Seri Kuliah Gender, di Rumah Lifepatch, 24-27 Januari 2018

From Lifepatch - citizen initiative in art, science and technology
Jump to: navigation, search
Para peserta dan pemateri berfoto bersama di hari terakhir seri kuliah gender.

Deskripsi Acara

Selama empat hari sejak tanggal 24-27 Januari 2018, Lifepatch menginisiasi seri Kuliah Gender. Seri kuliah ini mengundang Dra. Agustina Prasetyo Murniati, M.A atau yang akrab disapa Bu Nunuk sebagai pemateri. Bu Nunuk adalah seorang pengajar, aktivis, fasilitator, organisatoris, konsultan, pendamping, dan penulis yang bekerja di berbagai daerah di Indonesia serta berbagai negara lain. Kuliah diikuti oleh 35 peserta dengan berbagai latar belakang. Seri kuliah gender ini merupakan salah satu program dari rangkaian proyek Sarinah, Apa Kabarmu? yang dilakukan oleh Lifepatch bekerjasama dengan Birmingham Open Media dengan dukungan dari British Council.

Sebelum seri kuliah gender ini, Lifepatch juga mengadakan klab baca secara internal dengan fokus bacaan terkait gender. Masih ada beberapa kegiatan lain sebagai bagian dari proyek Sarinah, Apa Kabarmu? antara lain penelitian tentang sistem matriarkat di Nusa Tenggara Timur dan residensi seniman UK di Lifepatch. Presentasi akhir dari proyek ini dibayangkan akan berupa buku elektronik berisi temuan-temuan riset di Nusat Tenggara Timur dan pameran hasil residensi seniman serta temuan riset. Lifepatch juga berencana untuk mengadakan Seri Kuliah lanjutan dengan mengundang pemateri-pemateri lain untuk mengelaborasi lebih lanjut persoalan-persoalan gender.

Seri Kuliah Gender bersama dengan Bu Nunuk ini sendiri berangkat dari beberapa pertanyaan seperti: Apa itu gender? Apakah gender hanya isu perempuan saja? Bagaimana kita memahami bahwa kita hidup bersama dengan gender yang berbeda? Bagaimana cara terbaik dalam berinteraksi satu sama lain? Topik-topik yang dibahas dalam seri Kuliah Gender tersebut dirangkum dalam poin-poin di bawah ini oleh notulen kuliah: Uniph.

Suasana diskusi dalam Kelas Gender

Rangkuman Kelas

Kuliah Hari Pertama -- Pemahaman Gender serta Sejarahnya

Pada awal pertemuan, Bu Nunuk bertanya tentang apa itu gender. Peserta ada yang mengartikan gender sebagai hubungan laki-laki dan perempuan dalam ranah domestik, atau sebagai term yang lebih luas dari sekedar jenis kelamin yang berfungsi memetakan konstruksi sosial. Ada juga berbicara gender sebagai peran perempuan. Bu Nunuk kemudian menjelaskan bahwa gender tidak hanya isu soal perempuan, tapi lebih luas tentang masalah manusia yang berasal dari proses yang tidak natural, yang disebut gendering. Proses gendering itu dimulai sejak dari rahim sampai mati. Manusia lahir langsung dipengaruhi sosial budaya, disematkan agama, dan tinggal di lingkungan masyarakat yang sudah mempunyai norma dan adat. Dari konstruksi sosial membuat manusia tidak dipandang dari kemampuan pribadinya, tapi atas apa yang dikehendaki oleh lingkungannya, dan kehendak tersebut dibagi secara seksis. Hal tersebut yang menimbulkan diskriminasi dan ketidakadilan.

Isu gender diawali pada saat pembangunan oleh PBB setelah Perang Dunia II karena perempuan merasa tidak punya peran. Pada Kongres Perempuan I tahun 1975 bahkan sudah membahas tentang kepentingan perempuan yang tidak pernah diperhatikan. Kemudian diketahui bahwa sifat budaya patriarki, laki-laki sebagai ordinat dan perempuan sebagai subordinat. Dari situ gender selalu dikaitkan dengan perempuan. Padahal gender lebih tepat sebagai alat analisis untuk mencari relasi timpang berbasis kuasa, bukan hanya tentang laki-laki dan perempuan, tetapi juga tua dan muda, dan lain sebagainya. Kemudian ada yang bertanya pendapat Bu Nunuk tentang perempuan terjun dalam dunia politik. Menurut Bu Nunuk, politik itu bisa dimulai dari ranah keluarga, yaitu dengan membenahi pola pikir suami yang harus menghormati kedaulatan tubuh perempuan sehingga perempuan punya akses dan kontrol. Kemudian Tamara mempertanyakan tentang apa yang dimaksud dengan jati diri manusia yang hilang karena adanya konstruksi sosial. Bu Nunuk memberi keterangan bahwa jati diri yang hilang tersebut bisa ditemukan lagi ketika sudah menelusuri dan menyadari gendering. Kemudian manusia tersebut menjadi sadar gender yang membuat perempuan merdeka dengan tidak terlepas dari hak dan kewajiban.

Kuliah Hari Kedua -- Relasi, Kekuasaan, dan Transformasi Gender

Menelusuri matriarkat dimulai dari sejarah kehidupan manusia ketika masih dalam taraf berburu di jaman neolitikum. Pada masa itu perempuan memilih untuk memisahkan diri dari lingkungannya, yaitu dengan tinggal di hutan atau gua, karena tidak mampu bersaing dengan binatang ketika mencari makanan dan telah menyadari kebutuhan hidupnya yang berbeda, yaitu makanan khusus dan air bersih. Sedangkan laki-laki sejak awal mampu hidup nomaden dan berburu makanan dengan bersaing melawan binatang. Konsep matriarkat lebih dekat dengan alam dan mampu menyelamatkan bumi atas kesadaran keberlangsungan hidup, bukan dengan prinsip menghabiskan seperti pada patriarkat. Ketika tradisi berubah ke bercocok tanam dan berternak, laki-laki menyadari kebutuhan untuk membuat sistem keluarga guna menjaga propertinya, dari situlah muncul sistem keluarga dan kuasa laki-laki dimulai dan perempuan mulai kehilangan kedaulatan atas tubuhnya karena hak milik tersebut. Munculnya patriarki dimulai dengan hilangnya kedaulatan perempuan tersebut, yang awalnya sedikit demi sedikit kemudian menjadi tidak diakui. Kemudian perempuan itu menjadi keperempuan-perempuanan karena sudah dikonstruksi sesuai dengan kehendak laki-laki. Misalnya, dari pola pikir perempuan yang dibentuk oleh alam yang kemudian menurun pada tingkah laku, pengetahuan dan keterampilannya, hal tersebut berfungsi untuk membentuk kedaulatan pangan.


Sesi diskusi kuliah gender.jpg Sesi tanya jawab kuliah gender.jpg


Salah seorang peserta kuliah, Geger, bertanya tentang buku Sarinah Perjuangan dan Kewajiban Wanita Republik Indonesia yang ditulis oleh Soekarno. Menurut Bu Nunuk, Bung Karno menyadari kemampuan dan pengetahuan perempuan akan kedaulatan pangan dan ilmu titen sehingga Bung Karno mendukung berbagai organisasi perempuan sebagai salah satu kekuatan negara. Kemudian Akiq (peserta lainnya) bertanya tentang peran laki-laki untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan kembali ke matriarkat tidak dalam perspektif feminis karena dia laki-laki. Bu Nunuk menerangkan bahwa hal tersebut dapat dilakukan dengan perspektif maskulin dan dibahas oleh laki-laki. Wacana feminisme memang selalu tumbuh ketika didalami oleh laki-laki. Selanjutnya, Dholly yang mempertanyakan tentang konsep kecantikan Barat dan Timur, yang menurut Bu Nunuk hal tersebut adalah konstruksi budaya dan ditunggangi oleh kepentingan kapitalis. Bu Nunuk menyarankan agar perempuan lebih kritis dalam memandang konsep kecantikan tersebut karena itu ada kepentingan politik, tidak logis dan merekontruksi budaya. Kemudian ada yang bertanya tentang KDRT yang dilaporkan oleh pihak ketiga sehingga dia merasa barada di posisi yang salah. Lingkungan kadang tidak ingin mencampuri kehidupan rumah tangga orang lain. Bu Nunuk menyarankan bahwa butuh strategi dan waktu yang tepat untuk berdialog dengan laki-laki, tidak dengan cara yang keras karena akan terkesan ada yang dipaksakan.

Kuliah Hari Ketiga -- Relasi antara Sex dan Gender, Penentuan Jenis Kelamin

Masyarakat kita sudah diracuni konstruksi budaya, salah satu produknya adalah mitos yang berfungsi mengukuhkan posisi perempuan sebagai subordinat. Konstruksi budaya tersebut diamini oleh agama-agama dari langit dan mengabaikan kepercayaan leluhur (indigenous) sehingga terjadi intoleran. Kata laki-laki (male) dan perempuan (female) untuk penyebutan jenis kelamin hanya sebagai asumsi karena belum adanya realitas. Kata kelelakian (masculinity) dan keperempuanan (feminity) untuk menyebut jenis kelamin yang menurun kepada perilaku dan norma memunculkan stereotip yang membedakan suku, ras, agama, umur dan kelas sosial. Terciptanya stereotip tidak terlepas dari struktur hirarkis kelompok masyarakat, membuat pandangan menjadi sempit, terkonstruksi sehingga mengabaikan pandangan umum.


Sesi diskusi kelas gender 3.jpg Sesi diskusi kelas gender 4.jpg


Pandangan umum yang terabaikan tersebut salah satunya adalah jenis kelamin. Pranata kehidupan kemudian membuat klasifikasi jenis kelamin manusia secara global, hanya 2, laki-laki dan perempuan. Padahal jenis kelamin ada banyak. Ditentukan oleh banyak hal, seperti hormon, kromosom, genetik dan lain sebagainya, yang secara ilmiah dimasa-lalu terindikasi sebagai penyimpangan. Hasil penyimpangan tersebut harusnya dicerna dengan pola pikir yang holistik dan tidak dikotomis sebagai kelebihan atas kuasa Sang Khalik. Pranata kehidupan yang kompleks menimbulkan penekanan terhadap individu, menimbulkan gangguan psikologis dan tingkah laku, berupa gender rule behavior, gender identity atau orientasi seksual.

Kuliah Hari Keempat -- Pengarusutamaan Gender

Relasi timpang berbasis kuasa dapat terjadi di berbagai lini kehidupan, tidak hanya antara perbedaan jenis kelamin, tapi juga bisa terjadi dalam hubungannya antara guru dan murid, tua dan muda, orang-tua dan anak, bos dan pegawainya, dikarenakan sifat subordinat yang selalu mendapatkan diskriminasi. Diskriminasi tersebut dampaknya adalah sifat tidak nyaman, tapi beberapa kaum subordinat tidak menyadarinya. Laki-laki yang secara awam selalu menjadi ordinat, bisa juga menjadi subordinat misal ketika dia di-bully beberapa perempuan, karena sifat perempuan yang senang berkelompok. Atau bisa juga relasi timpang timpang pada anak laki-laki didapatkan dari ibunya.

Suasana seni diskusi 6.jpg

Hal tersebut juga dikarenakan adanya sindrom hirarkis. Selain perasaan tidak nyaman, hal tersebut adalah tidak adil. Kedamaian dunia bisa dicapai dari terciptanya kedamaian, dengan menghilangkan adanya relasi timpang dan kesadaran masyarakat berbasis gender. Ketika melalui pola pikir sadar gender dan menemukan relasi timpang, yang perlu dilakukan adalah dengan melawan. Melawan tidak harus selalu diartikan sebagai kekerasan. Melawan dapat dilakukan dengan dialog dan tidak harus sendirian, bisa mengumpulkan beberapa orang yang mengalami hal yang sama dan pola pikir yang sama untuk melawannya.

Referensi dan Pranala Luar