Difference between revisions of "Pameran Proyek Nenek"

From Lifepatch - citizen initiative in art, science and technology
Jump to: navigation, search
 
(3 intermediate revisions by 2 users not shown)
Line 3: Line 3:
  
 
=== Deskripsi Acara ===
 
=== Deskripsi Acara ===
Pameran Proyek Nenek merupakan hasil akhir dari Proyek Nenek yang dimulai pada bulan November 2014. Proyek ini merupakan sebuah kolaborasi antara Stefanie Wuschitz, Cindy Lin dan Lifepatch untuk belajar dari praktek sosial ibu-ibu yang berkaitan dengan teknologi dan pendidikan terhadap anak-anaknya.  
+
 
 +
Melalui [[Proyek Nenek]], kami berupaya  untuk mempelajari praktek-praktek dan teknik budaya nenek-nenek. Kami meluangkan waktu untuk mengumpulkan dan berusaha memahami kekayaan narasi dari kunjungan, wawancara dan ‘nongkrong’ dengan dua orang nenek dan enam orang ibu dari anggota lifepatch. Beberapa nenek menceritakan kepada kami kelompok atau organisasi perempuan dimana mereka berpartisipasi didalamnya dan bagaimana melalui kelompok-kelompok ini mereka menjalin persahabatan dan saling membantu. Kebanyakan dari mereka mengangap kelompok sebagai sarana untuk menjadi lebih kreatif dan bersenang-senang (iseng-iseng aja).
 +
 
 +
Meskipun demikian pengaruh dari sisa-sisa rezim Orde Baru masih bertahan dalam kelompok perempuan selama era pasca-Soeharto.  Ideologi negara-keibuan masih sangat berhubungan dengan kelompok-perempuan dan  digunakan untuk memastikan bahwa kelompok-perempuan berfungsi sebagai alat "seleksi dan kontrol".
 +
 
 +
Rezim Orde Baru juga dikenang sebagai era dari perkembangan kelas menengah perkotaan, mencakup hampir setengah dari penduduk Indonesia. Harapan mereka untuk keberhasilan perekonomian dan kemajuan nasional hancur ketika perekonomian Indonesia runtuh ketika terjadi krisis keuangan di Asian 1997/1998.  Konsekuensi tekanan perekonomian tidak lepas dari aspek sosial budaya dan politik yang dijalani dan dialami oleh orang Indonesia. Reformasi 1998 menyebabkan kejengkelan dan kekecewaan dari kelas menengah perkotaan, hal ini menyebabkan beberapa diantaranya terpaksa untuk memilih praktek-praktek Do-It-Yourself (DIY).
 +
 
 +
Praktek DIY ini telah ada dan diturunkan dari satu ke generasi berikutnya sepanjang sejarah Indonesia.  Kolonialisme, penjajahan dan penindasan menyebabkab pentingnya untuk selalu berusaha memperbaiki kondisi yang memprihatinkan melalui kerjasama, bekerja kreatif, ter de-sentralisasi, memungkinkan muncul dan berkembangnya budaya "Oprek".  Tujuan utamanya adalah mencari solusi konkret untuk tantangan kehidupan sehari-hari, pada saat yang sama perkembangan budaya "Oprek" memberi ruang untuk memprotes dan  melawan ketidakadilan sosial dan kronisme (KKN).
 +
 
 +
Karena ibu-ibu dan nenek-nenek secara terus-menerus berkumpul dan bertemu  dalam kelompok-kelompok dan pertemuan Arisan untuk merayakan praktek Do-It-Yourself (DIY) dan Do-It-With-Others (DIWO), mereka telah menciptakan komunitas dan sistem berbagi diantara mereka sendiri.
 +
 
 +
Kami percaya bahwa cara mereka berkreasi dan membuat barang-barang,  bersama-sama ataupun sendiri-sendiri,  telah mendukung komunitas mereka dan memberikan  informasi tentang kondisi DIY  (dan juga seni) sat ini.
 +
 
 +
Oleh karena itu proyek kami mencoba untuk menelusuri hubungan antara budaya kontemporer DIY (Do-It-Yourself) dan budaya generasi ibu-ibu yang lahir antara tahun 1934 dan 1954.  Kedua generasi DIY saling belajar, menginformasikan satu sama lain dan saling berhubungan pada berbagai tingkatan.  Kini mereka bersama-sama berjuang diantara de-sentralisasi, organisasi akar rumput mandiri dan top-down kontrol terpusat.
  
 
=== Detail Acara ===
 
=== Detail Acara ===
Line 39: Line 52:
 
|scalecontrol=yes
 
|scalecontrol=yes
 
}}
 
}}
 +
 +
=== Dokumentasi Acara ===
 +
Berikut dokumentasi terpilih dari acara ini:
 +
<gallery>
 +
File:instalasi congklak leh stefanie.jpg
 +
File:instalasi congklak.jpg
 +
File:instalasi glosari dari cindy lin.jpg
 +
File:Mba Ris membuka acara.jpg
 +
File:melihat album kenangan.jpg
 +
File:melihat video dokumenter proyek nenek.jpg
 +
File:pameran 01.jpg
 +
File:pengunjung pameran .jpg
 +
File:suasana pameran.jpg
 +
File:Tb Budiarto Stefanie dan Cindy .jpg
 +
File:teman teman pengunjung pameran.jpg
 +
File:teman teman yang datang.jpg
 +
File:video instalasi dokumenter proyek nenek .jpg
 +
File:album kenangan.jpg
 +
File:Antariksa Marketa dan Denisa.jpg
 +
File:aplikasi telepon selular .jpg
 +
File:app nenek.jpg
 +
File:cindy dan stefanie bermain congklak.jpg
 +
File:deskripsi proyek nenek.jpg
 +
File:glossary.jpg
 +
File:Ibu dari Agung geger memberikan kata sambutan.jpg
 +
</gallery>
  
 
=== Referensi dan Pranala Luar ===
 
=== Referensi dan Pranala Luar ===
 
* [http://jogjacontemporary.net/ Situs Jogja Contemporary]
 
* [http://jogjacontemporary.net/ Situs Jogja Contemporary]
  
[[Category: Proyek]] [[Category: Pameran]]
+
[[Category: Projects]] [[Category: Pameran]]

Latest revision as of 09:03, 14 March 2015

Poster Publikasi Proyek Nenek

Sebuah pameran yang akan menampilkan hasil dari Proyek Nenek, sebuah proyek kolaborasi antara Stefanie Wuschitz, Cindy Lin dan Lifepatch.

Deskripsi Acara

Melalui Proyek Nenek, kami berupaya untuk mempelajari praktek-praktek dan teknik budaya nenek-nenek. Kami meluangkan waktu untuk mengumpulkan dan berusaha memahami kekayaan narasi dari kunjungan, wawancara dan ‘nongkrong’ dengan dua orang nenek dan enam orang ibu dari anggota lifepatch. Beberapa nenek menceritakan kepada kami kelompok atau organisasi perempuan dimana mereka berpartisipasi didalamnya dan bagaimana melalui kelompok-kelompok ini mereka menjalin persahabatan dan saling membantu. Kebanyakan dari mereka mengangap kelompok sebagai sarana untuk menjadi lebih kreatif dan bersenang-senang (iseng-iseng aja).

Meskipun demikian pengaruh dari sisa-sisa rezim Orde Baru masih bertahan dalam kelompok perempuan selama era pasca-Soeharto. Ideologi negara-keibuan masih sangat berhubungan dengan kelompok-perempuan dan digunakan untuk memastikan bahwa kelompok-perempuan berfungsi sebagai alat "seleksi dan kontrol".

Rezim Orde Baru juga dikenang sebagai era dari perkembangan kelas menengah perkotaan, mencakup hampir setengah dari penduduk Indonesia. Harapan mereka untuk keberhasilan perekonomian dan kemajuan nasional hancur ketika perekonomian Indonesia runtuh ketika terjadi krisis keuangan di Asian 1997/1998. Konsekuensi tekanan perekonomian tidak lepas dari aspek sosial budaya dan politik yang dijalani dan dialami oleh orang Indonesia. Reformasi 1998 menyebabkan kejengkelan dan kekecewaan dari kelas menengah perkotaan, hal ini menyebabkan beberapa diantaranya terpaksa untuk memilih praktek-praktek Do-It-Yourself (DIY).

Praktek DIY ini telah ada dan diturunkan dari satu ke generasi berikutnya sepanjang sejarah Indonesia. Kolonialisme, penjajahan dan penindasan menyebabkab pentingnya untuk selalu berusaha memperbaiki kondisi yang memprihatinkan melalui kerjasama, bekerja kreatif, ter de-sentralisasi, memungkinkan muncul dan berkembangnya budaya "Oprek". Tujuan utamanya adalah mencari solusi konkret untuk tantangan kehidupan sehari-hari, pada saat yang sama perkembangan budaya "Oprek" memberi ruang untuk memprotes dan melawan ketidakadilan sosial dan kronisme (KKN).

Karena ibu-ibu dan nenek-nenek secara terus-menerus berkumpul dan bertemu dalam kelompok-kelompok dan pertemuan Arisan untuk merayakan praktek Do-It-Yourself (DIY) dan Do-It-With-Others (DIWO), mereka telah menciptakan komunitas dan sistem berbagi diantara mereka sendiri.

Kami percaya bahwa cara mereka berkreasi dan membuat barang-barang, bersama-sama ataupun sendiri-sendiri, telah mendukung komunitas mereka dan memberikan informasi tentang kondisi DIY (dan juga seni) sat ini.

Oleh karena itu proyek kami mencoba untuk menelusuri hubungan antara budaya kontemporer DIY (Do-It-Yourself) dan budaya generasi ibu-ibu yang lahir antara tahun 1934 dan 1954. Kedua generasi DIY saling belajar, menginformasikan satu sama lain dan saling berhubungan pada berbagai tingkatan. Kini mereka bersama-sama berjuang diantara de-sentralisasi, organisasi akar rumput mandiri dan top-down kontrol terpusat.

Detail Acara

Pembukaan Pameran

Pembukaan Pameran akan berlangsung pada: Acara ini akan diselenggarakan pada:

  • Hari/Tanggal: 10 Maret 2015
  • Waktu: 19.00 WIB
  • Tempat: Jogja Contemporary
  • Alamat: Kompleks Jogja National Museum, Jl. Prof. Ki Amri Yahya no 1 Gampingan, Yogyakarta

Pameran

  • Hari/Tanggal: 10 Maret 2015 - 24 Maret 2015
  • Waktu: setiap hari pukul 10.00-17.00 WIB
  • Tempat: Jogja Contemporary
  • Alamat: Kompleks Jogja National Museum, Jl. Prof. Ki Amri Yahya no 1 Gampingan, Yogyakarta

Peta Lokasi

Berikut peta lokasi dari Jogja Contemporary: https://www.google.co.id/maps/place/Jogja+National+Museum/@-7.800231,110.353273,17z/data=!3m1!4b1!4m2!3m1!1s0x2e7a57f4de218105:0x87be2dc85f450c62

Dokumentasi Acara

Berikut dokumentasi terpilih dari acara ini:

Referensi dan Pranala Luar