Difference between revisions of "Pameran Proyek Nenek"

From Lifepatch - citizen initiative in art, science and technology
Jump to: navigation, search
(Created page with "300px|thumb|right|Poster Proyek Nenek [[link ke halaman lain ]] Melalui Proyek Nenek, kami berniat untuk mempelajari praktek dan budaya tekni...")
 
(Referensi dan Pranala Luar)
Line 34: Line 34:
  
 
== Referensi dan Pranala Luar ==
 
== Referensi dan Pranala Luar ==
* [http://www.alamat-link.com Text yang tampil sebagai link]
+
* [http://lifepatch.org/Proyek_Nenek Tentang Proyek Nenek di wiki Lifepatch]
* [http://www.alamat-link.com Text yang tampil sebagai link]
+
 
  
 
[[Category: ]]
 
[[Category: ]]

Revision as of 07:53, 3 March 2015

Poster Proyek Nenek link ke halaman lain

Melalui Proyek Nenek, kami berniat untuk mempelajari praktek dan budaya teknik nenek-nenek. Kami menghabiskan waktu untuk mengumpulkan dan memahami narasi yang kaya dari kunjungan lapangan, wawancara dan nongkrong dengan dua nenek dan enam ibu anggota lifepatch. Lifepatch merupakan inisiatif warga dalam seni, ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempraktikkan budaya Do-It-Yourself , budaya yang tampaknya memiliki akar yang dalam dalam sejarah Indonesia.

Deskripsi Acara

Sisa-sisa rezim Orde Baru masih bertahan di dalam dan di sekitar resmi sanksi kelompok perempuan selama era pasca-Soeharto. Ideologi negara-Ibuisme masih sangat berhubungan dengan wanita-wanita-kelompok dan di kali, yang digunakan untuk memastikan bahwa perempuan-kelompok berfungsi sebagai instrumen "seleksi dan kontrol".

Rezim Orde Baru juga melihat sebuah kelas menengah perkotaan berkembang yang pernah menduduki hampir setengah dari penduduk Indonesia. Harapan mereka untuk keberhasilan ekonomi dan kemajuan nasional hancur ketika ekonomi Indonesia hancur selama Asian Currency Krisis 1997 / 1998.The konsekuensi ekonomi tertekan tidak terpisah dari aspek sosial budaya dan politik berumur dan dialami oleh orang Indonesia; Reformasi 1998 menunjukkan kepada kita teriakan jengkel dan kecewa dari kelas menengah perkotaan, beberapa di antaranya berubah terhadap praktek-praktek DIY, aktivisme dan budaya hacker.

Pada saat yang sama, praktik terus-menerus dari ibu-ibu dan nenek-nenek perakitan dalam kelompok dan arisans untuk merayakan praktek DIY otonom merupakan sumber penting dari dukungan bagi keluarga mereka dan untuk, bersenang-senang (iseng-iseng aja). Kami percaya bahwa cara mereka membuat dan fabrikasi hal - bersama-sama atau sendiri-sendiri - mendukung komunitas mereka dan sangat menginformasikan DIY baru-baru ini (dan hacker ??) budaya.

Proyek kami mencoba menelusuri hubungan antara DIY kontemporer budaya (Do-It-Yourself) dan budaya generasi ibu-ibu yang lahir antara tahun 1934 dan 1954. Kedua generasi DIY saling belajar, menginformasikan satu sama lain dan saling berhubungan pada banyak tingkat. Mereka berbagi perjuangan yang sedang berlangsung antara de-sentralisasi, akar rumput diri organisasi dan terpusat kontrol top-down.

Detail Acara

Acara ini akan diselenggarakan pada:

  • Hari/Tanggal: 10 Maret 2015 - 24 Maret 2015
  • Waktu: Pembukaan pameran 19.00 WIB, Hari biasa mulai 10.00-17.00 WIB
  • Tempat: Jogja Contemporary
  • Alamat: Komptleks Jogja National Museum, Jl. Prof. Ki Amri Yahya no 1 Gampingan, Yogyakarta
  • Peta:

Info tambahan

Dokumentasi Acara


Referensi dan Pranala Luar


[[Category: ]]