Residensi UK/ID 2016 - 18

From Lifepatch - citizen initiative in art, science and technology
Revision as of 17:39, 17 July 2017 by Ferial (talk | contribs) (History History History di Flatpack Film Festival)
Jump to: navigation, search
suasana depan BoM

Pada Maret – Mei 2017 kemarin dua anggota Lifepatch (Ferial Afiff dan Sita Magfira), serta Amarawati Ayuningtyas mengikuti program UK/ID Residency yang didukung oleh British Council. Sementara residensi yang berlangsung selama 61 hari tersebut didampingi oleh rekan kerja Lifepatch yakni Birmingham Open Media (BoM).

Tentang UK/ID 2016 - 18

Residensi ini merupakan bagian dari program British Council UK/ID 2016-18 season, bertujuan membangun hubungan/kolaborasi antara seniman, produsen, kurator dan organisasi di Inggris dan Indonesia. Hubungan ini akan digunakan untuk melihat kreasi baru kreativitas Inggris di Indonesia, kreativitas Indonesia di Inggris, dan kolaborasi internasional di kedua negara.

Tentang BoM

Organisasi pendamping disana, yakni BoM; adalah sebuah organisasi yang menempa model baru praktik radikal di persimpangan seni, teknologi dan sains dengan dampak sosial yang terukur. BoM terlahir dari budaya retas, dengan program investasi berkelanjutan dalam komunitas, program lainnya adalah kawanan-seniman (fellows artist program) yang bekerja bersama BoM selama setahun, pengembangan proyek-proyek strategis dan kemitraan. BoM menguji ide-ide perintis yang menyelidiki nilai transformatif dari seni di pendidikan, kesehatan dan masyarakat. BoM memiliki ruang galeri, menyediakan tempat gratis mendukung berbagai kegiatan komunitas, memiliki program residensi, pameran, diskusi, dan presentasi. Tim BoM terdiri dari Karen Newman, Louise Latter dan Susan Kruse. Serta Patricia Nistor yang banyak membantu selama kami disana karena sedang magang di BoM.

10 kegiatan yang disoroti selama residensi

Selama disana kami bertemu banyak orang, mengikuti workshop, menghadiri pameran, terlibat dalam diskusi, turut serta dalam eksperimen kekaryaan, menonton pertunjukan, mendiskusikan berbagai perencanaan program, bertemu ilmuwan, menghadiri festival film, menghadiri presentasi, melihat dan mengamati banyak karya, mengamati kota serta tumbuh kembangnya, dan lain sebagainya. Secara keseluruhan residensi berbasis observasi ini melibatkan kami dalam 77 aktivitas, bertemu 150-an orang lebih. Serta berkunjung ke kota lain seperti London, Liverpool, dan Manchester.

Lokakarya menjadi #SERGINA bersama Elly Clarke

Gambar direbut dari FB Elly Clarke

Elly Clarke adalah seniman Inggris yang kini berdomisili di Berlin. Elly tertarik dengan dampak jaringan, mobilitas, dan teknologi komunikasi terhadap hubungan kita dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan, cara sejarah diriwayatkan dan dipelajari. Selama 15 tahun cara kerjanya kolaboratif dan partisipatif, bekerja dengan kelompok berbeda di berbagai negara. Melalui fotografi (analog, digital, perebutan-layar), video, performance, gambar, slide show, teks, basis web, sistem kurasi, serta berbagai domain publik.

Hal terbaru yang sedang dia geluti adalah #SERGINA. Sebuah identitas buatan milik bersama, melibatkan ruang fisik yang berbeda untuk kemungkinan eksplorasi lebih luas, interaksi online/offline, serta melalui Instagram. Menciptakan lagu, menggunakan gawai pintar, mengisahkan kesepian penggambaran dikotomis gangguan teknologi personal.

Melalui lokakarya kami menjadi #SERGINA, mendalami manifestonya: adalah suatu kolektif ketunggalan ‘aku’, adalah berada di satu tempat dan sekalgus, adalah nyata juga fiksi, adalah berat di luar angkasa namun halus, adalah sebuah project(ion), adalah bersaing dengan citranya sendiri namun senantiasa kalah, adalah pertapa yang bersosialisasi, adalah seksi namun cacat, adalah semua orang dan bukan milik siapapun, adalah layar yang menyembunyikan dan memperlihatkan dirinya padanya.

Kami memakai pakaian yang sama, lipsyncing salah satu lagu disaat bersamaan, tampil untuk penonton live dan online, terhubung dengan Google Hangout dan siaran langsung melalui Youtube. Sebelum memakai pakaian yang sama kami mempelajari karakter #SERGINA. Tokoh queer yang menjelma serupa dengan berbagai tampilan bintang pop. Memakai pakaian berkilat, rias wajah cenderung menor, serta lagu-lagu politis tentang lingkup sosial tertentu.

Seluruh gerakan yang kami lakukan juga berdasarkan koreografi tertulis milik Elly, dimana gerak yang sama dilakukan banyak orang. Lirik lagu yang dia berikan juga merupakan pilihan bersama, liriknya kurang lebih membicarakan tentang orang yang mendekati kami hanya untuk berjejaring, mendekati karena tubuh kami, karena ciuman yang disukai. Secara keseluruhan lirik lagu berkesan tentang ketidaktulusan lingkungan sosial.

Melalui lokakarya membuka pikiran tentang isu gender, karena Elly menyatakan tentang “escaping gender”, tentang "di luar aspek fisik" namun mempertanyakan "identitas", memperluas pemikiran tentang identitas tidak hanya tentang keturunan, jenis kelamin, atau turunan darah. Kami menjadi bagian dari #SERGINA, bukan Elly tapi bisa siapapun yang itu bagian dari budaya instan; mengenai teknologi dan budaya instan sosial media bagaimanakah simulasi "cantik". Setelah performance kami bertanya-tanya, bagaimana kalau internet itu mati, apakah #SERGINA akan berkembang?

Lokakarya mendesain permainan bersama John Sear

Lokakarya bersama John Sear

John Sear menciptakan permainan interaktif skala besar untuk ruang publik. Fokusnya adalah menciptakan pengalaman dari pengguna layar tunggal yang khas. Karyanya telah ditunjukkan di bioskop, festival permainan, museum, galeri, perpustakaan bahkan parkiran. John turut mendirikan bioskop interaktif start-up wallFour (2011), dan Renga laser-controlled, feature-length, kolaborasi canggih untuk ratusan pemain. Melalui karya wallFour, John telah banyak menembus industri permainan dan filem.

Kami pertama kenalan dengan John melalui presentasi kawanan-seniman BoM. Dia mempresentasikan rencana proyek kreatifnya bersama Katie Day, sebuah pertunjukan interaktif lintas batas antara teater dan permainan, berbasis waktu/hidup nyata (real life/time). Disitu kami menjadi penonton sekaligus pemain. Mereka membuat skenario seolah kami agen rahasia yang menyelidiki sebuah konspirasi politik. Kami benar-benar masuk kedalam mobil di parkiran, memecahkan sandi untuk mendapatkan pesan dari telpon genggam, sembunyi bila diawasi petugas parkiran. Sensasi mencekam kami alami bertiga yang berkelompok dalam menyelesaikan tugas penyelidikan. Pertunjukannya segar karena membawa cara alternatif dalam menghadirkan teater. Juga secara otomatis mengantarkan pesan ke penonton, dan menghapus batas panggung.

Dalam workshop selama 5 hari bersama John, kami belajar tentang logika rancang-permainan (game design). Mempelajari teori/bagaimana perancang permainan memproduksi karyanya, serta bagaimana manusia melalui permainan bisa menambah kemampuan dalam mengambil keputusan, menjadi solusi bagi pengidap depresi, menaikan daya reflek tubuh, meningkatkan ikatan sosial kemasyarakatan, serta bisa menjadi bagian dari kebudayaan.

Dalam teorinya John menjelaskan bahwa permainan berbeda sifat dengan berjudi, karena permainan adalah sebuah kondisi di mana pengguna diharuskan membuat serangkaian keputusan menarik dalam mengejar tujuan tertentu. Mencapai tujuan tertentu ini melalui aturan yang diciptakan dengan tingkat kerumitan bertingkat, mencobanya untuk mendapatkan umpan balik, lalu kerelaan otomatis pengguna untuk terikat menyelesaikan tujuan.

Setelahnya dengan dasar teori tersebut, jenis permainan yang dibahas beragam. Mulai dari permainan tradisional baik di Indonesia maupun Inggris, permainan konsol, permainan berbasis PC, sampai permainan daring dunia dalam genggaman gawai. Sementara John membagi seluruh permainan bersifat naratologis (permainan yang dimotori kisah-kisah) dan ludologis (permainan mekanis).

Hari kedua lokakarya kami datang ke tempat live escape game, permainan berkelompok yang bersifat teka-teki, bekerjasama mencari jalan keluar dari beberapa kamar terkunci layaknya detektif. Kemudian membuat “babling beasts cuddly audio interactive” dimana kami membuat cerita sendiri, membawanya ke pengalaman nyata, menggunakan teknologi NFC. NFC (Near field communication) adalah moda transfer data nirkabel berupa stiker bersirkuit logam lunak yang bisa di pindai gawai Anda, kemudian otomatis memunculkan data (biasanya suara), teknologi ini membuka komunikasi tanpa memerlukan koneksi internet. Terakhir kami membuat permainan twine. Twine adalah jenis permainan sumber terbuka untuk menceritakan kisah nonlinear interaktif, diterbitkan langsung ke HTML, bisa di unggah nyaris kemanapun.

Melalui lokakarya ini kita jadi bisa melihat cara lain mengangkat isu yang cukup sensitif/ serius dengan tampilan seolah ringan, membuat kami lebih mudah melihat makna yang lebih dalam di balik presentasi. Penjelasan John tentang permainan "dunia nyata" yang "menyembunyikan teknologinya" mengubah anggapan tentang variasi permainan, dimana tidak selalu menggunakan teknologi tinggi. Ini juga bagus untuk mendapatkan penjelasan singkat darinya tentang teknologi yang digunakan, serta proses pembuatan permainan. Kami jadi bisa mengerti sistem operasi di balik permainan yang selama ini banyak orang mainkan.

Diskusi sistem kerja hormon di otak bersama neuroscientists di Fakultas Medical Science, University of Birmingham

Suasana Fakultas Medical Science di Birmingham University

Dari Indonesia kami membawa purwa-rupa “PMS remedy” buatan Intan Pratiwi, dia merancangnya sebagai karya tugas akhir kuliah Desain Produk, 2005. Purwa-rupa ini menggunakan sirkuit elektronik sederhana yang mengaktifkan logam panas, memicu bebauan tertentu untuk dihirup pengguna. Tujuannya bebauan ini akan menyeimbangkan sistem hormon tidak imbang, sehingga mengurangi PMS (Pra Menstruation Syndrome/tension).

PMS remedy lebih jauh ditelisik pada pertanyaan tentang keseimbangan hormon pada manusia, melepaskan dari kelamin tertentu, apakah emosi seseorang dapat diatur bila hormonnya stabil?

Melalui rancangan purwa-rupa Intan, kami menekankan pada tiga hormon: serotonin, estrogen, dan progesteron. Produksi ketiganya dilakukan hipotalamus, bagian belakang otak bawah sebesar kacang yang berperan penting dalam mengendalikan fungsi tubuh, bagian paling kompleks. Dia pula yang mengatur suhu tubuh, sebagaimana efek saat PMS yang kerap menaikan suhu tubuh.

Minimnya pengetahuan kami tentang bagian ini, membawa kami berjumpa dengan beberapa ilmuwan yang khusus mendalami bagian otak dan kerja hormon. BoM mengontak Fakultas Medical Science - University of Birmingham, kami bertemu dengan empat orang ilmuwan dengan berbagai latar penekanan hormon melalui otak pada hidup manusia.

Penjelasan dari para ilmuwan yang menyatakan bahwa pemicu tercepat perubahan hormon melalui daya-hirup, semakin memperjelas mengapa Intan memilih bebauan dalam purwa-rupanya. Kami juga mengetahui dalam beberapa kasus hormon tidak bisa secara tepat menceritakan bagaimana emosi Anda, bahkan saat serotonin sangat tinggi tidak berarti depresi. Melalui ini kami menyepakati kebutuhan ranah psikologi dalam penelitian kreatif.

Tidak ada mesin yang bisa membaca aktivitas hormon secara langsung, hanya ada mesin untuk mendengarkan aktivitas otak. Juga ada banyak lapisan atau bagian hormon dan fungsi manusia, bekerja di bidang spesialis medis yang berbeda. Forum juga membahas oxytocin (hormon cinta) dengan perilaku anti sosial, psikopat, serta kadar serotonin. Dalam penelitian kepada para tahanan, ternyata tingkat oksitosin mereka tinggi, sedangkan menurut logika harusnya rendah. Penelitian yang sama terjadi di Israel dan Amsterdam, tentang bagaimana alkohol meningkatkan kadar oksitosin, untuk membuat Anda lebih tenang dan merasa bahagia. Ada juga oksitosin hisap, seperti obat yang dijual bebas di internet. Entah bagaimana itu menghubungkan melalui amigdala dan estrogen, untuk mengikat hubungan manusia, contoh sederhananya adalah menempatkan bayi di dada ibu segera setelah lahir adalah cara tercepat meningkatkan ikatan antara ibu dan anak.

Sebagian besar percakapan dalam forum berbicara tentang berbagai penyakit otak seperti parkinson, hipotiroidisme, neuropatologis, sistem limbik, efek alzheimer, dan menopause.

Hal yang paling menarik buat kami adalah bagaimana kerja otak mempengaruhi kepercayaan antar manusia, ikatan hubungan manusia, serta dapat digunakan untuk menelisik perilaku sosial. Kami jadi belajar bagaimana beberapa praktik diet, dan zat dapat mempengaruhi hormon, juga bagaimana beberapa sistem penghirupan bisa memicu hormon.

Kelanjutan dari pertemuan ini adalah mencari peneliti maupun ilmuwan, dari berbagai institusi di Indonesia yang berminat untuk melanjutkan proses kreatif kami dalam mengolah karya berbasis neruscience, yang bekerja dengan hormon manusia, juga masalah oksitosin.

Diskusi Islamophobia bersama The Beatfreeks Collective

The Beatfreeks Collective berdiri pada Februari 2013, adalah sekelompok perusahaan yang menggunakan kreativitas untuk kebaikan, berbasis di jantung kota Birmingham. Mereka percaya masyarakat adalah tempat yang besar untuk menghadapi masalah besar, serta memiliki potensi yang besar lebih dari yang bisa kita bayangkan. Mereka mempercayai ada ruang untuk menciptakan dunia baru sambil memperbaiki yang mereka miliki, platform untuk para aktivis seni dan pengusaha. Sebagian besar aktivitas Beatfreeks melibatkan kaum muda. Tiga program utamanya adalah Young Giant, Doink, dan Free Radical. Program pertama menitik beratkan pada gerakan anak muda untuk masa depan, sebagaimana kantong mereka berada di wilayah kumuh berisi orang kulit berwarna, mereka memancing kaum muda untuk bersuara menuju arah yang lebih baik. Dalam program kedua (Doink) merupakan wadah berdiskusi serta memanusiakan data melalui kreativitas, untuk menuangkan kisah yang luar biasa, serta memudahkan keputusan yang lebih baik. Program ketiga (Free Radical) adalah platform aktivisme seni memberdayakan kaum muda untuk melihat kecocokan mereka bersama (atau tidak).

Beatfreeks secara langsung melatih kepemimpinan dan membimbing kaum muda. Kami tidak memiliki pengetahuan dan diskusi tentang keragaman dalam bidang ras, orientasi seksual, dan pilihan karir di keluarga, walau ada orang tua yang cukup terbuka tentang perbedaan agama. Tidak umum di Indonesia memiliki agama yang berbeda dalam satu keluarga, jika kita dibesarkan oleh orang tua Kristen, maka kita tidak dapat mengubah atau menikahi seseorang dari agama yang berbeda; sebagaimana perkawinan antaragama ilegal menurut hukum Indonesia.

Faktor yang menyertai hubungan mereka dengan kaum muda, mereka banyak berbicara tentang keragaman warga Inggris, terutama dalam masalah agama, membandingkan tekanan Brexit serta serangan Westminster oleh muslim. Melalui mereka kami mengetahui tentang isu-isu Islamfobia (atau rasisme pada umumnya), bagaimana bentuknya bagi kaum muda. Masalah kaum muda atas kebutuhan mereka untuk didengarkan, persoalan finansial -terkait dengan pekerjaan-, kecemasan tentang masa depan, dll. Di satu sisi, kami mengetahui bahwa para kaum muda di Inggris berbagi masalah yang sama dengan di Indonesia, serta memiliki cara sendiri dalam mengatasi masalah.

Sementara Islamfobia sangat menarik karena Islam adalah agama mayoritas, memiliki kekuatan "untuk mengendalikan" masyarakat di Indonesia. Ini berbeda di Inggris (dan di belahan dunia lain), di mana Islam termasuk minoritas dan sering didiskriminasikan dalam tataran masyarakat -terutama setelah meningkatnya terorisme atas nama Islam-. Konteks lokal dan global dari masalah ini penting untuk dipahami, karena memungkinkan kita melihat kompleksitas dari sudut pandang yang tidak bias.

Kami mengadakan FGD informal di Beatfreeks tentang masalah muslim, beberapa orang keturunan Somalia mengisahkan pola keluarga muslim mereka, dimana peraturan keluarganya sangat ketat dipegang oleh garis lelaki. Seluruh keluarga akan menurut pada sikap bapak-bapak, kebebasan hanya milik lelaki dan perempuan tidak memiliki ruang. Tak banyak kelompok keluarga asal Somalia kami temui di Indonesia, rata-rata hanya keturunan Arab dan Cina -serta sangat sedikit keturunan India-, sehingga hal-hal yang mereka paparkan terdengar sangat asing, walaupun beberapa penyikapan dalam keluarga ada yang cukup mirip.

Ada beberapa kelompok Islam yang berbeda di Inggris. Seperti di Indonesia, mereka akan menganggap satu sama lain sebagai Islam non-Yahudi. Seperti di Indonesia, kebanyakan orang Islam di Inggris termasuk dalam golongan Sunni. Jadi, puluhan Sunni menganggap kelompok lain (Syiah dan Ahmadiyah) sebagai orang kafir. Namun di Inggris tidak ada ketegangan tinggi seperti yang kita alami di Indonesia, munculnya pernyataan publik bahwa Syiah bukan Islam, ajaran Wahabi. Kami teringat pada 2016 isu Syiah dan Sunni seolah merebak, propaganda kebencian dan isu anti Syiah di Yogyakarta cukup masif, sebagaimana banyaknya spanduk anti Syiah di jalanan (perempatan Ngipik, perempatan Mojo, perempatan Kasihan di wilayah Bantul, dan perempatan Wirosaban). Belasan spanduk berbunyi seperti “Syiah itu Sesat”, “Syiah itu PKI” dan lain sebagainya.

Menjadi Muslim di Inggris cukup kompleks karena selain menjadi kelompok minoritas, mereka juga harus menghadapi masalah kebangsaan. Sepertinya mereka berantakan antara Inggris dan Somalia; Atau Inggris dan Arab. Mereka merasa seperti mereka tidak "cukup Inggris" sebagai orang Inggris tapi di komunitas mereka sendiri, mereka akan dianggap "terlalu Inggris".

Menggunakan jilbab dan memiliki perilaku yang tepat adalah hal yang besar bagi perempuan di komunitas Islam Inggris. Berbeda dengan Indonesia, dimana tidak semua keluarga muslim mengharuskan perempuan berjilbab, tidak ada hukum/kewajiban dari masyarakat, meskipun Islam adalah agama mayoritas.

Masih ada pemimpin Islam yang suka mengutip Quran untuk membenarkan tindakan, pembenaran kontrol yang tidak adil terhadap perempuan. Hal ini terjadi di Indonesia dan Inggris, setidaknya dari pengalaman kisah beberapa perempuan. Seolah ajarannya tertutup dan tidak boleh di diskusikan, pelajari lebih lanjut, serta bersifat otoriter.

Forum juga membahas pengalaman Islamfobia dalam kehidupan. Ameera (salah satu peserta dalam forum), bercerita tentang seseorang menjatuhkan surat kabar kepadanya saat dia berada di London setelah serangan Westminster. Dua yang lain bercerita tentang pengalaman mereka mengunjungi monumen 9/11, orang-orang menatap seolah mereka adalah penyebab serangan tersebut, mereka sampai merasa perlu untuk menjelaskan tentang Islam (membela).

Turut serta dalam Recall (1to1 performance) karya Ria Hartley

Objek setelah mengikuti Recall karya Ria Hartley

Ria Hartley adalah kawanan-seniman BoM 2017. Karyanya interdisiplin, bekerja di bidang performance art dan penampilan kontemporer, mengolah site spesifik, performa, pemasangan, video, one-to-one, fotografi dan praktik sosio-politik. Praktik Ria memperhatikan ingatan, identitas, hubungan manusia, penulisan ulang narasi, kerap mengundang partisipasi dan pertukaran antara Ria dan khalayak, berusaha mengaburkan hubungan antara pemain dan penonton, ruang dan situasi untuk membuka ruang pemikiran baru dan pertukarannya. Kini Ria meneliti perawatan diri, cinta diri, reklamasi diri, representasi diri, dan realisasi diri, melalui persimpangan ras, kelas, jenis kelamin dan seksualitas. Karyanya sering berangkat dari pengalaman hidup, penelitian ekstensif dan berkolaborasi dengan seniman, akademisi dan non-seni, merupakan bagian penting dari proses kreatifnya.

Recall adalah performance satu lawan satu, live mediated yang mengundang penonton untuk menciptakan memori baru, menulis ulang momen dalam sejarah pribadi diri, berdasarkan keinginan dan imajinasi yang diciptakan.

Dalam neurologi, para ilmuwan telah mengidentifikasi bahwa pikiran manusia memasukkan informasi dari masa kini ke dalam kenangan masa lalu. Saat mengenang ingatan ditafsirkan kembali, untuk beradaptasi dalam lingkungan yang terus berubah, dibingkai ulang bagian-per-bagian dalam kehidupan. Tidak seperti film yang menampilkan acara rekaman saat ditangkap, memori manusia akan mengedit informasi untuk menyajikan sebuah cerita yang sesuai dengan realitas seseorang saat ini.

Mengikuti Recall - performance 1 to 1 sangat menarik, masuk dalam ruang gelap, duduk dihadapan televisi dengan Ria didalamnya. Teknik interaksi ini dua suara, namun Ria tidak bisa melihat kami. Walau berjarak lewat layar datar, kami bisa merasakan kehadiran fisiknya sangat dekat -seolah berhadapan langsung-. Jarak yang tercipta oleh televisi membuat kami nyaman menjawab pertanyaan Ria yang menggali ingatan, dimana ketika dikisahkan ingatan tersebut bisa sangat pribadi dan melibatkan emosi (sedih/marah), bahkan memudahkan kita yang merasa sulit membicarakan hal pribadi dengan orang asing. Semakin kami menjawab pertanyaannya, semakin kami belajar tentang diri, tentang orang-orang terdekat, serta maknanya dalam hidup. Memprovokasi sekaligus mencerahkan, membuka kesadaran misalkan ada kasus yang belum selesai di masa lalu, serta memicu untuk mengatasinya.

Selama durasi satu jam, ada beberapa menit sesi memejamkan mata, ada yang kesulitan membangun imajinasi berada di mana. Ruang gelap bisa menjadi menakutkan, kamera CCTV menambah tekanan berada di ruang tersebut, layaknya adegan interogasi di filem. Namun Ria selama berinteraksi sangat sabar menunggu jawaban. Saat sesi terakhir membuat memori baru, ada yang teringat bagaimana menciptakan ilusi baik untuk menutupi memori buruk. RIa membawa kami untuk menciptakan hal indah melalui harapan baik, dan mengulanginya setiap saat, mereformasi ingatan seperti yang kita inginkan.

Pada sesi mereformasi ingatan, Ria menunjukan sebuah objek. Tiga dari kami mendapatkan objek yang berbeda. Saat keluar ruangan, seorang penjaga pintu memberikan bingkisan berisi objek yang ada di layar, perasaan menerima hadiah ini seperti metafora dari sesuatu yang tak-mungkin menjadi mungkin, rasanya seperti mendapatkan yang kita inginkan dari set filem.

Saat awal bisa ingin lekas kelar, namun saat menghayal jadi ingin mengulangi. Setelahnya tegangan di awal berangsur hilang, bahkan merasa lebih baik, serta merasa tenang; ada kepuasan menutupi rasa takut. Selama perjalanan pulang kami masih membawa memori dari performance 1to1 bersama Ria.

Lagi-lagi kami penasaran dengan kerja otak, penciptaan ilusi, memetakan dan meningat kembali (seperti salah satu pertanyaan Ria: kapan terakhir kamu tertawa/menangis). Kami semakin bertanya-tanya bagaimana kerja memori, bagaimana ilusi tercipta dalam ingatan, atau memeakai memori baik untuk menekan yang buruk.

Sesi berbagi praktek perseorangan bersama Frictions Arts

Sesi berbagi di Friction Arts

Friction Arts telah membuat 'seni di mana Anda tinggal' selama lebih dari 23 tahun. Friction mendengarkan, bekerja, kemudian menerjemahkan pemikiran dan gagasan khalayak menjadi karya seni. Untuk berkomunikasi dengan dunia yang lebih luas, sambil tetap setia dengan suara khalayak yang mereka mainkan. Karya bisa berupa pertunjukan, instalasi, intervensi, publikasi atau apapun yang sesuai dengan konteks proyek. Friction percaya pada sifat transformatif seni, dengan masyarakat dan individu, berkomitmen untuk memperluas jangkauan seni ke tempat-tempat yang sebelumnya tidak mereka miliki. Friction berada di gedung The Edge, bekas unit industri di perbatasan Digbeth dan Highgate di pusat kota Birmingham. Terhubung dengan komunitas lokal melalui pertemanan, riwayat pribadi, koneksi profesional kelompok lokal, serta merespons budaya yang ada. Friction merayakan karakter unik Birmingham, kota andalan Inggris yang sangat beragam, kota termuda, dan tempat lahirnya era industri. Friction adalah organisasi yang dipimpin oleh seniman, dengan fokus pada penelitian dan pengembangan konstan untuk menghasilkan gagasan baru. Bertujuan untuk memahami tren masyarakat yang lebih luas, bagaimana hal-hal dipahami di seluruh dunia, serta berbagai tanggapan yang diambil orang terhadap mereka di luar wilayah sekitar. Jangkauan Friction internasional, sehingga dapat menemukan perspektif baru mengenai tantangan domestik, mungkin menemukan solusi baru dan menarik. Ini juga bisa menjadi kesempatan untuk melakukan pekerjaan eksperimental dalam konteks yang sangat berbeda. Selama 2017 Friction bekerja di Bulgaria, Finlandia dan Belanda.

Begitu berkunjung ke The Edge lokasi organisasi Friction Arts, kami merasakan keramahan dan kehangatan yang tidak kami temui di tempat lainnya di Inggris. Aura persaudaraan memang kental sekali dihadirkan disana, beberapa seniman yang terlibat cukup intens disana, juga menyatakan hal yang sama. Kunjungan pertama kami seiring dengan undangan masal, makan malam bersama kemudian ditengahnya diumumkan bahwa mereka baru mendapatkan dana untuk membeli bangunan The Edge tersebut, dari sini kami menyadari bahwa memiliki ruang sendiri, serta pendanaan adalah hal yang cukup besar di Inggris.

Kami bertemu Sandra Hall, pendiri sekaligus orang yang memegang peran utama dalam Friction Arts. Pertemuan dengan Sandra tidak melulu di The Edge, kami sempat jalan bersamanya mengunjungi Birmingham Whole Sale Market. Sebuah pasar induk yang akan ditutup, sebuah ancaman kebudayaan dari dampak pembangunan kota. Pasar menjadi program utama Friction sampai beberapa tahun kedepan, tempat yang sangat penting sebagai ruang sosial aktivitas masyarakat selain untuk mendapatkan barang murah. Mereka cukup ambisius untuk memperluas sampai di beberapa pasar di seluruh dunia.

Pertemuan berikutnya adalah sesi berbagi seharian di The Edge. Kami bertujuh membagi kisah singkat perjalanan serta proses kesenian dan kehidupan. Sampai pada proses mentoring oleh Sandra dan Lee, kami memilih puluhan benda yang ada di meja, untuk diletakan di satu tempat, dengan membayangkan “rumah”, sepanjang proses pilah dan meletakkan kami tidak boleh berbicara. Kami menentukan waktu kapan harus berhenti, kurang lebih prosesnya satu jam.

Lahir keintiman saat masing-masing mengisahkan tindakan dari objek yang kami pilih. Berbagai penggalan kisah meluncur tanpa diduga diri masing-masing, ingatan akan rumah membawa pada kisah yang berbeda dengan sesi obrolan di meja, seolah kami mengalami akselerasi untuk lebih mengenal, pendalaman satu sama lain. Proses menyusun kami juga dinyatakan Sandra cukup tenang dan pasti, biasanya pada beberapa kelompok bisa terjadi perebutan, serta tempo yang tak stabil.

Sementara kami tampak bergerak perlahan dan pasti, mengamati setiap objek dengan sungguh-sungguh. Relasi diam antara kami juga saling mengisi dengan halus, sebuah objek bisa di respon dengan objek lain dengan perlahan dan penuh makna. Saat memutuskan selesai kami juga tidak berebut, saat berbagai objek di meja sudah pindah di lantai panggung.

Dari sini kami belajar tentang kerjasama, mengamati satu sama lain, menebak arah yang akan diambil orang lain, menilai dengan sangat hati-hati apakah sesuatu objek bisa kami intervensi. Kemudian semuanya terkuak saat masing-masing berkisah makna dibalik objek tersebut. Sebuah sepatu kecil bisa berarti ganda, lilin yang dinyalakan diantara piringan hitam menjadi makna sambung. Makna rumah seolah tak berbeda bagi kami yang tinggal di belahan dunia yang berbeda, penyatunya adalah perlakuan fisik ruang rumah maupun non-fisik dari ibu/bapak (atau orang yang mengayomi) kami yang ternyata mirip-mirip semasa tumbuh kembang.

Menghadiri pameran Mineral Conflict di Art Catalyst

presentasi Nabil Ahmed

Dalam kunjungan kami ke London, Karen Newman (BoM) mengajak kami ke Art Catalyst. Kunjungan ini sangat membekas karena pameran yang sedang berlangsung disana tentang Konflik Mineral, dimana dalam salah satu ruang sorotannya berada di Papua Barat.

Art Catalyst (AC) adalah komisi seni yang eksperimental, kritis, serta terlibat dengan sains. AC memproduksi proyek provokatif, mengambil risiko untuk memicu percakapan dinamis tentang dunia kita yang terus berubah. AC adalah salah satu organisasi seni istimewa di Inggris, dibedakan penerapannya yang unik terhadap praktik sains. Fokus utama kami adalah menugaskan proyek seni, dipresentasikan di berbagai museum, galeri seni dan ruang publik lainnya di Inggris dan internasional. Selama 22 tahun AC telah melakukan lebih dari 140 proyek seniman, termasuk karya baru besar oleh Tomas Saraceno, Aleksandra Mir, Ensemble Kritis, Jan Fabre, Yuri Leiderman, Stefan Gec, Grup Otolith, Beatriz da Costa, Kira O ' Reilly dan Marko Peljhan. Serta telah menghasilkan banyak pameran, acara, pertunjukan dan publikasi, berkolaborasi dengan jurusan seni, sains dan akademisi. AC memainkan peran utama dalam pengembangan keterlibatan seniman dengan sains, dan wacana kritis seputar bidang ini. Melalui komisi, pameran dan acara kami, kami memungkinkan orang untuk memiliki pengalaman khas dan pemikiran yang melampaui batas-batas tradisional seni dan sains. Baru pada Januari 2016, AC membuka Center for Art, Science and Technology di King's Cross Area, London.

Setelah kunjungan pertama, kami memutuskan untuk kembali datang seminggu kemudian, karena ada pertemuan terbuka INTER-PACIFIC RING TRIBUNAL (INTERPRT) bersama salah satu seniman pengampu projek ini bernama Nabil Ahmed.

Nabil Ahmed adalah seorang seniman, penulis, pemusik, dan peneliti yang menangani kekerasan lingkungan dan arsitektur forensik. Tulisannya dimuat di jurnal akademis, majalah, dan berbagai publikasi seni, sains dan arsitektur. Karya dan proyek seni kolaboratifnya telah dipresentasikan internasional. Nabil adalah salah satu pendiri Call & Response, proyek seni kolektif, dan kuratorial yang berbasis di London. Dia adalah anggota Chicago Boys While We Were Dreaming They Were Singing (band 1970-an), kebangkitan kelompok musik studi neo-liberalisme. Serta menyelesaikan PhD Research Architecture di Goldsmiths.

Nabil Ahmed dalam ruang menyajikan peta, gambar dan materi arsip dari proyeknya Inter-Pacific Ring Tribunal (INTERPRT), investigasi spasial tiga tahun mengenai konflik Papua Barat/Indonesia terhadap serangkaian pengadilan alternatif mengenai ekosida. Wilayah Papua (Pasifik) adalah salah satu daerah paling beragam di dunia, dengan 32 juta hektar hutan hujan dan bakau tropis, serta lingkungan karang laut yang kaya. Ini juga merupakan lokasi konflik jangka panjang antara Indonesia dan penduduk asli Papua yang mencari penentuan nasib sendiri. Inti konflik adalah tambang Grasberg, yang berisi cadangan tembaga dan emas gabungan terbesar planet Bumi. Penelitian Nabil yang sungguh-sungguh berkontribusi untuk membangun kasus ekosida melawan negara Indonesia, yang mencakup kampanye militer Indonesia untuk pembunuhan massal penduduk asli Papua, kontaminasi tanah dan penggundulan hutan dari tambang Grasberg, serapan lahan industri dan kebakaran hutan yang disengaja. Menunjukkan penghancuran yang disengaja dari lingkungan sosial, budaya, dan alam Papua.

Melihat sajian Nabil seperti melihat sisi gelap Indonesia dari tempat yang sangat jauh, terutama yang paling misterius yakni Papua Barat, serta pertambangannya. Informasi yang sebagian besar tidak tersebar di Indonesia, hanya sedikit informasi yang bisa kita dapatkan. Proyek ini juga memberikan hasil yang berbeda karena menggunakan pendekatan teknik arsitektur, menampilkan ulang lokasi penambangan menggunakan mock-up geografis. Berakhir dengan peta "Interpacific Ring Tribunal" yang besar. Cara yang tampaknya berhasil menciptakan jarak emosional, namun membuka mata bahwa perkara pertambangan ini dampaknya tidak hanya milik Indonesia saja.

Diskusi terbuka juga mengundang pengacara internasional dari Belanda, dari pernyataan mereka kami baru tahu bahwa peradilan internasional telah mencoba mengangkat isu ini sejak lama, dan seluruh prosesnya terkait erat dengan kondisi politik Indonesia maupun internasional. Beberapa aktivis juga hadir dalam diskusi, umumnya beberapa dari mereka pernah datang ke Indonesia, khususnya Papua Barat (begitupun Nabil).

Melalui diskusi ini, kami melihat lebih luas lagi. Secara geografis Indonesia 15 kali lebih besar dari Inggris, setiap pulau besar terpisahkan laut, sehingga tidak mudah/murah untuk diakses. Seperti masalah lingkungan lain di hutan Sumatera - Kalimantan - Sulawesi, semua sektor pertambangan atau kebutuhan standar dunia dari kelas tertinggi sampai yang terendah (minyak, batu bara, nikel, emas, panas bumi, tembaga, dll), berbagai sisi Indonesia memiliki SDA (Sumber Daya Alam) super kaya yang terus dikeruk, tanpa tahu bagaimana hukumnya terhadap alam maupun manusianya.

Berdialog tentang kanal di Birmingham bersama Canal & River Trust

kanal Birmingham

Melalui Flatpack Film Festival khususnya program Floating Cinema Shorts Gongoozling Day - hari khusus diatas air, kami berkunjung ke tenda Canal & River Trust, dari sini kami mendapatkan kisah tentang sejarah kanal yang banyak melintasi kota, sampai dianggap sebagai Venesia-nya Inggris. River Trust sendiri badan amal yang secara independen melindungi 3.219km jalur air di Inggris dan Wales, menjaga sejarah, serta mengadakan program-program kemasyarakatan. Menjaga beberapa jaringan jembatan, tanggul, jalan setapak pinggir kanal, saluran air, dermaga, waduk, dll; dimana usianya bisa mencapai 200 tahun lebih. Kanal ditekankan sebagai harta nasional, memastikan agar dilindungi selamanya. Membuatnya dekat dengan masyarakat sebagai jalur pesepeda, maupun menciptakan wilayah untuk satwa liar, melepaskan penat, olahraga air, maupun sarana edukasi untuk anak-anak.

Kanal Birmingham awalnya dibangun tahun 1768 - 1772 untuk jalur batubara, untuk menghubungkan Birmingham ke London melalui Kanal Oxford. Sampai kemudian sistem kanal ini terhubung mengikuti kebutuhan transportasi ekonomis untuk seluruh pulau, serta menghubungkan wilayah tengah Inggris dengan jalur laut. Kanal memiliki hubungan kuat dengan bagaimana kota berkembang.

Beberapa kapal yang parkir di pelabuhan mini juga siap untuk dikunjungi wisatawan, bisa dimasuki guna mengalami bagaimana rasanya tinggal di kapal. Bagian yang paling menarik adalah bagaimana masyarakat membangunnya bersama, sampai ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikerjakan. Mereka membuat beberapa bagian yang sudah mati (air tidak mengalir lagi), gali secara manual dan buat airnya mengalir kembali. Beberapa tepi sungai dapat dimiliki pribadi, dibangun menjadi taman untuk mengundang lebah (mengurangi masalah kepunahan lebah).

Kanal erat kaitannya dengan sejarah Birmingham sebagai kota industri. Kanal memiliki posisi penting dalam proses distribusi komoditas sebelum sistem kereta. Kota ini bekerja sangat keras untuk membangun transportasi air. Di satu sisi, kami merasa Indonesia benar-benar diberkati dengan sungainya. Kita tidak perlu bekerja keras untuk membangun kanal agar mudah dimobilisasi sebelum sistem kereta.

Menarik juga untuk mendapatkan informasi tentang hubungan antara kanal dan keragaman di Birmingham. Sebagaimana orang River Trust berkata, "Orang tidak sadar keberadaan kanal, dengan mengatakan bahwa mereka tidak berhubungan, sebenarnya bisa jadi nenek moyang mereka datang ke Birmingham melewati kanal tersebut." Birmingham mungkin tidak beragam tanpa sistem kanal tersebut. Sementara ketika kami mempertanyakan tentang proyek air seperti yang dilakukan Lifepatch lewat Jogja River Project, mereka menyatakan tidak memiliki proyek semacam itu.

Melihat Reimaging Donald Rodney di Vivid Project

Autoicon

Vivid Projects (VP) adalah ruang kolaborasi yang mendukung praktik seni media. Berbasis di Birmingham, mendorong inovasi, risiko dan eksperimen dalam praktik artistik dan bekerja dengan seniman dan produser lintas disiplin. VP memiliki program reguler, pameran untuk umum, dan luar lokasi; mendukung komunitas kreatif regional melalui program pengembangan Black Hole Club.

Kami melihat pameran Reimaging Donald Rodney, sebuah program yang mengeksplorasi warisan digital, identitas, melalui karya seniman kulit hitam Inggris bernama Donald Rodney (1961 - 1998). Pameran pertama di Inggris yang secara khusus memeriksa praktik digital Rodney, mencakup rangkaian acara untuk mengeksplorasi potensi arsip Rodney, sebagai titik awal untuk mengeksplorasi identitas budaya, fisik dan sosial.

Donald Rodney dianggap sebagai salah satu seniman paling signifikan dari generasinya. Dia memilih untuk memasukkan kondisi medisnya dalam praktik seni, menggunakannya sebagai metafora emaskulasi hitam dan stereotip rasial. Lahir di Smethwick, West Midlands pada tahun 1961 dari orang tua asal Jamaika. Rodney dan keluarganya tinggal di Marshall St, dikunjungi oleh Malcolm X pada tahun 1965, ketika ketegangan rasial di daerah itu tinggi. Iklim rasial memiliki kesan abadi pada dirinya. Dia mengembangkan keterampilan artistiknya selama masa rawat inap yang berkepanjangan, sehingga dia secara teratur kehilangan sekolah, karena kondisinya. Setelah mengikuti kursus yayasan seni di Bournville School of Art di Birmingham, dia melanjutkan ke Nottingham Trent, di mana dia bertemu dengan Keith Piper dan Eddie Chambers.

Reimaging Donald Rodney menimbulkan pertanyaan dan mendukung khalayak untuk mengeksplorasi bagaimana teknologi digital memungkinkan, menentukan ulang dan memperluas potensi kreatif seniman yang dinonaktifkan oleh keadaan sosial, fisik dan situasional. Aspek ini dieksplorasi lebih jauh melalui pembicaraan artis dan simposium yang didukung oleh The Paul Mellon Center for Studies in British Art dan University of Birmingham. Memeriksa ruang lingkup alat digital untuk memperluas praktik artistik bagi seniman yang terpinggirkan.

Karya autoicon Rodney yang kami dapati paling menarik. Autoicon (1998), situs arsip digital asli yang dibuat oleh Mike Phillips dan anggota Donald Rodney dalam bentuk PLC (Programmable Logic Controller) adalah sebuah prangkat komputer khusus sebagai gudang pengarsipan artefak, biasanya digunakan untuk sistem kontrol industri, dengan unit prosesor komputer dia bisa menjalankan suatu program yang mengontrol serangkaian input yang berbeda, secara logis memanipulasi output yang diinginkan.

Autoicon diciptakan secara khusus dengan PLC sebagai gudang penyimpanan artefak arsip, terkait dengan Rodney. Rodney dan Mike Phillips, sebagai mantan siswa Sekolah Seni Slade, diilhami oleh Jeremy Bentham, pendirinya, yang meninggalkan instruksi untuk keabadiannya sendiri, melalui penciptaan Autoicon-nya. Autoicon dibuat dari informasi medis yang dikumpulkan seumur hidup, dengan merakit tubuh virtual dia akan dapat eksis di ruang informasi murni.

Kita hadir dan mengetik di komputer model lama, seolah bercakap dengan Rodney, yang sebenarnya sudah meninggal. Saat mengetahui bahwa ini dibangun olehnya sendiri sebelum meninggal dunia, ini menjadi memorabilia, sekaligus perpanjangan dirinya. Segera terlintas teknologi supranatural, saat kecil bermain jailangkung, seolah berbicara dengan roh tentang berbagai hal yang dia pedulikan semasa hidup. Kelindannya dengan teknologi digital dalam Autoicon, pengalaman yang sama hadir, berinteraksi dengan seseorang yang sudah tidak lagi berada di dunia. Intinya berbagai pertanyaan seputar kematian muncul saat berinteraksi dengan karya ini.

History History History di Flatpack Film Festival

Pearson performance History History History

Flatpack Film Festival berlangsung setiap musim semi di Birmingham sejak 10 tahun terakhir. Banyak orang berkumpul dari tempat yang jauh untuk menikmati film, performance, alat peraga dan kejutan. Tapi Flatpack bukan hanya festival - tapi juga keadaan pikiran, tidak terbatas pada satu waktu atau tempat. Acara tahunan ini berangkat dari 7 Inch Cinema, yang merupakan pemutaran film di pub Rainbow, Digbeth. Berkembang jadi merangkul berbagai bioskop, arsip filem, penelusuran ala detektif, dan kompilasi DVD. Flatpack percaya diri dalam menciptakan kesempatan, menjelajahi wilayah subur benjolan filem yang melawan seni lainnya, dan menunjukkan hal-hal yang tidak terlihat.

Salah satu program Flatpack adalah History History History (HHH), sebuah acara khusus dalam kategori Live Documenter/Performance oleh Deborah Pearson. Deborah Pearson adalah live artist dan penggubah sandiwara, melalui karyanya dia telah tur ke empat benua, lima belas negara, dan diterjemahkan kedalam lima bahasa.

Pearson melalui HHH menggali sejarah keluarganya untuk merenungkan bagaimana kita terus-menerus membentuk, dan menyensor masa lalu. Diawali dengan filem komedi yang dibintangi kakeknya, yang dia tonton berulang kali. Mengenai revolusi yang pecah di Budapest pada 23 Oktober 1956, yang menyebabkan ibunya mengungsi, melarikan diri bersama keluarganya saat berusia 7 tahun.

Kelucuan menjadi satir dalam menjelaskan kondisi orang-orang Hungaria yang bangkit melawan hegemoni Soviet, melawan pasukan di jalanan dari rumah mereka. Dari markas revolusioner di Bioskop Corvin. Keseluruhan hal tersebut diterjemahkan dengan longgar oleh Pearson. VHS filem komedi lawas menjadi satu-satunya penyambung antara Pearson dengan kakeknya.

Dalam gedung pertunjukan yang cukup tua awalnya kami melihat proyeksi filem komedi hitam putih di layar besar, berkisah tentang pesepak bola yang menipu. Kemudian Pearson hadir, berbicara kepada kami, memberikan narasi bahwa pemeran dalam filem tersebut adalah kakeknya. Kemudian visual berubah menjadi neneknya, kadang tokoh-tokoh revolusi. Dia duduk di meja, disudut kiri meja ada layar kecil yang terus memutarkan film komedi tersebut. Terdapat OHP di sudut kanan meja, Pearson mulai menggambarkan para tokoh politik, serta sejarahnya, kemudian dia hentikan begitu saja. Seolah ingin berbagi misteri yang sama kepada kami (penonton) dari informasi yang dia dapati. Tak pernah diketahui dengan pasti kisah-kisah tentang kakeknya tersebut, nenek/ibunya seolah tidak mau membahas situasi yang membawa sanak keluarganya pindah dari Hungaria di masa lalu, selain narasi besar

HHH menarik sebagai pengalaman pertama menonton filem dan pemaparan penelitian sejarah yang dipresentasikan dalam bentuk performance. Membiarakan kesalahan penerjemahan sebagai aspek candaan, serta seolah ada diskusi antara cucu dan neneknya. Narasi pribadi yang dipakai untuk menyampaikan sejarah sebuah negara, juga membuat kami sebagai penonton mudah berempati, memudahkan melihat kehidupan yang berhubungan dengan situasi yang lebih besar. Cara penyajian arsip dan pertunjukan, serta cara tidak konvensional menampilkan filem, terintegrasi dengan baik. Kelucuan dan kekritisan muncul pada saat yang bersamaan.

Penutup

Demikianlah sepenggal pengalaman yang kami soroti selama di Inggris. Masih banyak pengalaman lain yang tidak mampu kami paparkan disini semua, bukan berarti berbagai hal lain yang kami alami tidak menarik. Selain itu, berangkat dari 10 hal yang kami soroti ini, kami kemungkinan besar akan melanjutkan program jangka panjang bersama British Council, dan Lifepatch akan terus melihat kemungkinan bekerjasama dengan Birmingham Open Media, dalam rencananya program UK/ID ini akan berlangsung sekitar 3 sampai 5 tahun kedepan.

Referensi dan Pranala Luar