SALAM

From Lifepatch - citizen initiative in art, science and technology
Jump to: navigation, search
Belajar dan Bermain, salah satu kegiatan SALAM

(Diambil dari blog Sanggar Anak Alam di Wordpress)

Sanggar Anak Alam (SALAM) adalah sebuah sekolah alternatif yang memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak kecil dan remaja yang berbasis di Nitiprayan Yogyakarta. SALAM juga sangat aktif dalam pendidikan untuk pemberdayaan untuk seluruh lapisan masyarakat.

Biografi

SANGGAR ANAK ALAM (SALAM) berdiri pada tanggal 17 Oktober 1988 di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Lawen adalah desa terpencil, berketinggian 1000 m di atas permukaan laut. Enam puluh kilometer dari kota Banjarnegara ke arah utara. Pada awalnya, SALAM prihatin terhadap kondisi anak-anak Sekolah Dasar (SD) yang tidak dapat membaca dengan lancar dan memahami kata atau kalimat dengan baik, meskipun mereka sudah hampir lulus. Masalah yang lain yang terkait dengan pendidikan adalah tingginya jumlah pernikahan dini yang menyebabkan masalah kesehatan seperti tingginya angka keguguran dan kematian ibu melahirkan.

Sejarah

Sanggar Anak Alam di Nitiprayan Yogyakarta

Diawali oleh 2 orang relawan dan di dukung dengan sejumlah buku serta beberapa fasilitas yang lain, SALAM memiliki 50 murid. Dalam dua tahun, SALAM memiliki 160 murid, 14 relawan dan jumlah buku serta alat bantu belajar yang semakin berkembang. Aktivitas yang dilakukan di Lawen adalah pendidikan anak pra sekolah, bimbingan belajar, pertanian organik, peternakan, pertukangan dan seni budaya. Dalam tingkat masyarakat desa, SALAM memprakarsai terbentuknya kelompok tani untuk menyediakan tenaga kerja murah dan melawan lintah darat serta pengijon. Selain itu, bekerjasama dengan PUSKESMAS setempat, SALAM memulai pelatihan dukun bayi dan tenaga kesehatan. Saat ini, aktivitas tersebut sudah dilakukan oleh komunitas masyarakat setempat.

Tahun 2000, Salam memulai aktivitasnya di Kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul, sebuah kampung yang terletak diperbatasan antara Kodya Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. SALAM melakukan desain ulang untuk menyesuaikan dengan kondisi di Kampung Nitiprayan. Masalah yang terjadi di kampung ini pada saat itu antara lain tingkat kesadaran orang tua terhadap pendidikan anak cukup rendah. Selain itu, perhatian terhadap pendidikan anak usia dini juga sangat kurang. Dibantu oleh beberapa relawan, SALAM mengadakan pendampingan belajar bagi anak usia sekolah, yang kemudian dikembangkan menjadi beberapa aktivitas lain yaitu: Program Lingkungan Hidup: kompos, beternak, daur ulang kertas, dan briket arang. – Kegiatan Seni dan Budaya berupa kegiatan teater, musik dan tari. – Perpustakaan anak – Jurnalistik Anak melalui media Halo Ngestiharjo dan Bulletin SALAM. – Pendidikan anak usia dini melalui penyelenggaraan Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak.

Sebagian besar anak di kampung Nitiprayan adalah anak petani dan buruh. Anak-anak tersebut mendapat pendidikan formal di sekolah. Aktivitas yang dilakukan SALAM untuk anak usia sekolah adalah kegiatan tambahan yang dilakukan untuk mengenalkan nilai-nilai lokal melalui pembelajaran langsung dari lingkungan sekitar. Tahun 2005, Salam bekerjasama dengan Komunitas Gunung Balong, Lebak Bulus, Jakarta melakukan pendampingan belajar anak putus sekolah di lokasi tersebut. Anak-anak di komunitas ini adalah anak pemulung. Sebagian besar waktu bermain dan belajar mereka terabaikan karena mereka harus bekerja membantu orang tua.

Aktivitas yang dilakukan SALAM adalah pendidikan anak pra sekolah dan pendidikan setingkat sekolah dasar. SALAM membawa semangat yang sama untuk menumbuhkan rasa solidaritas dan memberikan kesempatan belajar yang sama bagi setiap orang, meski terdapat perbedaan latar belakang anak antara komunitas Gunung Balong dan Kampung Nitiprayan. Sanggar Anak Alam (SALAM) mempunyai perhatian khusus terhadap proses imajinasi yang merdeka, penguasaan kemampuan dan sikap sosial anak sejak dini. Alam dan lingkungan menjadi media belajar untuk lebih mengenal diri sendiri dan dunia sekitar.

Selain itu, SALAM juga membangun proses belajar dengan guru sebagai pemandu dengan cara menciptakan kesempatan bagi anak untuk berekspresi dan bereksplorasi sehingga anak dapat berkembang utuh sebagai pribadi yang bebas, mandiri dan bertanggung jawab. Program: SALAM berkeinginan membuat proses belajar anak dalam rentang usia manapun menjadi proses belajar yang menyenangkan. Sebagai bagian dari masyarakat, SALAM mencoba merealisasikan ide-ide pendidikan alternatif berbasis lingkungan lokal. Kesederhanaan, lokalitas dan persahabatan dengan lingkungan merupakan tawaran yang diberikan oleh SALAM. Selain itu, SALAM berusaha agar akses pendidikan dapat terjangkau oleh anak-anak dari semua lapisan masyarakat.

Aktifitas

Kegiatan yang dilakukan SALAM JOGJA:

  1. Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak
    Pilihan SALAM untuk terjun dalam pendidikan anak usia dini, salah satu alasannya adalah asumsi bahwa lima tahun pertama awal pertumbuhan adalah usia emas bagi perkembangan anak hingga dewasa. Dunia anak adalah dunia bermain, untuk memfasilitasi kebutuhan itulah SALAM memanfaatkan lingkungan terdekat sebagai media untuk belajar.
  2. Pendampingan Anak Dan Remaja
    Perhatian SALAM terhadap pendidikan anak dan remaja menitikberatkan pada proses belajar bersama memanfaatkan potensi lingkungan sekitar. SALAM berusaha memberikan ruang dan kesempatan bagi remaja untuk mengembangkan diri melalui beberapa kegiatan: – Jurnalistik Anak: Kegiatan jurnalistik dituangkan melalui media “Koran Hallo Ngestiharjo” dan “Bulletin SALAM”. – Seni: Memberikan ruang untuk berekspresi dan kreasi melalui media teater dan seni musik dan tari. – Lingkungan Hidup: Anak dan remaja diajak untuk mengenal sejak dini potensi lingkungan yang ada disekitar mereka. Kegiatan yang dilakukan antara lain: bercocok tanam, pembuatan kompos, pembuatan kertas daur ulang dan beternak. – Sanggar Sore: Berupa pendampingan belajar untuk mata pelajaran sekolah. – Perpustakaan: Penyediaan buku bacaan bagi anak dan orang dewasa. Kegiatan diatas diadakan untuk mensiasati ruang bermain publik yang semakin sempit dan makin tingginya beban pendidikan formal yang menyebabkan kesempatan anak dan remaja untuk berkreasi dan berekspresi menjadi terbatas.
  3. SD SALAM
    Berawal dari keprihatinan akan situasi pendidikan dasar di Indonesia, SALM memberanikan diri untuk membuta sebuah model pendidikan yang lebih memanusiakan peserta didik. SD SALAM dibuka mulai tahun ajaran 2008/2009.

Selain kegiatan yang terkait dengan anak-anak, SALAM juga menyelenggarakan kegiatan pendidikan bagi orang dewasa melalui pertanian organik dan berbagai diskusi terkait dengan isu pendidikan.

Legalitas Organisasi

Saat ini SALAM sudah menjadi sebuah badan hukum yang sah. Menilik catatan perjalanan sejarah dan kegiatan yang pernah dan sedang dilakukan oleh SALAM, para anggota SALAM bersepakat memilih Perkumpulan sebagai legalitas organisasi, karena bentuk inilah yang paling sesuai dengan karakteristik SALAM.

Fasilitator

Di Sanggar Anak Alam, kami menyebutnya fasilitator untuk para pendamping atau teman belajar anak. Di Tahun 2012, Sanggar Anak Alam memiliki:

  1. Sekolah KB (Kelompok Bermain)
  2. TA (Taman Anak)
  3. SD (sekolah Dasar)

Selain itu SALAM juga sedang mempersiapkan SMP dan masing-masing ada tim fasilitatornya. Anak-anak biasa memanggil fasilitator sesuai dengan kebisaaan dirumahnya, ada yang memanggil bu, mbak, mas, pak, bang, dan yang lainnya.

Referensi dan Link Eksternal