Open Lab OK. Video 2015

From Lifepatch - citizen initiative in art, science and technology
Jump to: navigation, search
Peserta Open Lab, (berdiri kiri ke kanan): Andreas Siagian, Miebi Sikoki, Riksa Afiaty, Dholy Husada, Dale Gorfinkel, Benny Wicaksono. (Duduk kiri ke kanan): Aditya Adinegoro, Adhari Donora, Helmi Hardian, Oo Uncletwis, Budi Prakosa

Open Lab merupakan salah satu program dalam Orde Baru, OK. Video - Indonesia Media Arts Festival 2015.

Deskripsi Program

Open Lab merupakan salah satu program dalam Orde Baru, OK. Video - Indonesia Media Arts Festival 2015. Program ini mengajak 4 komunitas yang bekerja dengan aplikasi kreatif teknologi untuk bekerja sama dalam memadukan, bertukar dan menghasilkan sebuah kerja kolaborasi dalam durasi waktu 5 hari selama festival berlangsung. 4 komunitas ini dipandu selama durasi waktu tersebut oleh kurator yang telah dipilih dan kerja mereka berlandaskan pada gagasan tema festival OK. Video kali ini, yaitu "Orde Baru".

Detail Program

Program Open Lab berlangsung pada:

  • Hari/Tanggal: 14 - 19 Juni 2015
  • Waktu: 12.00 - 18.00 WIB
  • Tempat: Bangsal Galeri Nasional Indonesia
  • Alamat: Jl. Medan Merdeka Tim. No.14 Gambir Kota Jkt Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jkt 10110 Indonesia

Presentasi Publik berlangsung pada:

  • Hari/Tanggal: 9 Juni 2015
  • Waktu: 18.00 WIB
  • Tempat: Bangsal Galeri Nasional Indonesia
  • Alamat: Jl. Medan Merdeka Tim. No.14 Gambir Kota Jkt Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jkt 10110 Indonesia

Kuratorial

Poster Publikasi Open Lab OK Video 2015

Apabila kita melihat kembali ke masa Orde Baru, kebebasan berkumpul, berserikat, dan mengeluarkan pendapat sangat dibatasi karena dianggap dapat mengancam dan menggoyahkan eksistensi sebuah kekuasaan. Kita digiring untuk melakukan sesuatu dalam sebuah desain yang mengarah pada keseragaman dalam balutan propaganda kesatuan dan persatuan sebuah bangsa. Hilangnya kebebasan berekspresi dan represi terhadap narasi di luar narasi resmi pemerintah inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa seni di Indonesia, terutama terkait dengan teknologi media, tidak muncul di tahun ‘80-an. Yang berlanjut pada hilangnya kultur medium pada karya-karya seni media yang lahir kemudian di tahun ‘90-an.

Kini, ketika batasan-batasan itu runtuh, berbagai macam metode dan cara untuk bekerja secara bersama-sama terbuka luas. Platform kolaborasi mulai menandai kebebasan tersebut, yang pada saat ini, kita akan menggali potensi dari berbagai perspektif dan interdisipliner untuk menghubungkan praktek dan penelitian dari sebuah media (seni) dan teknologi sehingga dapat mengeksplorasi bagaimana produksi budaya kontemporer dapat memberikan pengetahuan tentang isu-isu yang kita hadapi sekarang.

Open Lab OK. Video adalah sebuah landasan dimana seniman berperan sebagai tukang ngoprek sekaligus menjadi kritis terhadap apa yang mereka kerjakan. Pada awalnya ini adalah sebuah usaha untuk memetakan cara kerja sekaligus menginvestigasi ide dibalik berbagai praktek seniman atau inisatif seni media di Indonesia. Namun lambat laun gagasannya merambah menjadi sebuah pertanyaan tentang bagaimana di masyarakat, ada sebagian dari kita yang menggunakan (seni) media yang tentu saja tidak hanya berkembang di ranah teknis atau hal-hal yang membicarakan mediumnya namun juga kritiknya yang beriringan dengan teknologi dan gagasan seni rupa.

Dengan menghindari jargon inovasi ataupun teknologi canggih, mereka justru menempatkan diri untuk menghasilkan diskusi dari konsep media itu sendiri. Mereka tidak didudukan sebagai seorang ilmuwan yang akan menawarkan sebuah solusi, tapi justru seseorang yang mempertanyakan sistem, mencoba kritis terhadap industrinya, kritis terhadap idenya atau bahkan mungkin sejarah teknologinya. Ada sisi polemis dari sebuah karya yang pada akhirnya masih menyisakan ruang untuk berpikir atau memaknai ulang apa yang sudah taken for granted. Jika kita tidak bisa membuat sistemnya, maka marilah kita yang melakukan penetrasi sistemnya untuk mengatasi atau menyiasati keterbatasan teknologi sehari-hari.

Maka istilah Open Lab OK Video dirancang sebagai tempat bertemunya kerja-kerja lintas disiplin untuk memperluas dan memperdalam pemahaman kita tentang sebuah isu yang akhirnya memungkinkan kita untuk saling mendengarkan, mengelaborasi dan menciptakan ulang dari teknologi Barat yang sudah kita terima begitu saja; kita yang tidak punya sejarah gagasan (teknologi Barat) yang panjang, namun kita memiliki dan dikelilingi berbagai perangkat dan produk canggih di dalam keseharian.

Jika ada makna seni tersirat disini, itu bukanlah sebagai akumulasi dari benda-bendanya, tetapi sebagai cara mendekati pengetahuan, dan melihat pengetahuannya bukan sebagai akumulasi data, tetapi sebagai mekanisme yang fleksibel dan organik untuk membaca sebuah realitas keseharian yang bersinggungan dengan teknologi. Seni sebagai cara berpikir, memperoleh pengetahuan dan sebagai alat untuk menumbangkan konvensi pembentukan budaya lama. Mungkin kekacauan adalah bagian dari proses tersebut, dimana keterhubungan yang tak logis sama pentingnya dengan yang logis, dan semuanya terjadi saat kita berusaha untuk membangun sistem yang baru.

Jakarta, Anti-Bobo 2015

Kurator

Program Open Lab dikuratori oleh Riksa Afiaty.
Riksa Afiaty

Riksa Afiaty adalah seorang kurator yang juga aktif berorganisasi bersama ruangrupa.

Riksa Afiaty sudah terlibat di Jakarta Biennale sejak 2013, sebagai koordinator artsitik dan pameran. Sebelumnya perempuan yang lahir di Bandung pada 1986 ini menimba pengalaman dan mengasah ilmu di OK. Video Festival pada 2011 dan 2013. Riksa juga banyak belajar dari residensi di Rumah Seni Cemeti pada 2013 dan lokakarya kurator di Japan Foundation Jakarta pada 2014. Sebagai kurator dan ko-kurator, ia sudah terlibat di sejumlah pameran di Jakarta dan Yogyakarta dari 2011; beberapa di antaranya Regeneration, Ayatana: On Mobility, dan Lukisan yang Baik: 40 Tahun Desember Hitam. Saat ini Riksa aktif berkegiatan di ruangrupa sebagai koordinator Art Lab.

Peserta

Adapun peserta Open Lab antara lain adalah:

Dokumentasi

Berikut dokumentasi video acara ini:

Berikut dokumentasi foto terpilih dari acara ini: