeri 2, Langgeng Art Foundation (LAF), Ja- lan Suryodiningratan 37, Yogyakarta, petang itu sudah mirip kapal pecah. Ember plastik, meja bambu, botol dan tabung-tabung ramping, sampai akuarium berbaur dengan juluran kabel, layar televisi LCD, dan laptop di mana-mana. Di lantai, ada silang-silang jalur yang meruapkan bau tanah, menghubungkan penonton dengan centang-perenang obyek dan pelaku eksperimen. Sejumlah peserta pameran sibuk mengutak-atik karya. Inilah pameran ”#HLab 14 ( Hackteria Lab 2014)”, proyek kerja sama antara para peretas, ilmuwan, peneliti, dan seniman, yang berlangsung sejak 25 April sampai 2 Mei ini.

Pameran ini hasil boyongan dari sejumlah riset dan lokakarya yang diadakan sebelumnya (13-25 April) di berbagai tempat di Yogya yang diselenggarakan komunitas Lifepatch (Yogyakarta) dan International Hackteria Society. Lebih dari 40 peserta dari berbagai negara memanfaatkan proyek pemetaan lingkungan yang dikerjakan sejumlah komunitas dan lembaga. Reklamasi tanah pertanian pasca-letusan Gunung Merapi (2010) dilakukan oleh Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, pengawasan sungai dan kandungan bakteri E. coli oleh komunitas Lifepatch (Yogyakarta), serta upaya pelestarian keberagaman hayati di Hutan Wonosadi oleh kelompok Green Tech. Apa yang kita temukan di pameran ini?

Sejumlah peserta lintas negara mempraktekkan biological orchestra exploitation project (BIOSC). Kita mengenal istilah ini, misalnya, sebagai institusi riset lintas disiplin yang mengembangkan bioekonomi berkelanjutan (bioeconomy science centre). Kerjanya memproduksi biomassa berbasis tumbuhan dengan memperhitungkan keberagaman hayati serta kelestarian sumber lingkungan air dan tanah. Tapi, sejauh yang tampak di ruang pameran, BIOSC adalah karya artistik bebunyian.

Para pesertanya mengamati bebatuan di pinggiran Kali Code. Mereka mengikis jamur bersel tunggal yang membentuk dinding dan menutup pori-pori batu. Itulah organisme kecil yang selama ini menyumbang kekeruhan pada air sungai. Nah, di pameran ini, kita dapat mengamati apa yang terjadi dengan jamur yang memisahkan diri dari diatom-diatom ini di dalam botol setelah contoh air terkonsentrasi. Di layar video, kita menyaksikan ”orkestrasi” bebunyian yang dilakukan warga dengan bebatuan yang sudah bersih dari jamur.

Di tengah ruangan, ada jalinan berwarna kuning dan abu-abu mirip perahu sekoci. Ini adalah semacam pompa penyedot air yang dilengkapi perangkat sistem navigasi satelit (GPS). Dengan alat ini, pengambilan dan pengamatan sampel air sungai yang tercemar dapat dilakukan dengan lebih presisi. Alat canggih ini dilengkapi relay untuk menghidupkan pompa pada titik-titik koordinat di area sungai yang sudah dipetakan.

Kita menjumpai kelindan antara proses pengamatan yang terus berkembang dan hasil akhir yang masih perlu pengujian. Dengan kata lain, kelindan antara seni dan dunia hayati adalah ambang yang terus-menerus melakukan pelintasan. Pengamatan mikroskopis pada makhluk-makhluk di luar radar pengamatan artistik yang lazim ini disebut oleh Grace Samboh, kurator pameran, sebagai disiplin ”non-seni”. Dia menulis, ”Proyek #HLab 14 adalah sejumlah instalasi bunyi, instalasi interaktif yang menggunakan makhluk hidup sebagai medium, jejak peristiwa kerja sama dengan banyak orang, gagasan, dan purwarupa.”

Ada lagi proyek ”Yogya Natto”, yang mencari bakteri natto dari tanaman beras lokal. Natto adalah makanan tradisional yang sehat berbahan kacang kedelai yang dikenal di Jepang. Sang seniman berupaya mencari kesamaan antara tempat asalnya di Jepang dan lokasi baru yang dikunjungi di sekitar Yogya melalui penelitian mikroorganisme.

Sebuah poster mencolok terpacak di dinding: ”DILDOMANCY, micro-organism macro-pleasure”. Ada sejumlah benda berbentuk batangan berbahan silikon warna-warni dipajang di atas meja. Ini adalah proyek pembuatan alat bantu seksual yang memanfaatkan bahan-bahan lokal. Hasilnya adalah personal lubricant berbasis air dan tepung dengan kadar keasaman (pH) nol. Pelumas kenikmatan personal ini lebih sehat untuk kulit dibanding yang berbahan plastik.

Percobaan lain menyasar kulit kayu pohon-pohon di Hutan Wonosadi, yang memiliki sari etanol antimikroba. Zat ini ternyata lebih tangguh dibanding anti- biotik yang selama ini dikenal. Pekerjaan ini mengingatkan upaya ”demokratisasi energi” yang pernah dipresentasikan komunitas HONF (Yogyakarta) di LAF, dua tahun lalu. HONF memprovokasi kita untuk memanfaatkan sumber energi etanol—berbasis alkohol—dari bahan jerami melalui proses peragian. Tiap 25 ton jerami akan memproduksi 1.500 liter etanol dengan kadar 98 persen atau 2.000 liter berkadar 70 persen. Adapun limbah etanol masih berguna untuk pakan ikan dan ternak serta buat pupuk.

Wacana eksperimen para seniman berbasis sains terapan—bersama penduduk setempat—semacam ini kerap disebut sebagai sains-warga, yakni sains yang bisa diinisiasi dan dipraktekkan warga didukung teknologi tepat guna dan modal swadaya. Semangat itu menjalar dari wacana seni DIY (do it yourself), DIWO (do it with others), serta sumber-sumber terbuka, bersandar pada eksperimentasi lintas jalur dan sikap mandiri.

Proyek-proyek seni seperti ini kiranya menunjukkan satu hal: perkembangan riset artistik pada ranah visual yang makin melintas ke berbagai bidang. Kritikus Allan Kaprow pernah menyebutnya sebagai seni yang memiliki kemiripan dengan kehidupan itu sendiri (”lifelike” art). Pada ranah ini, kata Kaprow, seni tidak lagi berdiskusi dengan seni yang lain, tapi dengan kehidupan luas itu sendiri, termasuk makhluk-makhluk kecil di bawah radar pengamatan biasa.

● HENDRO WIYANTO, PENGAMAT SENI RUPA

Referensi dan Pranala Luar

... and that's what google translates it to

Kelindan Arts and Applied Science

Yogya artists collaborating with a number of laboratory -based research to produce works of unusual [ edit ] ATMOSPHERE Gallery 2 , Lasting Art Foundation ( LAF ) , Ja - lan Suryodiningratan 37 , Yogyakarta , the evening had similar vessel rupture . Plastic buckets , bamboo tables , bottles and tubes slender , up aquarium mingle with overhung cable , LCD television screens , and laptops everywhere . On the floor , there are paths that criss- cross bore the smell of the ground , connecting the audience with the tick - swimmers objects and experimenters . A number of exhibitors was busy fiddling with the work . This is the exhibition " # HLab 14 ( Hackteria Lab 2014 ) " , a cooperative project between the hackers , scientists , researchers , and artists , which lasted from April 25 to May 2 this . The exhibition is the result of a number of research and boyongan workshop held earlier ( April 13 to 25 ) in various places in the community organized Lifepatch Yogya ( Yogyakarta ) and the International Society Hackteria . More than 40 participants from various countries utilize environmental mapping projects undertaken a number of communities and institutions . Farmland reclamation of post - eruption Mount Merapi ( 2010) conducted by the Laboratory of Microbiology, Faculty of Agriculture , Gadjah Mada University , river monitoring and content of the bacteria E. coli by Lifepatch community ( Yogyakarta ) , as well as biodiversity conservation efforts in Forest Green Tech Wonosadi by the group . What we found in this exhibition ? A number of participants across the country practicing biological exploitation orchestra project ( BIOSC ) . We are familiar with this term , for example , as an interdisciplinary research institution that develops sustainable bioekonomi ( bioeconomy science center ) . It works by producing biomass -based plants account the biological diversity and environmental sustainability of water and soil . But , as far as appears in the exhibit hall , BIOSC are artistic works of sounds . The participants observed the rocks on the outskirts of the Code . They erode a single -celled fungus that forms the walls and cover the rock pores . That tiny organisms that have contributed to the turbidity of the river water . Well , in this exhibition , we can observe what is happening with the fungus that broke away from the diatoms in the bottle after water sample is concentrated . On the video screen , we watched the " orchestration " sounds were made ​​citizens by the rocks that have been clean from mold . In the middle of the room , there is a tangle of yellow and gray like a boat lifeboat . It is a sort of sump pumps are equipped with a satellite navigation system device ( GPS ) . With this tool , making observations and polluted river water samples can be done with more precision . This powerful tool is equipped relay to turn the pump on the coordinate points in the area of ​​the river that have been mapped . We find kelindan between observations evolving process and the final results still need testing . In other words , kelindan between art and the world is a biological threshold crossings constantly doing . Microscopic observations on the creatures outside the artistic radar observation is commonly called by Grace Samboh , curator of the exhibition , as a discipline of " non - art " . He wrote , " Job # HLab 14 is a sound installation , interactive installation that uses living organisms as a medium , trace events working with a lot of people, ideas , and prototypes . " There is another project " Yogya Natto " , which seek natto bacteria from the local rice crop . Natto is a traditional food made ​​from healthy soybeans , known in Japan . The artist seeks to find similarities between the place of origin in Japan and visited the new location around Yogya through the study of microorganisms . A group consisting of striking posters on the wall : " DILDOMANCY , micro - organisms macro - pleasure" . There are a number of rod -shaped objects made ​​from silicone colorful display on the table . It is a project of making sexual aids that utilize local ingredients . The result is a water -based personal lubricant and flour with the acidity ( pH ) of zero . Lubricants personal enjoyment is healthier for the skin than plastic . Another experiment targeting the bark of the trees in the forest Wonosadi , which have antimicrobial ethanol extract . This substance proved to be more resilient than the anti - biotic is known . The work is reminiscent of efforts " democratization of energy " ever presented HONF community ( Yogyakarta ) in LAF , two years ago . HONF provoke us to harness the energy source - based alcohol - ethanol from straw material through the process of fermentation . Every 25 tons of hay will produce 1,500 liters of ethanol with a concentration 98 percent or 70 percent yield 2,000 liters . The ethanol waste is still useful for fish and animal feed as well as for fertilizer . Discourse experimental applied science -based artists - with - locals of this kind are often referred to as a science - citizens , the science that can be initiated and supported residents practiced appropriate technology and capital self . The spirit that radiates from the discourse of art DIY ( do it yourself ) , DIWO ( do it with others) , as well as open sources , to rely on experimentation and independent attitude cross paths . Art projects such as this would indicate one thing : artistic research developments in the visual realm increasingly passed to various fields . Critic Allan Kaprow once referred to it as an art that has similarities with life itself ( " Lifelike " art ) . In this realm , said Kaprow , art is no longer discuss with other arts , but with life itself broad , including small creatures under the radar of ordinary observation .