Si Singamangaraja XII

From Lifepatch - citizen initiative in art, science and technology
Jump to: navigation, search
Stempel Si Singamangaraja XII

Berikut adalah catatan dalam penelitian Lifepatch mengenai Si Singamangaraja XII dan beberapa tokoh yang terlibat dalam perang Tapanoeli 1907

Tokoh

Si Singamangaraja XII

Tarombo Kerajaan Dinasti Si Singamangaraja XII

Si Singamangaraja XII lahir di Bakara, 18 Februari 1845 dengan nama Patuan Bosar yang kemudian digelari dengan Ompu Pulo Batu. Ia juga dikenal dengan Patuan Bosar Ompu Pulo Batu, naik tahta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya Sisingamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon, selain itu ia juga disebut juga sebagai raja imam.

Pengangkatan Si Singamangaraja hanya dapat dilakukan oleh Si Onom Ompu (Si Enam Marga) – terdiri dari Bakkara, Sinambela, Sihite, Simanulang, Marbun dan Simamora melalui sebuah upacara margondang. Calon raja kemudian memohon kesiadaan pargonsi (penabuh gondang) untuk memainkan gondang agar dia bisa berdoa memohon turunnya hujan. Dia pun manortor. Biasanya, walaupun matahari panas mendenting, kekuatan “gaib” putra raja yang sedang manortor bisa membuat langit mendung dan hujan pun turun. Si Onom Ompu lalu menyambut hujan itu dengan seruan Horas! Horas! Horas!

Penobatan Si Singamangaraja XII sebagai maharaja di negeri Toba bersamaan dengan dimulainya langkah politik Kerajaan Belanda yang memberlakukan open door policy (politik pintu terbuka) di Hindia Belanda. Dimana dalam hal ini, dengan adanya politik pintu terbuka membuat Belanda harus menandatangani Korte Verklaring (perjanjian pendek) di Sumatera terutama dengan Kesultanan Aceh dan Toba karena kedua kerajaan ini juga membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Namun kemudian, dalam rangka untuk mengamankan modal asing yang beroperasi di Hindia Belanda, Kerajaan belanda mulai menerapkan Pax Neerlandica di Nusantara, yaitu penerapan dan penegasan otoritas Belanda melalui penyatuan dan pemulihan keamanan (unification dan pasification) di kepulauan Hindia Belanda dalam rangka untuk mengamankan modal asing yang beroperasi di Hindia Belanda. Salah satu langkah yang dilakukan Belanda adalah mengirimkan pasukan ke Pearaja pada tanggal 6 Februari 1878 dengan dalih melindungi para misionaris, Belanda. Sebuah langkah yang akhirnya memprovokasi Sisingamangaraja XII dan masyarakat Tano Toba untuk melawan. Pengumuman pulas (perang) pada tanggal 16 Februari 1878 oleh Si Singamangaraja XII menjadi penanda dimulainya Perang Tapanuli yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.

Setelah memimpin masyarakat Tano Toba melalui perang gerilya dan menghadapi pengejaran Kapten Hans Christoffel dan Colonnie Matjan yang terkenal berdarah dingin dan berpengalaman menghadapi pertempuran gerilya, akhirnya Si Singamangaraja XII meninggal pada 17 Juni 1907 pada pertempuran terakhir di desa Sionom Hudon - Parlilitan. Turut gugur dalam pertempuran itu putrinya yang bernama Boru Lopian dan kedua putranya yang bernama Patuan Nagari dan Patuan Anggi. Sementara keluarganya yang tersisa ditawan di Tarutung. Gugurnya Si Singamangaraja XII dalam pertempuran itu menjadi penanda berakhirnya perang Tapanuli yang telah berjalan selama 29 tahun.

Hans Christoffel

Hans Christoffel, 1900 (Collection Code: 2006/00-42-363 - Courtesy of Bronbeek Museum)

Hans Christoffel lahir pada 13 September 1865 sebagai salah satu putra Johann Christoffel dan Kathrina Battaglia dan tinggal di Rothenbrunnen, Kreis Trins, kanton Graubunden, Swiss. Ketertarikannya dalam dunia militer membawa Christoffel bergabung di di “Koninklijk Nederlands Indisch Leger” atau “K.N.I.L.” (The Royal Dutch East Indies Army) pada bulan Februari 1885. Dalam penugasannya di Hindia Belanda (Dutch East Indische), Hans Christoffel memiliki karier dan prestasi yang sangat gemilang karena selalu bisa menyelesaikan berbagai tugas yang sangat susah dan menjadi permasalahan yang cukup merugikan berbagai kepentingan Kerajaan Belanda.

Christoffel masuk ke Indonesia ketika tengah terjadi “perang pasifikasi” yang ke-empat. Bermula dari berpangkat Corporal menjadi Sergeant-Major, kemudian Warrant Officer, hingga Second Lieutenant yang menjadikannya termasuk dalam jajaran perwira di pasukan Jenderal Van Heutz. Dia ditugaskan di berbagai misi yang selama ini sangat sulit diselesaikan dan telah mengganggu pemerintahan Belanda selama satu dekade atau lebih. Pada tahun 1902, Christoffel tergabung di unit “Maréchaussée”, sebuah unit khusus yang baru dibentuk dengan seragam khusus dan dilengkapi peralatan dari senjata lokal hingga senjata api teknologi terbaru dari Eropa yang bisa menembak berulang kali. Dalam unit ini, ia dipromosikan lagi menjadi Lieutenant setelah menyelesaikan tugas “pasifikasi” dari Alas hingga Gayo di wilayah Sumatera. Usai berlibur di Eropa, Christoffel kembali ke Hindia Belanda di tahun 1906 dan langsung ditugaskan untuk menetralisir perlawanan para Raja di pulau Sulawesi, Timor dan Flores. Berlanjut pada penugasan menghentikan perlawanan rakyat Toba di bawah kepemimpinan Patuan Bosar Ompu Pulo Batu atau Si Singamangaraja XII. Christoffel bersama salah satu unit kecil kesatuan Maréchaussée yang terkenal dengan sebutan “Tiger Brigade” (Coloni Matjan) bergerak mengejar Si Sisingamangaraja XII mengelilingi daerah pegunungan Batak sejauh ratusan mil. Di tanggal 17 Juni 1907, Si Sisingamangaraja XII dan keluarganya terjebak dalam pertempuran di sebuah jurang. pertempuran terkahir yang membuat Si Singamangaraja XII bersama putri dan kedua putranya meninggal dalam baku tembak. Peristiwa yang tanpa memerlukan waktu panjang menjadi membuatnya dianggap sebagai pahlawan di negara Belanda.


Deksripsi lengkap tentang Hans Christoffel dapat diakses pada laman Hans Cristoffel >>>disini]<<<

Ludwig Ingwer Nommensen

Foto Ludwig Ingwer Nommensen tahun 1910, sumber Leiden University Library
Foto seorang Kepala Dusun dari Silindung, Batak, foto diperkirakan Raja Pontas Lumbantobing. Sumber: Leiden University Library

Ludwig Ingwer Nommensen (di daerah Batak dikenal sebagai Ingwer Ludwig Nommensen atau I.L. Nommensen; lahir di Nordstrand, Denmark (kini Jerman), 6 Februari 1834 – meninggal di Sigumpar, Toba Samosir, 23 Mei 1918 pada umur 84 tahun) adalah seorang penyebar agama Kristen Protestan di antara suku Batak, Sumatera Utara. yang berasal dari Jerman, tetapi lebih dikenal di Indonesia. Hasil dari pekerjaannya ialah berdirinya sebuah gereja terbesar di tengah-tengah suku bangsa Batak Toba yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Pada usia 20 tahun, Nommensen berangkat ke Barmen (sekarang Wuppertal) untuk melamar menjadi penginjil. Selama empat tahun ia belajar di seminari zending Lutheran Rheinische Missionsgesellschaft (RMG). Sesudah lulus, ia kemudian ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 1861. Ia ditugaskan oleh RMG ke Sumatra dan tiba pada tanggal 14 Mei 1862 di Padang. Ia memulai misinya di Barus dengan harapan akan mendapatkan izin untuk menetap di daerah Toba. Namun, pemerintah kolonial tidak mengizinkan dengan alasan keamanan. Oleh sebab itu, ia bergabung dengan penginjil-penginjil lain yaitu misionaris Pdt. Heyni dan Pdt. Klammer yang telah berada di daerah Sipirok yang setelah Perang Padri dimasukkan dalam wilayah Hindia Belanda. Di situ, sebagian dari penduduk sudah memeluk agama Islam sehingga kemajuannya lambat. Setelah berdiskusi dengan kedua misionaris ini, disepakati pembagian wilayah pelayanan, bahwa Nommensen akan bekerja di Silindung.

Kunjungan pertama ke Tarutung dilakukan pada 11 November 1863. Pada kunjungan pertama ini, Nommensen diterima oleh Ompu Pasang (Ompu Tunggul) kemudian tinggal di rumahnya yang daerahnya masuk dalam kekuasaan Raja Pontas Lumban Tobing. Dari sini Nommensen kemudian kembali ke Sipirok untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan dalam pelayanannya.

Pada pertengahan tahun berikutnya, 1864, Nommensen dengan membawa semua perlengkapannya berangkat kembali ke Tarutung, dan tiba di Tarutung pada tanggal 7 Mei 1864. Nommensen kembali ke rumah Ompu Pasang (Ompu Tunggul), tetapi dia ditolak. Di Onan Sitahuru, Nomensen duduk dan merenung di bawah sebatang pohon beringin (hariara) untuk memikirkan apa yang akan dia perbuat. Nommensen lalu pergi ke desa lain dan sampai ke di desa Raja Aman Dari Lumban Tobing. Nommensen berharap Raja Aman Dari Lumbantobing dapat mengizinkannya tinggal di atas lumbung padinya. Akan tetapi Raja Aman Lumbantobing sedang pergi kedesa lain membawa isterinya yang sedang sakit keras. Melalui seorang utusan, Nommensen menyampaikan niatnya ini kepada Raja Aman Lumbantobing, akan tetapi Raja Aman Lumbantobing menolak. Nommensen kemudian meminta utusannya ini untuk kembali menemui Raja Aman Lumbantobing untuk kedua kalinya dengan pesan, “bahwa sekembalinya Raja Aman ke desanya, penyakit istrinya akan hilang”. Raja Aman kemudian berkata, apabila perkataan Nomensen itu benar, maka dia akan mengizinkan Nomensen tinggal dirumahnya. Penyakit istri Raja Aman sembuh. Raja Aman Lumbantobing kemudian mengizinkan Nomensen tinggal di rumahnya.

Karena kehadiran para misionaris tidak disetujui oleh sebagian raja, terutama oleh mereka yang berpihak pada Si Singamangaraja XII, maka pada bulan Januari 1878, Singamangaraja sebagai raja yang, menurut pengakuannya sendiri, memiliki kedaulatan atas Silindung, memberi ultimatum kepada para zendeling RMG untuk segera meninggalkan Silindung. Pada akhir Januari, Nommensen meminta kepada pemerintah kolonial Belanda untuk mengirim tentara untuk segera menaklukkan Tanah Batak yang pada saat itu masih merdeka. Pada awal tahun 1878, pasukan pertama di bawah pimpinan Kapten Scheltens bersama dengan Kontrolir Hoevell menuju Pearaja dan disambut oleh Nommensen. Antara Februari hingga Maret, 380 pasukan tambahan dan 100 narapidana didatangkan dari Sibolga. Februari 1878, ekspedisi militer untuk menumpaskan pasukan Singamangaraja dimulai. Penginjil Nommensen dan Simoneit mendampingi pasukan Belanda selama ekspedisi militer yang dikenal sebagai Perang Toba I. Keduanya menjadi penunjuk jalan dan penerjemah, serta malah dianggap ikut berperan dalam menentukan kampung-kampung mana yang akan dibakar. Sesudah ekspedisi militer berakhir, puluhan kampung, termasuk markas Singamangaraja di Bangkara dibumihanguskan. Atas jasa membantu pemerintah Belanda, pada 27 Desember 1878, Nommensen dan Simoneit menerima surat penghargaan dari pemerintah Belanda, ditambah uang tunai sebanyak 1000 gulden.

Perang Tapanuli / Perang Batak (1878 - 1907)

Perang Tapanuli atau perang Batak terjadi selama 29 tahun dari tahun 1878 hingga tahun 1907 yang terjadi antara masyarakat Toba yang dipimpin oleh Si Singamangaraja XIII dan tentara pemerintah kolonial Belanda. Salah satu pemicu meletusnya perang di Tano Toba adalah usaha pemerintah kolonial Belanda dalam menerapkan Pax Neerlandica di Nusantara, yaitu penerapan dan penegasan otoritas Belanda melalui penyatuan dan pemulihan keamanan (unification dan pasification) di kepulauan Hindia Belanda sebagai satu kesatuan dengan wilayah Kerajaan Belanda. Hal ini dilakukan untuk membuat seluruh wilayah yang dikuasai Belanda menjadi aman dan terkendali di bawah sistem administrasi yang dikelola oleh pemerintah Belanda.

Perang Tapanuli meletus bermula dari langkah pemerintah kolonial dalam menerapkan Pax Neerlandica di Tano Toba melalui penempatan pasukkannya di Tarutung dengan dalih bertujuan untuk melindungi penyebar agama Kristen yang tergabung dalam Rhijnsnhezending. Sebuah organisasi zending yang salah satu tokoh penyebarnya di Tano Toba bernama Ludwig Ingwer Nommensen (orang Jerman). Sebuah langkah yang memicu Si Singamangaraja XIII mengambil sikap dengan perlawanan terhadap Belanda di Tarutung. Perang berlangsung selama tujuh tahun di daerah Tapanuli Utara, seperti di Bahal Batu, Siborong-borong, Balige Laguboti dan Lumban Julu. Pada tahun 1894, Belanda melancarkan serangan untuk menguasai Bakkara, pusat kedudukan dan pemerintahan Kerajaan Batak. Akibat penyerangan ini, Si Singamangaraja XII terpaksa pindah ke Dairi Pakpak.

Pada tahun 1904, pasukan Belanda, dibawah pimpinan Van Daalen dari Aceh Tengah, melanjutkan gerakannya ke Tapanuli Utara, sedangkan di Medan didatangkan pasukan lain. langkah yang semakin membuat perang semakin memanas. Hingga akhirnya, Perang Tapanuli yang telah berlangsung semenjak tahun 1878 berpuncak pada langkah pemerintah Belanda melakukan operasi militer di tahun 1907. Dalam operasi militer ini, unit kecil kesatuan Maréchaussée bernama “Tiger Brigade” (Colonnie Matjan) dibawah pimpinan Kapitein Hans Christoffel dikirim khusus untuk mengejar Si Sisingamangaraja XII dan mengakhiri perang Tapanuli. Setelah mengejar melalui daerah pegunungan Batak sejauh ratusan mil, terdapat beberapa pertempuran yang terjadi. Di salah satu pertempuran di salah satu markas persembunyian pasukan Si Singamangaraja XII dan keluarganya, meskipun Si Singamangaraja XII dan para pengikutnya berhasil melarikan diri ke hutan Simsim, Kapten Hans Christoffel dan pasukan berhasil menangkap Boru Sagala, istri Si Singamangaraja XII serta dua orang anaknya. Hingga akhirnya, setelah beberapa pertempuran, Si Singamangaraja terjebak dalam pertempuran di sebuah jurang. Dalam pertempuran pada tanggal 17 Juni 1907, Si Singamangaraja XII gugur bersama dengan putrinya yang bernama Boru Lopian dan kedua orang putranya yang bernama Sutan Nagari dan Patuan Anggi. Selain itu, juga terdapat 4 (empat) orang pengawal yang juga gugur. Keberhasilan “Tiger Brigade” (Colonnie Matjan) dibawah pimpinan Kapitein Hans Christoffel ini menjadi puncak dan tanda berakhirnya perang Tapanuli.


Lokasi dan Tempat

Bakkara

Bakkara, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, pada tahun 2017

Bakkara (Bakara) adalah nama sebuah wilayah di pinggiran barat daya Danau Toba, dekat Muara dan dalam wilayah administratif Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.

Bakkara dibelah oleh dua aliran sungai besar yang berair deras. Sungai terbesar yang dominan adalah Aek Silang yang bersumber dari air terjun yang tercurah dari bentangan perbukitan. Sungai kedua yang lebih kecil bernama Aek Simangira. Keduanya mengaliri beberapa desa dan bermuara di Danau Toba.

Bakkara sendiri dikenal sebagai pusat Kerajaan Dinasti Si Singamangaraja dan juga tempat lahirnya raja Si Singamangaraja. Di daerah ini masih dapat dijumpai tempat - tempat yang berkaitan erat dengan baik kisah maupun mitos Kerajaan Dinasti Si Singamangaraja.

Istana Kerajaan

Tombak Sulu Sulu

Tombak Sulu Sulu adalah tempat kelahiran Si Singamangaraja I.

Sionom Hudon

Sionom Hudon merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan, provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Pada zaman Belanda, desa ini masuk keresidenan Tapanuli dengan ibu kota Sibolga distrik Barus Hulu (boven barus) pusat pemerintahan kota Barus. Di desa inilah Si Singamangaraja XII gugur dalam peperangan melawan Belanda. Beberapa peninggalan bersejarah masih dapat ditemui di desa ini, salah satunya adalah makam/tempat meninggalnya dan juga markas terakhir Si Singamangaraja XII.

Markas

Makam/Tempat Meninggal Si Singamangaraja XII

Aek Sibulbulon

Bronbeek Museum

Museum Bronbeek di Arnhem, Belanda

Bronbeek adalah sebuah bangunan bekas istana kerajaan yang terletak di kota Arnhem, Belanda. Semenjak dibeli oleh Raja Belanda William III, bangunan ini disumbangkan ke Negara Belanda dan difungsikan sebagai rumah tinggal bagi para veteran tentara Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) sekaligus untuk menyimpan berbagai "souvenir" para tentara itu ketika bertugas. Karena banyaknya artefak yang tersimpan, rumah tinggal para veteran ini dikembangkan menjadi museum yang menyimpan sejarah Kerajaan Belanda di masa kolonial di Dutch East Indies (Hindia Belanda). Fokus koleksi yang dipamerkan secara permanen di Bronbeek museum adalah berbagai artefak dan arsip berisi sejarah Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) atau the Royal Dutch-Indian Army dan lawan-lawannya sebagai bagian dari sejarah kehadiran kolonial Belanda di Asia Tenggara, khususnya di Hindia Belanda. Pengembangan museum ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran terhadap sejarah dan cerita masa lalu Belanda di era kolonial dan untuk meningkatkan minat terhadap hal ini. Bronbeek museum selain menyimpan berbagai artefak sejarah dari Indonesia di masa kolonial juga menyimpan berbagai dokumentasi dan arsip tentang para tentara Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) ketika bertugas di Hindia Belanda (Indonesia). Salah satunya adalah koleksi yang berupa arsip, dokumen, foto, maupun artefak yang memiliki kaitan erat dengan Hans Christoffel ketika bertugas sebagai tentara KNIL.

Museum aan de Stroom (MAS)

Museum Aan de Stroom (MAS) di Antwerp, Belgia

Museum aan de Stroom (MAS) adalah museum terbesar yang terletak di kota Antwerp, yaitu kota pelabuhan yang selama beberapa abad menjadi titik pertemuan dan pertukaran antara orang-orang dari seluruh dunia. Museum aan de Stroom (MAS) mengoleksi berbagai artefak, karya seni, hingga berbagai benda yang terkumpul karena arus pertemuan orang-orang yang datang ke Antwerp dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda. Hingga saat ini, MAS memiliki koleksi dengan jumlah sangat banyak hingga mencapai sekitar 500.000 item dan masih terus bertambah. MAS menggunakan seluruh koleksi untuk membentuk narasi baru yang terbagi menjadi beberapa tema utama, antara lain tentang hubungan politik kekuasaan dan pelabuhan dunia. Selain itu juga bercerita tentang pengaruh makanan sebagai salah satu unsur berbentuk kebudayaan di masa lalu, sekarang dan masa depan. Hingga narasi tentang hubungan antara kehidupan dan kematian, manusia dan tuhan, maupun konsepsi di atas dan di bawah dunia. Beberapa koleksi yang disimpan di MAS (Museum Aan de Stroom) adalah benda-benda yang semula di koleksi oleh Hans Christoffel dan didapatkannya dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi. Beberapa koleksi Hans Christoffel dari Indonesia dipamerkan dalam pameran permanen MAS disertai dengan narasi tentang Hans Christoffel, Sisingamangaraja XII dan hubungan keduanya dimasa kolonial.

Antwerp, Belgia

Antwerp atau Antwerpen adalah salah satu kota pelabuhan utama di Belgia yang terletak di muara sungai Scheldt. Selain memiliki Museum aan de Stroom (MAS) yang menyimpan koleksi berupa berbagai artefak dan benda-benda koleksi Hans Christoffel, kota ini merupakan tempat Hans Christoffel menghabiskan waktunya dan tinggal bersama istrinya setelah mengundurkan diri dari Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL). Beberapa peninggalan dari Hans Christoffel selain koleksi benda bersejarah dari Indonesia yang di koleksi di MAS, antara lain adalah rumah-rumah yang dulu menjadi tempat tinggal Hans Christoffel yang tersebar di seputar kota Antwerp.

Artefak

Bendera Kerajaan Dinasti Si Singamangaraja XII

Bendera Kerajaan Dinasti Si Singamangaraja XII yang digunakan dalam perang melawan Belanda. Bendera ini sekarang menjadi koleksi MAS Antwerp di Belgia (collection Number: AE.1922.0001.0824 - Courtesy of Museum aan de Stroom)

Bendera Kerajaan Dinasti Sisingamangaraja XII adalah bendera atau lambang yang digunakan oleh Si Singamangaraja XII pada masa kerajaannya di tanah batak. Menurut berbagai sumber, gambar bendera Si Singamangaraja XII dapat kita temui di Makam Sisingamangaraja XII di Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara dan juga di Monumen Sisingamangaraja XII di Tarutung, Tapanuli Utara hingga bendera Sisingamangaraja XII yang ditemukan oleh Belanda di Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Bendera Kerajaan Dinasti Si Singamangaraja XII juga ditemukan lifepatch ketika menjalani residensi singkat di Belgia yang menjadi salah satu program Europalia Arts Festival 2017. Bendera tersebut memiliki detail yang sedikit berbeda dengan warna hitam yang terdapat di bagian atas bendera, serta tulisan - tulisan dalam aksara Batak di bendera tersebut. Bendera ini sekarang menjadi koleksi MAS di Antwerp Belgia.

Dalam penelitian lifepatch ke Sumatera Utara, Raja Tonggo yang merupakan keturunan dari Si Singamangaraja XII mengakui bahwa keluarga Raja juga memiliki Bendera Kerajaan Dinasti Si Singamangaraja XII. Bendera tersebut masih disimpan oleh keluarga raja beserta dengan peninggalan Dinasti Kerajaan Dinasti Si Singamangaraja XII lainnya. Namun dalam pertemuan dengan Lifepatch, Raja Tonggo menyebutkan bahwa tidak ada satupun barang pribadi Si Singamangaraja XII dimiliki oleh keluarga hingga saat ini. Barang pribadi milik Si Singamangaraja XII diyakini telah diambil oleh pihak Belanda pada waktu kematiannya di dusun Sindias, Parlilitan.

Kiri: Keluarga Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII memperlihatkan bendera asli Sisingamangaraja XII dalam peringatan wafatnya Sisingamangaraja XII yang ke-102 tahun di kediaman keluarga di Medan, Minggu (28/6/2010). Foto oleh Formatnews - Efendy naibaho. Kanan: Detail Bendera Kerajaan Dinasti Si Singamangaraja XII

Berikut arti gambar - gambar dalam bendera sesuai dengan bendera kerajaan Dinasti Si Singamangaraja XII yang dimiliki oleh keluarga kerajaan Si Singamangaraja XII.

  • SSXII-001.png : warna putih menggambarkan "Partondi Hamalimon" yakni mengambarkan tetang agama (Beriman Suci).
  • SSXII-002.png : warna merah merah disebut "Parsinabul dihabonaran" adalah berarti menjunjung tinggi kebenaran, atau pembela keadialan dan kebenaran.
  • SSXII-003.png : disebut "Sirungnungi na dapot bubu" adalah pisau kembar menggambarkan keadilan sosial, juga melepaskan yang terpasung dan memerdekakan yang tertindas.
  • SSXII-004.png : bulat warna putih mengambarkan "Mataniari Sidompahon" adalah matahari yang tidak bisa ditentang yang menggambarkan kekuasaan Sisingamangaraja.
  • SSXII-005.png : delapan sudut ini mengambarkan delapan penjuru angin (desa Naualu) dukungan dari delapan desa.

Selain bendera kerajaan Dinasti Si Singamangaraja XII yang dipamerkan secara permanen di Museum aan de Stroom (MAS) dengan identitas collection Number: AE.1922.0001.0824, terdapat beberapa bendera lain yang dipercaya merupakan artefak dari masa Si Singamangaraja XII dan dikoleksi oleh Museum aan de Stroom (MAS). Dalam hal ini, terdapat 4 bendera lain yang dipinjamkan oleh Museum aan de Stroom (MAS) kepada Lifepatch melalui Museum of Contemporary Art Antwerp (M HKA) untuk mendukung pameran berjudul IN SITU: Lifepatch – The Tale of Tiger and Lion di Museum of Contemporary Art Antwerp (M HKA) yang diselenggarakan pada 16 Sep 2017 - 7 Jan 2018. Empat bendera tersebut adalah sebagai berikut:

Malim

Penghayat Batak Toba dengan tongkatnya, diperkirakan di Samosir tahun 1935, dokumentasi dari KITLV

Ugamo Malim adalah agama asli yang dianut Bangso Batak sebelum agama Islam, Kristen dan Katolik dianut sebagian besar Batak Toba. Penganut Ugamo Malim disebut Parmalim, pimpinan tertinggi Ugamo Malim adalah Raja Sisingamangaraja I-XII. Saat ini Parmalim yang tersisa di Tano Batak hanya sekitar 10.000 orang. Ugamo Malim terpusat di Huta Tinggi, Laguboti Kabupaten Tobasa. Pimpinan Parmalim bernama Raja Marnangkok Naipospos, meneruskan kepemimpinan Raja Sisingamangaraja Sinambela XII.

Yang menarik adalah Ugamo Malim ini memiliki banyak kesamaan dan kemiripan dengan Agama Yahudi Kuno. Ugamo Malim telah diturunkan dari generasi ke generasi oleh Leluhur Bangso Batak (30-35 generasi) berdasarkan Tarombo (Silsilah) yang dimiliki Bangso Batak, satu generasi sekitar 25 tahun.

Tuhan dalam kepercayaan Malim adalah "Debata Mula Jadi Na Bolon" (Tuhan YME) sebagai pencipta manusia, langit, bumi dan segala isi alam semesta yang disembah oleh "Umat Ugamo Malim" ("Parmalim"). Agama Malim terutama dianut oleh suku Batak Toba di provinsi Sumatera Utara. Sejak dahulu kala terdapat beberapa kelompok Parmalim namun kelompok terbesar adalah kelompok Malim yang berpusat di Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, Kab. Toba Samosir. Hari Raya utama Parmalim disebut Si Pahasada (yaitu '[bulan] Pertama') serta Si Pahalima (yaitu '[bulan] Kelima) yang secara meriah dirayakan di kompleks Parmalim di Huta Tinggi.

Desa Naualu

Desa Naualu mempunyai arti sebagai penjuru dunia, atau delapan arah mata angin. Hal ini menjadi bukti bahwa bangsa Batak dahulu telah mengenal delapan mata angin. Simbol Desa Naualu sering sekali dapat dijumpai pada Gorga di Rumah Adat Batak maupun artefak lainnya. Berikut delapan arah mata angin menurut Batak:

  • Purba disebelah Timur sebagai simbol dimulainya kegiatan kehidupan dibumi dimana Matahari mulai menampakkan sinar keemasan, maka terciptalah unsur ‘Emas’ mewakili arah mata angin ini.
  • Anggoni disebelah Tenggara, dimana matahari sudah naik condong ke arah yang menyinari bumi dengan warna yang lebih merah dari emas maka terciptalah unsur ‘Suasa’.
  • Dangsina diarah Selatan menggambarkan matahari sudah memancarkan sinar kehidupan berwarna terang benderang maka terciptalah unsur ‘Perak’.
  • Nariti disebelah Barat Daya menggambarkan suasana Matahari berada pada posisi hampir tegak lurus di atas kepala sehingga cahaya yang dipancarkan begitu terik yang akan menguji ketahanan bumi sehingga tanah menjadi ‘Batu’.
  • Pastima disebelah Barat menggambarkan posisi matahai berada tepat di atas kepala sehingga seluruh energi matahari secara penuh mengenai permukaan bumi yang mengakibatkan batu menjadi hitam, maka terciptalah ‘Timah’.
  • Manabia disebelah Barat Daya dipengaruhi oleh pergerakan matahari yang mulai condong ke arah terbenam sehingga sinar matahari perlahan akan mengurangi intensitasnya dan warna mulai menuju kemerahan redup, maka unsur bumi tercipta menjadi ‘Tembaga’.
  • Utara yang berada di arah Utara dipengaruhi oleh pergerakan sinar matahari yang semakin condong tenggelam, maka unsur bumi tercipta menjadi ‘Besi’.
  • Dan terakhir adalah Desa Irisanna di arah Timur laut dimana posisi matahari tinggal selangkah lagi untuk istirahat menghidupi bumi, maka unsur bumi tercipta menjadi ‘Kayu’.

Lagu "Aek Sibulbulon"


Sebuah lagu mengenai Si Singamangaraja XII yang diciptakan oleh Marco Sitompul. Lagu ini menceritakan kisah kematian Si Singamangaraja XII yang diceritakan turun temurun. Berikut lirik lagu tersebut beserta terjemahannya.

di aek sibulbulon i. (Di Aek Sibulbulon)
huta sionom huduon i. (Desa Si Onom Hudon)
disi do parlao ni oppu i. (Di situlah Oppu (Kakek = panggilan hormat untuk orang yang lebih tua, dalam hal ini Si Singamangaraja XII) itu pergi)
sisingamangaraja i. (Si Singamangaraja XII)

dihaol do boru na i. (Di peluk lah anak perempuannya
boru lopian nauli. (Putri Lopian yang cantik)
disii tarmudar oppu i. (Ketika itulah Oppu ternodai Darah)
subang naso halaosan i. (Pantangan yang tidak boleh dilanggar)

raja na sian bakkara. (Raja dari Bakkara)
raja namarsahala i. (Raja yang Kudus)
uju mangalo musu i. (Saat melawan musuh)
mulak tu nampunasa i. (Pulang ke sang Pemilik)

poda dohot tona na i. (Ajaran dan pesannya)
ikkon ingot di roha i. (Harus diingat dalam benak)
hita na tinadikkon na. (Kita yang ditinggalkannya)
taihuthon na nidok na i. (Kita ikuti yang dikatakannya)

pabolas sude hita disi. (Memperbolehkan kita semua disitu)
diparlao ni oppu ujui. (Kepergian Oppu kita dahulu)
taingot ma raja ta i. (Kita ingat lah Raja kita)
na humonghop di bangso na i. (Yang membela bangsanya)

Artefak surat Si Singamangaraja XII terhadap pemerintah Kerajaan Belanda tertanggal 3 November 1903

Satu-satunya artefak dari Si Singamangaraja XII yang masih tersimpan di masa terjadinya perang Tapanuli adalah surat Si SIngamangaraja XII yang dikirimkan kepada pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1903. Surat itu berisi hibauanSi Singamangaraja XII untuk menghentikan perang Tapanuli yang sudah berkepanjangan dan meminta kerajaan Belanda menghentikan segala kepentingannya terhadap tanah Toba, menarik pasukkannya dan pergi meninggalkan Tanah Toba agar kembali tercipta perdamaian di Sumatera Utara. Surat ini menjadi artefak yang sangat kuat untuk memberi narasi bahwa pesan perdamaian melalui korespondensi sebagai salah satu media yang digunakan Si Singamangaraja XII untuk menghentikan perang Tapanuli.

Isi dari surat Si Singamangaraja XII tersebut dapat terlihat dari scan digital surat Si Singamangaraja XII dan terjemahan surat tersebut yang Lifepatch dapatkan dari koleksi artefak digital dari Museum Aan de Stroom melalui bantuan Willy Durinx (Co- Curator 'Collectie Christoffel' di Museum aan de Stroom (MAS) Antwerp, Belgium)

Scan digital surat Si SIngamangaraja XII dalam aksara Toba - Courtesy of Museum Aan de Stroom
Scan digital terjemahan surat Si SIngamangaraja XII dalam bahasa Toba - Courtesy of Museum Aan de Stroom
Translation of the letter of Si Singamangarajah XII from November 3rd 1904 (from the Dutch version K.I.T. nr 687/73)
This is a letter from Lord Sovereign Si Singamangaraja, who rules over the black-eyes, to Sir Supreme General, leader of the war of the Dutch Company. The reason that this letter is sent to Sir Supreme General is this: I have heard that you are waging war in Sibagindar, and that you have taken my subjects in custody; it is said that they would be Si Rompis and Guru Mangabat.
However, I have received peaceful words from the Great Lord of Medan and the High Resident of Tapanuli, and from the Controller of Barus, that the Dutch Company will not wage war against me and against those over which I rule.
I have replied with my letter to the Great Resident of Medan and also the Great High Resident of Tapanuli and the Controller of Barus, that we are now at peace, and that I will not wage war before I get the result of the meeting between the envoys of the ruler of Barus and Rajah Hatorusan and the ruler of Tungka. And that the Dutch Company will refrain from not respecting this. And now I say to Sir Supreme General: get back, do not keep waging war against me and those whom I rule over, because according to my letter to the Great Resident of Medan and the Great Resident of Tapanuli and the Controller of Barus, it is not allowed, and undesirable, that the Dutch Company annoys me and my subjects.
So it is like this: if the Sir Supreme General does not pull back his troops, then the Company contravenes the words of peace and the agreement made between the Great High Resident of Medan and the Great Resident of Tapanuli and Sir Controller of Barus.
And lastly: if there are complaints from your Company against my subjects in Boang, then send your letter to me in Pakpak language, so that I can set up an enquiry in order that my subjects are free from trouble.
Therefore, go away from here! If you don’t want to go away, you will contravene the letter of peace that was given to the High Resident of Tapanuli and the High Resident of Medan, and to Sir Controller of Barus.


So it shall be.
3rd day of November 1904


Artefak-artefak Kronologi Pengejaran Si Singamangaraja XII oleh Hans Christoffel

Animasi pengejaran Si SIngamangaraja XII oleh Hans Christoffel - Terispirasi dari peta pengejaran yang dipamerkan di Museum Aan de Stroom

Puncak dari Perang Tapanuli yang telah berlangsung selama 29 tahun semenjak tahun 1878 berpuncak pada langkah pemerintah Belanda melakukan operasi militer di tahun 1907. Dalam operasi militer ini, unit kecil kesatuan Maréchaussée bernama “Tiger Brigade” (Colonnie Matjan) dibawah pimpinan Kapitein Hans Christoffel dikirim khusus untuk mengejar Si Sisingamangaraja XII dan mengakhiri perang Tapanuli.

Telegram laporan perkembangan operasi militer

Dalam proses pengejaran tersebut, terdapat 2 (dua) artefak atau arsip berupa telegram yang merupakan koleksi arsip Bronbeek Museum sebagai sumber informasi dan penanda proses pengejaran Kapten Hans Christoffel dan Colonnie Matjan terhadap Si Singamangaraja XII. Sedangkan proses pengejaran Si Singamangaraja XII oleh pasukan Hans Christoffel dapat terlihat dari peta pengejaran dalam publikasi "De Laatste Batakkoning" Bronbeek Museum dan animasi pengejaran di pameran permanen di Museum Aan de Stroom. Berdasar kedua sumber tersebut, Lifepatch membuat kembali animasi proses pengejaran Si Singamangaraja XII oleh pasukan Hans Christoffel dan mendapat persetujuan dari Willy Durinx sebagai Co- Curator 'Collectie Christoffel' dan perwakilan dari Museum aan de Stroom (MAS) Antwerp, Belgium.

  • Scan digital telegram dengan kode arsip 2.10.36.51 invnr. 85 koleksi Bronbeek Museum
Telegram dengan penanda Letter K13 dikirim oleh Resident Tapianuli kepada Minister van Kolonien di Den Haag - Belanda pada tanggal 21 Mei 1907. Telegram tersebut berisi tentang keberhasilan Kapten Hans Christoffel dalam menangkap Boru Sagala, istri Si Singamangaraja XII serta dua orang anaknya, sementara itu Si Singamangaraja XII dan para pengikutnya berhasil melarikan diri ke hutan Simsim.


- Terjemahan isi Scan Digital Telegram Letter K13 Tertanggal 21 Mei 1907 berdasar publikasi Bronbeek Museum
From the Resident of Tapianuli to the Minister of the Colonies
Sent from Siboga 21st May 1907
Received Den Haag 21st May 1907
(The) hiding-place (from the) Priest-King (Singamangaradja) was assaulted. (His) mother(,) wives (and) two daughters (were) captured. One Gajo man died.


- Terjemahan isi Scan Digital potongan surat kabar berisi berita penangkapan keluarga Si Singamangaraja XII berdasar publikasi Bronbeek Museum
Our Correspondent N. R. Ct. from Batavia:
Captain Christoffel assaulted the hiding-place of Si Singamangarajah. However, treachery was involved. The mother, a wife and two daughters of the priest were captured and many precious things fell into our hands. The chase will be continued forcefully.
Scan Digital Telegram Letter Q16 21 Juni 1907 - Courtesy of Bronbeek Museum dan Museum Aan de Stroom)


  • Scan digital telegram dengan kode arsip 2.10.36.51 invnr. 86 koleksi Bronbeek Museum
Telegram dengan penanda Letter Q16 dikirim oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Heutsz kepada Minister van Kolonien di Den Haag - Belanda pada tanggal 21 Juni 1907. Telegram tersebut berisi tentang pertempuran antara Kapten Hans Christoffel dan Colonnie Matjan melawan Si SIngamangaraja XII dan kelompok pendukungnya yang menolak tawaran untuk menyerah. Dalam pertempuran yang terjadi pada tanggal 17 Juni 1907, Si Singamangaraja XII gugur bersama dengan putrinya yang bernama Boru Lopian dan kedua orang putranya yang bernama Sutan Nagari dan Patuan Anggi. Selain itu, juga terdapat 4 (empat) orang pengawal yang juga gugur.


- Terjemahan isi Scan Digital Telegram Letter Q16 tertanggal 21 Juni 1907 berdasar publikasi Bronbeek Museum
From the Governor-General if the Dutch Indies to the Minister of the Colonies.
Nr. 777
Presented at Tjipanas, the 21st June 1907
Received Den Haag on 21st June 1907 at 7:16 a.m.
(Captain) Christoffel again assaulted, on the 17th, the hiding-place of Si Singamangarajah. He was killed together with two of his sons and four of his followers.
Signed: Van Heutsz


Berita keberhasilan operasi militer dan gugurnya Si Singamangaraja XII dalam surat kabar

Keberhasilan Hans Christoffel menyelesaikan operasi militernya di Tano Toba dengan ditandai gugurnya Patuan Bosar Ompu Pulo Batu atau Si Singamangaraja XII menjadi berita besar. Hal yang tidak hanya menjadi penanda selesainya sebuah operasi militer tetapi juga menjadi penanda berakhirnya Perang Tapanuli yang telah berjalan selama 29 tahun semenjak tahun 1878 hingga 1907. Sehingga tanpa memerlukan waktu panjang, kisah tentang Hans Christoffel menjadi salah satu sumber berita hangat dalam berbagai surat kabar dan menganggapnya sebagai pahlawan di negara Belanda.


Pembaptisan keluarga Si Singamangaraja XII di Pea Raja
  • Terjemahan bebas berita berjudul "Kapitein Christoffel" di halaman 2 surat kabar "Het Nieuws Van Den Dag" tertanggal 21 Juni 1907
Captain Christoffel
Only a few and simple words will be given to crowning the officer, the unpredictable, the inspiring captain who only in a few weeks could fulfil an enormously hard task with an excellent result.
We do not want to make any comparisons, we do not want to quarrel with anyone: we only envious with Captain Christoffel: Seeing a man who honored by his position; a man who does more than his duty, the nation good servant, an officer who could make the Nederlandsch Indische Leger may be proud.
The long-sought-after Singamangaradja is ended; His followers have fallen with him or caught in our hands ... to Christoffel, whose policies, faithfulness and courage, who have achieved such an important result in the Sumatran regions. The Dutch people, the Indian residents thank him ......


  • Terjemahan bebas berita berjudul "Schitterend Succes van Kapitein Christoffel" di halaman 3 surat kabar "Het Nieuws Van Den Dag" tertanggal 21 Juni 1907
Glorious Success of Captain Christoffel
Captain Christoffel's end:
On the 17th, once again I assaulted the shelter (of the long-suffering Priestervorst) at Peradja in the hot forest. Si Singamangaradja and his eldest son: Soetan Negari was killed. In addition, toean Anggi, the four followers, also the infamous Mat Sawang, who was attacked Lieutenant Watrin. Caught: five children of Si Singamangaradja, one of them was injured by accident. Also a follower, who was also injured. The booty consists of a gun mod. 1895, a back loader, blank weapons and jewellery.

Pameran Karya Berdasar Riset di Medan dan Belgia

Tano Toba Saga

Palais des Beaux-Arts (BOZAR) Brussels-Belgia

Tano Toba Saga adalah judul utama pameran yang dilakukan di Palais des Beaux-Arts (BOZAR) Brussels-Belgia. Dalam pameran tersebut, Lifepatch mencoba menghadirkan kembali fragmen-fragmen sejarah di Tano Toba (Tanah Toba) antara 1878 - 1907. Terutama berbagai sejarah yang terkait dengan Si Singamangaraja XII, Hans Christoffel, dan Ludwig Ingwer Nommensen. Dalam proses penyusunan desain pameran Tano Toba Saga, terdapat konsep desain yang dipilih berdasar berbagai temuan sebagai hasil riset yang dilakukan berdasar literatur dan kunjungan ke tempat-tempat yang terkait di Tanah Toba.

Konsep Dasar Desain Layout Pameran Tano Toba Saga

Konsep desain dari layout dan alur dalam Pameran Tano Toba Saga di ruang T4 Dalam Palais des Beaux-Arts (BOZAR) Brussels-Belgia


Referensi dan Pranala Luar